| Keterawatan | : | / |
| Dimensi Benda | : |
Panjang - Lebar - Tinggi - Tebal - Diameter - Berat - |
| Tokoh | : | Romo J.B. Prennthaler, S.J. |
| Peristiwa Sejarah | : | Setelah wilayah Kalibawang ditetapkan sebagai stasi dari Paroki Mendut, jumlah umat Katolik di Kalibawang mencapai 981 orang pada tahun 1927. Pada tahun tersebut, Romo J.B. Prennthaler S.J. mengadakan perayaan ekaristi perdana di Desa Jurang Banjarasri, yang diikuti oleh masyarakat setempat antara lain Sokromo, Ronontani, Wongsoredjo, Djojodurjo, dan Cokroredjo. Peristiwa tersebut dianggap sebagai cikal bakal lahirnya Paroki Boro (Tim Ayo Gumregah Amrih Dadia Berkah, 2007: 80). Dalam perkembangannya, Boro mendapatkan perhatian besar dari Romo J.B. Prennthaler, S.J. Dalam rangka peringatan 25 tahun pembaptisan Sendangsono, dibangunlah Gua Sendangsono yang dipersembahkan kepada Bunda Maria Lourdes dan diberkati pada tanggal 8 Desember 1929. Bersamaan dengan itu, Romo J.B. Prennthaler, S.J. mengusahakan lonceng-lonceng di setiap desa untuk digunakan saat Doa Angelus sebagai devosi kepada Bunda Maria (Tim Ayo Gumregah Amrih Dadia Berkah, 2007: 80). Dua belas lonceng berbahan perunggu yang dikirim ke Jawa, dibuat di pengecoran Petit & Fritsen di Aarle-Rixtel, Belanda. Lonceng tersebut digunakan sebagai bagian dalam misi Kalibawang yang meluas ke Bukit Menoreh. Untuk menghormati Maria, setiap lonceng memiliki logo kecil Bunda Perawan dengan Anak Ilahi. Orang-orang Belanda tertarik dan bersimpati dengan misi Jawa, terlihat dari anggota Meisjes- en Vrouwen- Congregatie, O.L. Vrouw Onbevlekt Ontvangen (Jemaat Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda), berlokasi di Theresiakerk di Den Haag. Lembaga tersebut dua kali melakukan donasi, masing-masing berjumlah seratus gulden. Melaui donasi tersebur lonceng-lonceng dapat dikirim ke Jawa (St. Claverbond 1928: 281-282). |
| Konteks | : |
| Nilai Sejarah | : | Menggambarkan dinamika sejarah perkembangan agama Katolik di Kulon Progo yang tidak terpisahkan dari bangunan menara Gereja Katolik Santa Perawan Maria Lourdes Promasan. |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Keberadaannya menjadi bukti persebaran pengaruh Katolik di Kalibawang. Selain itu juga memiliki arti khusus berkaitan dengan teknologi pembuatan benda dari bahan logam perunggu dan pengetahuan terkait akustik (suara). |
| Nilai Agama | : | Lonceng 1 mempunyai nilai penting sebagai benda cagar budaya karena menggambarkan dinamika sejarah perkembangan agama Katolik di Kulon Progo yang tidak terpisahkan dari bangunan menara Gereja Katolik Santa Perawan Maria Lourdes Promasan. Selain itu, lonceng tersebut dapat menggambarkan teknologi pembuatan benda dari bahan logam perunggu dan pengetahuan terkait akustik (suara). Keberadaaanya menguatkan sikap religius, toleransi, kebhinekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. |
| Nilai Budaya | : | Menguatkan sikap religius, toleransi, kebhinekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dapat menjadi objek umat agama lain untuk mengapresiasi keberadaan lonceng. Menjadi objek pembelajaran bagi masyarakat umum. |
| Catatan Khusus | : | Koordinat UTM : UTM 415576.318E 9152534.044N,49M Lat/Long: -7.666151907981332, 110.2345311641693 Lonceng masih berfungsi dalam kondisi utuh, tetapi kurang terawat. |