Loading

Lonceng 1 Gereja Katolik Santa Perawan Maria Lourdes Promasan

Status : Benda Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Lonceng terdapat di dalam menara Gereja Katolik Santa Perawan Maria Lourdes Promasan. Di dalam menara tersebut terdapat dua lonceng bersebelahan utara dan selatan. Lonceng yang berada di sisi utara dalam naskah ini disebut dengan Lonceng 1. 
Lonceng 1 Gereja Katolik Santa Perawan Maria Lourdes Promasan merupakan lonceng yang dibunyikan untuk mengingatkan umat Katolik berdoa. Lonceng tersebut dibunyikan tiga kali sehari, yaitu pukul enam pagi, pukul dua belas siang, pukul enam sore, dan pada kesempatan-kesempatan lain, yaitu misa mingguan dan misa hari besar. Lonceng tersebut masih insitu dan masih difungsikan hingga saat ini. 
Lonceng 1 Gereja Katolik Santa Perawan Maria Lourdes Promasan Lonceng terbuat dari bahan perunggu (sumber: Angelus-Klokjes Voor De Java-Missie, 1928: 280), pada bagian sisi utara badan lonceng terdapat tulisan dengan huruf timbul “DEWI MARIAH, SEMBAH BAKTINIPOEN AANAH DJAWI OEGI!”, yang artinya, “Dewi Mariah, anak-anak Jawa juga bersembah bakti”. Di bawah tulisan tersebut terdapat tulisan dengan huruf latin bergaya kuno “PETIT & FRITSEN N.V. AARLE RIXTEL (N.B.)”, yaitu nama pabrik pengecoran lonceng tertua dan terbesar di negeri Belanda. Di bawahnya lagi tertulis angka menunjukkan tahun 1928 yang dibuat dengan tera. Pada sisi selatan badan lonceng terdapat gambar timbul Bunda Maria.
Di dalam menara gereja, lonceng diletakkan pada dudukan kayu dengan ketinggian 142 cm dari dasar lantai tempat lonceng berada. Lonceng masih lengkap dengan roda pemutar untuk membunyikan lonceng.  

Lonceng 1 memiliki ukuran sebagai berikut: 
Tinggi : 39 cm 
Diameter bagian bawah : 46,5 cm 
Diameter bagian atas : 26 cm 
Tebal : 4,3 cm 
Panjang bandul : 43 cm 
Diameter bulatan di sisi bawah bandul : 9 cm 
Tebal bulatan bandul : 8 cm 
Diameter roda : 57 cm 
Tebal sisi lintasan tali : 5 cm 
Lebar ruji : 3 cm 

Lonceng tersebut berada di ruang menara berukuran (dalam) 250 cm x 250 cm, menggantung pada dudukan balok kayu yang diletakkan berjajar membentang dari dinding selatan ke dinding utara. Masing balok kayu tersebut berukuran panjang 267 cm, dengan dimensi penampang 8 cm x 13 cm. Jarak antara dua balok kayu selebar 60 cm, disangga dua balok vertikal berukuran 8 cm x 7,5 cm, setinggi 242 cm.

Status : Benda Cagar Budaya
Periodesasi : Kolonial (Belanda/Cina)
Tahun : 1928
Alamat : Dusun Promasan, Banjaroya, Kalibawang, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.6661519079813° S, 110.23453116417° E

SK Walikota/Bupati : Keputusan Bupati Kulon Progo 461/C/2022


Lokasi Lonceng 1 Gereja Katolik Santa Perawan Maria Lourdes Promasan di Peta

Keterawatan : /
Dimensi Benda : Panjang -
Lebar -
Tinggi -
Tebal -
Diameter -
Berat -
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Tokoh : Romo J.B. Prennthaler, S.J.
Peristiwa Sejarah : Setelah wilayah Kalibawang ditetapkan sebagai stasi dari Paroki Mendut, jumlah umat Katolik di Kalibawang mencapai 981 orang pada tahun 1927. Pada tahun tersebut, Romo J.B. Prennthaler S.J. mengadakan perayaan ekaristi perdana di Desa Jurang Banjarasri, yang diikuti oleh masyarakat setempat antara lain Sokromo, Ronontani, Wongsoredjo, Djojodurjo, dan Cokroredjo. Peristiwa tersebut dianggap sebagai cikal bakal lahirnya Paroki Boro (Tim Ayo Gumregah Amrih Dadia Berkah, 2007: 80). Dalam perkembangannya, Boro mendapatkan perhatian besar dari Romo J.B. Prennthaler, S.J. Dalam rangka peringatan 25 tahun pembaptisan Sendangsono, dibangunlah Gua Sendangsono yang dipersembahkan kepada Bunda Maria Lourdes dan diberkati pada tanggal 8 Desember 1929. Bersamaan dengan itu, Romo J.B. Prennthaler, S.J. mengusahakan lonceng-lonceng di setiap desa untuk digunakan saat Doa Angelus sebagai devosi kepada Bunda Maria (Tim Ayo Gumregah Amrih Dadia Berkah, 2007: 80). Dua belas lonceng berbahan perunggu yang dikirim ke Jawa, dibuat di pengecoran Petit & Fritsen di Aarle-Rixtel, Belanda. Lonceng tersebut digunakan sebagai bagian dalam misi Kalibawang yang meluas ke Bukit Menoreh. Untuk menghormati Maria, setiap lonceng memiliki logo kecil Bunda Perawan dengan Anak Ilahi. Orang-orang Belanda tertarik dan bersimpati dengan misi Jawa, terlihat dari  anggota Meisjes- en Vrouwen- Congregatie, O.L. Vrouw Onbevlekt Ontvangen (Jemaat Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda),  berlokasi di Theresiakerk di Den Haag. Lembaga tersebut dua kali melakukan donasi, masing-masing berjumlah seratus gulden. Melaui donasi tersebur lonceng-lonceng dapat dikirim ke Jawa (St. Claverbond 1928: 281-282).
Konteks :
Nilai Sejarah : Menggambarkan dinamika sejarah perkembangan agama Katolik di Kulon Progo yang tidak terpisahkan dari bangunan menara Gereja Katolik Santa Perawan Maria Lourdes Promasan.
Nilai Ilmu Pengetahuan : Keberadaannya menjadi bukti persebaran pengaruh Katolik di Kalibawang. Selain itu juga memiliki arti khusus berkaitan dengan teknologi pembuatan benda dari bahan logam perunggu dan pengetahuan terkait akustik (suara).
Nilai Agama : Lonceng 1 mempunyai nilai penting sebagai benda cagar budaya karena menggambarkan dinamika sejarah perkembangan agama Katolik di Kulon Progo yang tidak terpisahkan dari bangunan menara Gereja Katolik Santa Perawan Maria Lourdes Promasan. Selain itu, lonceng tersebut dapat menggambarkan teknologi pembuatan benda dari bahan logam perunggu dan pengetahuan terkait akustik (suara). Keberadaaanya menguatkan sikap religius, toleransi, kebhinekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 
Nilai Budaya : Menguatkan sikap religius, toleransi, kebhinekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dapat menjadi objek umat agama lain untuk mengapresiasi keberadaan lonceng. Menjadi objek pembelajaran bagi masyarakat umum. 
Pemilik
Pengelolaan
Catatan Khusus : Koordinat UTM : UTM 415576.318E 9152534.044N,49M Lat/Long:  -7.666151907981332, 110.2345311641693 Lonceng masih berfungsi dalam kondisi utuh, tetapi kurang terawat.