Loading

Sisa Pagar Keliling Pesanggrahan Madyaketawang (Benteng Peleman)

Status : Struktur Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Sisa Pagar Keliling Pesanggrahan Madyaketawang (Benteng Peleman) yang tersisa terletak di dua lokasi yaitu Jalan Pelemsari (barat) dan Jalan Depokan II (timur). Secara umum pagar sisi barat, struktur sisa pagar ini berbentuk dinding dengan profil di bagian atas pada kedua sisi. Pada bagian sudut sisa pagar barat daya terdapat “candhen”. Struktur pagar pada sudut barat daya yang menyudut membujur timur-barat berukuran 14,70 m dan utara-selatan berukuran.19,20 m. dengan ketebalan 0,70 m. Struktur pagar berbahan pasangan batu bata dengan spesi dan berplester. 

Bagian pagar sisi timur yang tersisa membujur utara-selatan dengan ukuran 45 m dan tebal 0,70 m. Struktur pagar berbahan pasangan bata dengan spesi dan berplester. Beberapa bagian plester terkelupas dan menyingkap bentuk susunan bata.

Status : Struktur Cagar Budaya
Alamat : Timur : Jalan Depokan II , Rejowinangun, Kotagede, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.8136300626066° S, 110.3971281436° E

SK Walikota/Bupati : Keputusan Wali Kota Yogyakarta 384 Tahun 2023


Lokasi Sisa Pagar Keliling Pesanggrahan Madyaketawang (Benteng Peleman) di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Peristiwa Sejarah : Lokasi Kampung Peleman konon pada masa awal Mataram Islam di diami Ibu Suri dari Panembahan Senopati. Lokasi ini digunakan sebagai tempat palereman yaitu tempat untuk meleremkan/menenangkan hati Raden Ronggo saat di marahi oleh ayahandanya yaitu Panembahan Senopati. Kata palereman kemudian menjadi cikal bakal toponimi Peleman.  Pesanggrahan Peleman disebut juga dengan nama Madyaketawang. Keberadaan Pesanggrahan Madyaketawang disebut dalam Serat Rerengggan Kraton, dan pada peta lama Belanda tahun 1872 toponim Pesanggrahan Madyaketawang diidentifikasikan sebagai Redjoketawang. Pesanggrahan Madyaketawang digunakan sebagai pesanggrahan yang di tempati putra Hamengku Buwono calon HB II untuk memperdalam ilmu pemerintahan dan ilmu kanuragan. Setidaknya bangunan ini dibangun sezaman dengan Pesanggrahan Warungboto (Pesanggrahan Rejowinangun) yang terletak 500 ratus meter di sebelah barat laut. Hal tersebut diperkuat oleh adanya persamaan material, bentuk dan gaya bangunannya. Pesanggrahan Rejowinangun tersebut dibangun atas perintah Sultan Hamengkubuwono II ketika masih menjadi putra mahkota (Adipati Anom, 1785). Lokasi Pesanggrahan Rejowinangun berada di sisi Timur dan Barat Sungai Gadjah Wong, sementara sisa pagar ini terletak di sebelah timur Sungai Gadjah Wong. 
Nilai Sejarah : Terutama terkait dengan toponim Peleman yang ada sejak masa Panembahan Senopati. Selain itu juga pesanggrahan Madyaketawang ini dibangun pada era Hamengkubuwono II. Keberadaan pesanggrahan ini tercantum dalam beberapa naskah babad dan peta Belanda. 
Nilai Ilmu Pengetahuan : Sisa Pagar Keliling Pesanggrahan Madyaketawang (Benteng Peleman) merupakan objek yang berguna bagi menjawab pertanyaan pada ilmu arsitektur dan arkeologi. Pagar Keliling Pesanggrahan Madyaketawang memiliki beberapa karakter yang khas antara lain terlihat pada bentuk dan penggunaan material bahan bangunan. 
Nilai Budaya : Sisa Pagar Keliling Pesanggrahan Madyaketawang merupakan bukti nyata hasil karya manusia, menggambarkan nilai budaya yang tinggi terkait teknologi dan seni rancang bangun bangunan yang diprakarsai oleh Kasultanan Yogyakarta.  
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Kasultanan Yogyakarta
Pengelolaan
Catatan Khusus : Koordinat SK : Barat: S7°48'52.8000", E110°23'43.7842"            49M 433353 E 9136143 N Timur: S7°48'49.0493"E110°23'49.6791"             49M 433533 E 9136258 N Batas Batas :Sisi Barat:  Utara : Rumah Warga Timur : Bengkel Riadi Selatan : Jalan Pelem Sari Barat : SDN Rejowinangun I SisiTimur:  Utara : Jalan Nyi Ageng Nis Timur : Jalan Depokan II Selatan : Jalan Kampung