Loading

Mimbar Masjid Purwosalam

Status : Benda Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Mimbar berukuran 155 cm x 106 cm, dengan tinggi keseluruhan 305 cm. Mimbar dilengkapi dengan tempat duduk yang menjadi satu kesatuan rangkaian mimbar. Di sisi dalam bagian atas mimbar terdapat inskripsi dengan aksara Arab sebagai berikut: 

?????? ??? ???? ?????? ????? ?????  

??????? ?????? ??? ??? ????? ????  ?? ?????  

?????? ??? ??????? ?? ?????? ?? ??? ??? ????  

????? ?????? ???? ????? ?????? ?????? ??? ???? ?????  

???? ?? ??? ??? ???? ??? 

Terjemahan: 

Tidak akan selesai pekerjaan ini tanpa campur tangan dari Allah. Dan bagi hamba hanya waktu atas izin kehendak dan kodrat Allah. Dan bagi hamba itu baik mengerjakan maupun tidak, tidak ada pengaruhnya. Dan pekerjaan ini dikembalikan kepada Allah atas usaha syekh yang hina, rendah, sempit, bodoh, fakir di hadapan Allah bernama Hadi ibn Muhammad Ali. 

Status : Benda Cagar Budaya
Alamat : Dusun II, RT 22, RW 11, Padukuhan Panginan, Sindutan, Temon, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.8733536° S, 110.0411748° E

SK Walikota/Bupati : SK Bupati Kulon Progo 461/C/2022


Lokasi Mimbar Masjid Purwosalam di Peta

Keterawatan : /
Dimensi Benda : Panjang -
Lebar -
Tinggi -
Tebal -
Diameter -
Berat -
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Peristiwa Sejarah : Tahun 1870-an merupakan masa transisi dari pemerintahan Paku Alam IV kepada Paku Alam V. Saat itu Kadipaten Pakualaman sedang mengalami krisis finansial. Setelah Paku Alam V diangkat menjadi penguasa baru Kadipaten Pakualaman pada tahun 1878, beliau segera melakukan langkah-langkah strategis untuk menanggulangi krisis finansial yang terjadi Kadipaten Pakualaman. Salah satu upaya yang dilakukan Paku Alam V adalah pembukaan lahan pertanian dengan melakukan pengeringan rawa di Adikarto. Karena pekerjaan tersebut tidak mudah dan tidak ringan, dalam melakukan pengeringan rawa, Paku Alam V memerintahkan penasihatnya, yaitu Demang Klentheng yang bernama asli Mangun Pawiro untuk meminta seluruh penduduk yang tinggal di wilayah Adikarto ikut bekerja mengeringkan rawa. Demang Klentheng menyanggupi dengan syarat meminta dibuatkan masjid di wilayah yang akan dilakukan kerja bakti. Masjid-masjid tersebut yaitu Masjid Kaligondang, Masjid Wojo Lor, Masjid Glagah, Masjid Plumbon, Masjid Bendungan, Masjid Trayu, Masjid Kedundang, dan Masjid Purwosalam. Terkait dengan inskripsi yang terdapat di mimbar masjid Purwosalam, inskripsi tersebut bercerita tentang catatan bijak dari Hadi ibn Muhammad Ali yang merendah di hadapan Allah. Catatan sebagai pengingat bahwa tanpa campur tangan Allah, semua pekerjaan yang dilakukan tidak akan selesai. Segala sesuatunya terjadi atas izin Allah.  
Nilai Sejarah : Keberadaannya menjadi bukti persebaran sarana ibadah yang dibangun oleh Pakualaman, khususnya Paku Alam V di Kulon Progo. 
Nilai Ilmu Pengetahuan : Keberadaannya bisa digunakan sebagai objek penelitian dan sumber ilmu pengetahuan tentang epigrafi, sejarah, agama, teknologi, seni pada masa Islam, khususnya Pakualaman. 
Nilai Budaya : Mimbar Masjid Purwosalam mempunyai nilai penting sebagai bukti keberadaan tinggalan Paku Alam V di Kulon Progo yang masih utuh hingga saat ini. Menguatkan sikap jati diri dan identitas budaya masyarakat serta proses perjalanan budaya bangsa Indonesia. 
Pemilik
Pengelolaan
Catatan Khusus : Mimbar dalam kondisi terawat, dilapisi cat dengan warna hitam merah sehingga mengubah warna asli.