Loading

Deskripsi Singkat

Pasar merupakan pusat kegiatan ekonomi masyarakat. Ada beberapa pasar yang dibangun pada masa Kolonial di Kabupaten Bantul yang hingga kini masih berdiri dan bahkan masih berfungsi. Salah satu pasar tersebut adalah Pasar Jodog yang terletak di Padukuhan Daleman, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul.
Los Lama Pasar Jodog digunakan untuk berjualan setiap hari, tetapi lebih ramai pada hari pasaran Pon. Salah satu ciri khas di Pasar Jodog adalah keberadaan pande baja yang membuat perkakas seperti cangkul, pisau, parang, dan sabit di tempat. Pande baja juga menyediakan jasa menajamkan perkakas. 
Di Pasar Jodog terdapat 29 unit los. Di antara los tersebut terdapat enam unit los lama dengan konstruksi baja, yang berada di bagian utara kompleks Pasar Jodog. Los pasar lama tersebut berupa bangunan panjang, terbuka/tanpa dinding, dengan atap berbentuk pelana atau kampung. Denah Los Lama Pasar Jodog berbentuk persegi panjang dengan arah bangunan membujur barat–timur. Ukuran denah Los 
Lama Pasar Jodog yaitu:
- 1 los sisi barat laut: 20,50 m x 3 m 
- 2 los sisi barat daya: 20,22 m x 3 m 
- 2 los sisi timur: 20,30 m x 3 m
- 1 los sisi tenggara: 10 m x 3 m 
Los lama yang berada di sisi tenggara, bagian konstruksi bajanya hanya tinggal separuh. Separuh yang lain diganti dengan tiang beton dan pasangan bata berplester, serta ditutupi dengan asbes. Di antara los lama sisi timur terdapat los baru dengan model sama tetapi berukuran lebih kecil. Konstruksi los baru tersebut dibuat dari cor semen serta ditutup dengan atap pelana atau kampung. Tinggi lantai los pasar dari tanah sekitarnya adalah 33 cm. Tinggi los dari permukaan lantai hingga bubungan atap 3,53 m.
Struktur Los Lama Pasar Jodog menggunakan beberapa jenis baja profil, yaitu baja profil I (INP), baja profil C (CNP) atau canal, baja profil siku atau L. Struktur baja tersebut terutama digunakan untuk membentuk kudakuda yang menyatu dengan tiang, serta gording. Komponenkomponen struktur baja tersebut dihubungkan dengan pelat dan baut baja. Bagian tutup keong menggunakan bahan seng gelombang. 
Struktur pada Los Lama Pasar Jodog menggunakan tiang tunggal. Masing-masing los terdapat enam buah tiang yang terdiri dari dua batang baja profil C yang disambung dengan pelat baja dan baut Ø 22 mm. Baja profil C berukuran 8 cm x 4,5 cm x 4,5 cm dengan ketebalan 0,5 cm. Struktur tiang dan kuda-kuda merupakan satu kesatuan. Masing masing tiang terdapat umpak yang terbuat dari semen cor. Umpak tersebut berbentuk trapesium berukuran 61 cm x 61 cm, tinggi 6 cm dari permukaan lantai. Di bawah umpak tersebut terdapat pondasi dari pasangan batu kali (boulder stone). Lantai los pasar berupa plesteran semen. 
Struktur yang membentuk kerangka atap Los Lama Pasar Jodog terdiri atas kuda-kuda, bubungan (nok), gording, reng, usuk, sekur, dan penutup atap. Kuda-kuda memiliki fungsi menopang tekanan pada rangka atap dan langsung menyalurkannya ke struktur tiang. Posisi kuda-kuda ada di bagian atas setiap tiang. Kuda-kuda dibentuk dari baja profil C. Bubungan atau balok nok adalah struktur yang mengikat kuda-kuda satu dengan yang lainnya. Posisi nok memanjang sesuai dengan panjang rangka atap. Bubungan menggunakan baja profil I. Tiang, kuda-kuda, dan bubungan disambung menggunakan pelat baja dan baut Ø 22 mm. Di ujung barat dan timur atap terdapat sekur atau struktur penyokong, yaitu dua baja siku yang dipasang miring di antara tiang dan balok nok. Sekur berfungsi menopang tutup keong, yaitu seng gelombang berbentuk segitiga. Tutup keong berfungsi menahan tampias air hujan. Saat ini sebagian tutup keong Los Lama Pasar Jodog sudah tidak ada. Tutup keong pada los pasar sisi barat bagian utara terdapat plat baja bertulisan: LINDETEVES STOKVIS YZERCONTRUCTIES. Tutup keong los pasar sisi timur bagian tengah juga terdapat plat baja bertulisan N.V. ROTT. MACHINEFABR. BRAAT ROTTERDAM.
Gording adalah struktur tumpuan dari usuk, reng, dan genteng. Gording menggunakan baja profil C. Usuk adalah struktur rangka atap yang menjadi tumpuan reng dan genteng. Usuk menggunakan baja siku. Posisi usuk pada bagian atas menumpu pada balok nok, sedangkan bagian pangkal menumpu pada gording. Reng adalah struktur rangka atap yang berada tepat di bawah genteng. Reng berupa baja profil L dan berfungsi sebagai tempat bersandarnya genteng. Penutup atap untuk Los Lama Pasar Jodog menggunakan genteng kripik dari bahan tanah liat. Genteng dipasang pada atap yang miring seperti atap pelana atau atap kampung dengan menerapkan sistem saling mengikat dan mengunci (inter-locking).
Bangunan Los Lama Pasar Jodog tidak memiliki ragam hias, baik yang berupa ragam hias arsitektur maupun ragam hias dekoratif. Estetika bangunan ini terbentuk oleh struktur berulang dengan kontras antara rangka baja yang ringan dan umpak solid/pejal yang menopangnya. Pengaruh arsitektur Eropa ditunjukkan dari penggunaan konstruksi baja yang diproduksi oleh perusahaan milik Belanda. Pengaruh arsitektur Jawa dapat dilihat dari tipologi los pasar terbuka dengan atap kampung.

Status : Bangunan Cagar Budaya
Alamat : Padukuhan Daleman, Gilangharjo, Pandak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.9102441574102° S, 110.31138579957° E

SK Walikota/Bupati : Keputusan Bupati Bantul No. 268 Tahun 2023


Lokasi Los Lama Pasar Jodog di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Komponen Pelengkap :
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Peristiwa Sejarah : Pasar merupakan salah satu ruang pusat kegiatan ekonomi. Pada masa Kolonial, keberadaan pasar menjadi salah satu aspek yang diperhatikan oleh pemerintah Hindia Belanda. Salah satunya disebutkan dalam Kolonial Tijdschrift, 15 Juli 1873 bahwa Pemerintah Kolonial menganggap penting perdagangan domestik kecil, sehingga di semua titik perdagangan perlu dibangun pasar.Perkembangan pasar di Jawa mengalami kemajuan yang signifikan pada tahun 1914, ketika Gubernur Jendral Hindia Belanda yang bernama Alexander Willem Frederik Idenburg mengeluarkan Besluit Decentralisatie Marktwezen tertanggal 30 April 1914 No. 379 tentang penyerahan lembaga pasar kepada dewan lokal. Peraturan tersebut dimuat dalam Staatsblad 1914 No. 380, diberlakukan untuk seluruh Jawa dan Madura. Adanya penyerahan lembaga pasar kepada dewan lokal, membuat perhatian terkait pembangunan maupun pengembangan pasar yang berada di daerah dapat lebih intensif.Di Kabupaten Bantul, jejak keberadaan los-los pasar yang dibangun masa Kolonial sebagian masih dapat ditemui di beberapa lokasi. Hingga kini, pasar-pasar tersebut sebagian masih digunakan dan ada juga yang sudah mulai ditinggalkan. Menurut Gegevens Over Djokjakarta 1926, menjelaskan bahwa pada mulanya pasar-pasar di Yogyakarta dibangun dengan bahan kayu dan rangka atap terbuat dari bambu. Penggunaan bahan tersebut memang cenderung membutuhkan banyak perawatan, terutama bambu. Oleh karena itu secara berkala bahan bambu diganti dengan kayu jati.Pada tahun 1923, Pasar Gede (saat ini Pasar Beringharjo) di Kota Yogyakarta yang semula dibangun dengan struktur kayu mulai diganti dengan beton. Pekerjaan tersebut diserahkan kepada Hollandsche Beton Maatschappij dan berlangsung hingga paruh pertama tahun 1926.Selain Pasar Gede, pemerintah Hindia Belanda di Yogyakarta juga mulai mempertimbangkan untuk mengganti bahan bangunan di pasar yang masih terbuat dari kayu untuk mengurangi biaya pemeliharaan. Penggantian tersebut juga didorong oleh rencana perluasan pasar di beberapa wilayah pada tahun 1925.Pertimbangan untuk mengganti bahan kayu pada bangunan pasar akhirnya bermuara pada pilihan beton atau baja. Meskipun harga keduanya tidak berbeda jauh, namun pilihan pada akhirnya jatuh kepada bahan baja. Secara keseluruhan memang bahan beton memiliki keunggulan monolit dan biaya perawatan yang lebih murah. Meskipun demikian bahan baja dipilih karena dapat dengan mudah dipindahkan. Faktor mobilitas bahan baja dirasa lebih penting untuk situasi pasar-pasar di Yogyakarta saat itu dibandingkan dengan bahan beton.Dari plat/enamel yang ditemukan pada bagian tutup keong los Pasar Jodog, terdapat tulisan nama perusahaan “N.V. ROTT. MACHINEFABR. BRAAT ROTTERDAM” sebagai perusahaan penyedia bahan baja dan plat bertuliskan LINDETEVES STOKVIS YZERCONTRUCTIES sebagai perusahaan jasa konstruksi untuk pembangunan Pasar Jodog. N.V. Machinefabriek Braat merupakan salah satu pabrik mesin dan pengecoran logam paling modern dan paling besar di Hindia Belanda yang berdiri pada tahun 1901. Pabrik tersebut didirikan di Boomstraat, Kawasan industri Jalan Gatotan, Surabaya. N.V. Machinefabriek Braat pada mulanya berfokus pada produksi fasilitas pabrik gula di Jawa Timur. Namun dalam perkembangannya juga memproduksi logam untuk kebutuhan lain seperti kerangka utama untuk bangunan stasiun kereta api dan pasar. Selain di Surabaya, pabrik ini juga mempunyai cabang di kota-kota lain seperti Rotterdam, Surabaya, Tegal, Medan, Sukabumi, dan Yogyakarta.N.V. Lindeteves Stokvis merupakan salah satu unit usaha pabrikan kontruksi baja terkemuka di masa pendudukan VOC. Perusahaan ini memiliki logo kepala kerbau. Awalnya N.V. Lindeteves Stokvis berkantor pusat di Semarang. Perusahaan ini memiliki sejumlah kantor cabang di kota-kota besar di Jawa dan sejumlah anak perusahaan, seperti NV Rotterdam Internatio, NV Borsumij Maatschappij, NV Geo Wehry, dan NV Jacobson Van den Berg. Salah satu kantor N.V. Lindeteves Stokvis yang cukup terkenal berada di Surabaya. Gedungnya dirancang khusus oleh Biro Arsitek Hulswit, Fermont & Ed Cuypers dari Batavia dan mulai dibangun sekitar tahun 1910.Pasar dalam tradisi Jawa tak sekadar berwujud kegiatan jual-beli, tapi juga dilingkupi perlambang tentang hari-hari baik dalam menjalankan niaga. Tradisi mancapat misalnya. Tradisi ini membentuk satu desa induk yang dikelilingi empat desa lain yang terletak di empat penjuru mata angin. Dari sinilah lahir nama-nama hari pasaran Jawa yang sampai hari ini kita kenal: Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi.Pahing di selatan dengan unsur api dan memancarkan sinar merah. Pon bertempat di barat dengan unsur air dan memancarkan sinar kuning. Wage di utara dengan unsur tanah dan memancarkan sinar hitam. Kliwon terletak di tengah dan memancarkan sinar mancawarna. Legi bertempat di timur dengan unsur udara dan memancarkan aura atau sinar putih.
Nilai Sejarah : Berkaitan erat dengan tahap perkembangan pasar pada masa Kolonial yang menerapkan  teknologi baja profil untuk bangunan los pasar;
Nilai Ilmu Pengetahuan : Mempunyai potensi sebagai obyek penelitian untuk kepentingan perkembangan ilmu pengetahuan. Keberadaan Los Lama Pasar Jodog menjadi bukti suatu tingkat pemahaman dan pengetahuan tentang konstruksi dan arsitektur bangunan dengan material baja. Konstruksi baja kuat dan dapat bertahan lama. Hal ini terbukti ketika Yogyakarta dilanda gempa tektonik pada tanggal 27 Mei 2006, bangunan Los Lama Pasar Jodog tetap kokoh berdiri.
Nilai Budaya : Keberadaan Los Lama Pasar Jodog sebagai pasar tradisional mengacu pada aktivitas pasar yang disesuaikan dengan hari pasaran.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Desa
Pengelolaan
Nama Pengelola : Dinas Perdagangan Kabupaten Bantul.
Catatan Khusus : Koordinat SK : X: 424097 Y: 9125562