Loading

Lubang Eks Galian Tambang Mangan Kalilingseng

Status : Struktur Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Lubang Eks Galian Tambang Mangan Kalilingseng merupakan lubang tambang mangan buatan manusia yang dahulunya tempat penambangan mangan. Lubang galian tambang berada di bukit batuan kapur. Bagian Mulut terowongan berukurran tinggi ± 2 meter dan ± lebar 1,5 meter. Bagian tengah terowongan berukuran tinggi ± 2 meter dan lebar ± 2 meter. Ujung bagian dalam terowongang berukuran lebar ± 1,2 meter, dengan tinggi 1,2 meter. Panjang terowongan berukuran ±170 meter. Di bagian unjung terowongan terdapat sumur dengan diameter ± 90 cm dengan kedalaman hingga permukaan air ± 10 meter. 

Status : Struktur Cagar Budaya
Periodesasi : Kolonial (Belanda/Cina)
Alamat : Dusun Ngruno, Karangsari, Pengasih, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.8400182571437° S, 110.1336770822° E

SK Walikota/Bupati : Keputusan Bupati Kulon Progo 461/C/2022


Lokasi Lubang Eks Galian Tambang Mangan Kalilingseng di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Peristiwa Sejarah : Keberadaan Lubang Eks Galian Tambang Mangan Kalilingseng  ini tidak bisa dipisahkan dengan kegiatan penambangan mangan di Kembang dan Kliripan. Merujuk pada surat kabar De locomotief: Samarangsch handels en advertentie Blad, bertanggal 25 Juni 1896, disebutkan berita mengenai eksploitasi tambang mangan di Kliripan dan Krian. Penambangan diresmikan pada bulan Juni tahun 1894 oleh pengusaha Belanda bernama H. W. van Dhfsen. Usahanya mendapat ijin dari Kasultanan Yogyakarta dengan akta tanggal 30 Mei 1893 yang disetujui oleh pemerintah Balanda dengan Gouvemements-besluit 12 September 1893 No.26. Pertambangan ini terkenal dengan konsesi Penggung-Kliripan, yang menyebut area seluas ± 3.600 ha sebagai lokasi penambangan. Setelah H.W. van Dhfsen meninggal dunia pada tahun 1918, eksploitasi tambang mangan ini dilanjutkan oleh NVAIME (N.V.Algemens Industrieele Mijnbouw en Exploitatie Maatschappi) pada tahun itu juga, dengan direksinya terdiri dari Krainers Cs dan Banka Tiwiniring. Mulai saat itu Kliripan dieksploitasi secara besar-besaran di Desa Krengseng hingga tahun 1928. Eksploitasi kemudian dilanjutkan ke Penggung, Kembang, dan Sumpel, karena terdapat mangan dengan mutu yang lebih tinggi. Informasi penambangan juga dimuat dalam Koran Bataviaasch Nieuwsblad bertanggal 11 Juli 1928, yang menyebutkan bahwa saat itu seluruh penambangan mangan di Kembang, Kliripan, dan Krian telah mendapat mendapat pasokan listrik secara menyeluruh, sehingga proses produksi sampai pengiriman dikerjakan dengan alat yang lebih modern. Izin pemasangan listrik tersebut didapat dari Departement van Gouvernements-Bedrijven. Momentum pemasangan listrik bertepatan dengan perayaan 10 tahun Algemeene Industrieele Mijnbouw en Exploitatie Maatschappij, suatu perusahaan pertambangan yang berpusat di Bandung, Jawa Barat. 
Konteks :
Riwayat Pelestarian : Survei dan pendataan dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2018. Dalam kegiatan tersebut diamankan sisa-sisa alat pertambangan 
Nilai Sejarah : Presiden Soekarno menetapkan Kawasan Pertambangan Kliripan yang di dalamnya termasuk tambang yang berada di Kembang sebagai kawasan strategis pertambangan nasional pada awal masa pemerintahan Republik Indonesia dan merupakan kelanjutan pertambangan dari masa Kolonial Belanda untuk meningkatkan pendapatan/devisa negara.Merupakan bukti sejarah pertambangan mineral secara umun dan khususnya mangan, serta menjadi kawasan strategis pertambangan nasional sebagai salah satu sumber perekonomian negara yang penting pada masa awal kemerdekaan Indonesia
Nilai Ilmu Pengetahuan : Merupakan bukti kegiatan penambangan yang menghasilkan bahan baku mangan, serta sistem pengangkutan dari lokasi penambangan diangkut menggunakan lori menuju Stasiun Pakualaman (stasiun kereta api kecil) di Dusun Krian. .
Nilai Pendidikan : Masih digunakan sebagai objek pembelajaran Kebudayaan, Arkeologi, Sejarah, Ekonomi, dan Geologi.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Bapak Kusnun
Pengelolaan
Nama Pengelola : Bapak Kusnun
Catatan Khusus : Luas ± 340 m²