Arca Durga Mahisasuramardini berada di kompleks kantor Kapanewon Kalibawang. Berdasarkan Laporan Inventarisasi Kecamatan Kalibawang tahun 1990 oleh SPSP DIY, arca tersebut memiliki nomor inventarisasi E.52. Arca diletakkan berdampingan dengan yoni dan lingga. Ketiga objek tersebut diletakkan di halaman terbuka kantor Kapanewon Kalibawang dengan diberi pelindung berupa pagar besi. Arca berbahan andesit, dengan ukuran tinggi 49 cm, panjang 30 cm, dan lebar/ketebalan bagian bawah arca 26 cm.
| Keterawatan | : | / |
| Dimensi Benda | : |
Panjang 30 cm Lebar 26 cm Tinggi 49 cm Tebal - Diameter - Berat - |
| Konteks | : | Tidak diketahui sejarah dan konteks Arca Durga Mahisasuramardini berada di Kompleks Kantor Kapanewon Kalibawang. Durga dalam mitologi Hindu merupakan sakti atau istri Dewa Siwa. Nama lain Durga antara lain Uma, Parwati, dan Giri Putri. Penyebutan Durga Mahisasuramardini berkaitan dengan perannya dalam mengalahkan musuh para dewa, yaitu Mahisasuramardini. Nama terebut berarti Durga mengalahkan raksasa kerbau “Mahisasuramardini”. Keberadaan arca Durga Mahisasuramardini di Kompleks Kalibawang ini menjadi bukti sejarah perkembangan agama Hindu yang berkembang di Jawa Tengah, khususnya di Kulon Progo. |
| Nilai Sejarah | : | Merupakan bukti adanya kemunculan dan perkembangan agama Hindu di Jawa khususnya Jawa Tengah Bagian Selatan yang berkembang pada periode Jawa, khususnya Jawa Tengah bagian selatan yang berkembang pada periode abad VIII-X Masehi dengan ciri pemujaan kepada Dewa Trimurti dan dalam perkembangannya mempengaruhi budaya masyarakat Jawa pada periode tersebut dan berlanjut hingga periode berikutnya |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Merupakan bukti perkembangan teknologi yang berkaitan dengan seni yakni seni pahat/kriya batu yang memerlukan keterampilan dan pemahaman yang baik dalam mengerjakannya |
| Nilai Agama | : | Arca Durga Mahisasuramardini merupakan sakti atau istri Dewa Siwa. Penyebutan Durga Mahisasuramardini berkaitan dengan perannya dalam mengalahkan musuh para dewa dalam kepercayaan Hindu, yaitu Mahisasuramardini. Nama terebut berarti Durga mengalahkan raksasa kerbau “Mahisasuramardini” |
| Nilai Budaya | : | Merupakan bukti keberadaan dan perkembangan agama Hindu di Jawa khususnya Jawa Tengah bagian selatan dari periode abad VIII-X Masehi, di mana pada periode tersebut juga berkembang agama Buddha yang berasal dari India dan masuk ke Nusantara. Hal ini menunjukkan ada sikap toleransi masyarakat pada waktu itu terhadap keberadaan dua agama yang berbeda yang dapat hidup berdampingan. Sikap toleransi ini terus terbina hingga periode selanjutnya dan hingga saat ini |