Loading

Lokasi Makam Syekh Belabelu Dan Syekh Damiaking

Status : Situs Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

1. Makam Syekh Belabelu dan Syekh Damiaking
Cungkup Makam Syekh Belabelu dan Syekh Damiaking berada di atas Bukit Banteng, letaknya di sebelah utara Jalan Parangtritis. Lokasi makam dapat dicapai dengan berjalan melalui anak-anak tangga. Setelah tangga teratas, terdapat sebuah gapura menuju cungkup dan teras Makam Syekh Belabelu dan Syekh Damiaking. Gapura terdiri atas dua buah pilar dari pasangan bata berplester. 
Di dalam cungkup terdapat dua buah makam berdampingan yang diyakini sebagai makam Syekh Belabelu dan makam Syekh Damiaking. Makam Syekh Belabelu berada di sebelah barat sedangkan makam Syekh Damiaking terletak di sebelah timur.
Atap cungkup berbentuk tajug dengan denah segi empat. Pintu cungkup terbuat dari kayu berdaun dua. Jendela di dinding timur dan barat masing-masing terdiri atas dua panil kaca. Jendela pada sisi utara berjumlah dua buah yang masing-masing terdiri atas satu panil kaca.
Di atas pintu cungkup terdapat tebeng bermotif tumbuhan berwarna hijau yang diberi inskripsi. Inskripsi tersebut ditulis dalam aksara dan bahasa Jawa baru dan berbunyi:
“19 Dulkangidah 1873 Wawu”
Inskripsi tersebut menunjukkan tahun dibuatnya cungkup Makam Syekh Belabelu dan Syekh Damiaking. Tanggal pada inskripsi apabila dikonversikan ke dalam tahun Masehi menjadi tanggal 27 November 1942 hari pasaran Jumat Pahing.
Di kompleks makam Syekh Belabelu dan Syekh Damiaking juga ditemukan arca Agastya, arca Nandi, dan balok batu yang diduga merupakan bagian dari bangunan keagamaan bercorak Hindu. Arca Agastya saat ini ditempatkan di sebelah barat Masjid Makam Syekh Belabelu dan Syekh Damiaking, sedangkan arca Nandi dan balok batu ditempatkan di teras makam sebelah selatan. Arca-arca tersebut dimungkinkan berasal dari sebelah timur makam, sebab di tempat itu ditemukan runtuhan candi dari bata

Status : Situs Cagar Budaya
Alamat :
Koordinat:
8.0163625926558° S, 110.32426632487° E

SK Walikota/Bupati : SK Bupati Bantul No 580 Tahun 2024


Lokasi Lokasi Makam Syekh Belabelu Dan Syekh Damiaking di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Peristiwa Sejarah : Asal-usul Petilasan Parangkusumo dapat dirunut dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha. Kedua sumber tertulis ini menyebutkan bahwa Panembahan Senopati yang bercita-cita menjadi raja di Jawa. Pada suatu malam meninggalkan kediamannya menuju ke Lipura (sekarang Bambanglipuro Bantul) dengan ditemani oleh lima orang abdinya. Di Lipura ini terdapat batu yang indah warnanya. Senopati kemudian tidur di atas batu tersebut. Ki Juru Martani menyusul kepergian Panembahan Senopati ke Lipura. Di Lipura Ki Juru Martani melihat Senopati tertidur pulas di atas batu (sela gilang). Ki Juru Martani kemudian berusaha membangunkan Senopati. Ketika tengah berusaha membangunkan Senopati tiba-tiba Ki Juru Martani melihat sebuah bintang sebesar kelapa dan bercahaya berkilauan jatuh di dekat kepalaSenopati. Dengan sangat terkejut Ki Juru Martani segera membangunkan Senopati dan bertanya perihal benda aneh yang jatuh di dekat kepala Senopati. Senopati yang dibangunkan pun terkejut dan bertanya kepada “bintang jatuh” itu tentang apa atau siapakah dia karena Senopati belum pernah melihat sebelumnya. Bintang jatuh menjawab bahwa dirinya adalah bintang dan memberitahukan kepada Senopati bahwa apa yang dilakukan oleh Senopati dalam tapa/semadinya memohon petunjuk kepada Hyang Maha Kuasa sudah diterima dan dikabulkan, bahwa Senopati akan menjadi raja di Tanah Jawa hingga anak cucunya kelak. Setelah memberitahukan hal itu bintang itu pun lenyap. Ki Juru Martani yang memperhatikan Senopati dapat mengetahui apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh Senopati. Oleh karena itu Ki Juru Martani mengajak Senopati dengan mengatakan,”Nak kalau kamu mengikuti petunjukku marilah kita bersama-sama memohon kepada Tuhan agar hambatan dapat kita atasi. Marilah kita membagi tugas: kamu pergi ke Laut Selatan, aku ke Gunung Merapi. Kita yakinkan/ buktikan kehendak Tuhan. Marilah sama-sama berangkat.”Setelah Ki Juru Martani memberikan wejangan kemudian mereka pun berangkat. Senopati kemudian berangkat ke arah timur menuju Sungai Opak dan Ki Juru Mertani ke Gunung Merapi. Senopati menghanyutkan diri di Sungai Opak dan ditolong oleh ikan olor yang diberi nama Tunggul Wulung. Ikan Tunggul Wulung mengantarkan Senopati hingga ke Laut Selatan. Di pinggir pantai Laut Selatan itu Senopati mengheningkan cipta memohon petunjuk kepada Tuhan akan maksud dan tujuan semua laku prihatinnya. Akibat semadinya Laut Selatan bergolak. Hal ini membuat penguasa Laut Selatan cemas dan kemudian keluar dari laut serta menemui Senopati. Penguasa Laut Selatan (Ratu Kidul) kemudian mengatakan bahwa apa yang dikehendaki Senopati telah dikabulkan oleh Tuhan. Oleh karena itu Senopati dimohon untuk menghentikan semadinya karena semadinya telah membuat makhluk laut banyak yang mati dan air laut bergolak. Setelah mendengar itu semua Senopati pun menghentikan semadinya. Ratu Kidul juga mengatakan bahwa Senopati dan keturunannya akan menjadi raja atau penguasa Tanah Jawa dan segala isinya, termasuk seluruh makhluk halus akan tunduk dalam kekuasaanya. Tempat pertemuan Senopati dan Ratu Kidul itulah yang kemudian dikenal sebagai Petilasan Parangkusumo. Petilasan tersebut berwujud dua gundukan batu di pinggir pantai yang kemudian dinamakan Sela Ageng dan Sela Sengker. Kedua gundukan batu itulah yang kemudian diyakini sebagai salah satu penanda penting bagi kesepakatan atau kerja sama antara Senopati (raja-raja Mataram) dan Ratu Kidul dalam hal kelangsungan hidup Keraton Mataram. Oleh karena itu pula Upacara Labuhan laut oleh Keraton Mataram (Yogyakarta) selalu dipusatkan/ diawali dari Makam Syekh Belabelu dan Syekh Damiaking.Pada tahun 1991, Dinas Pariwisata Provinsi DIY membangun pagar mengelilingi Makam Syekh Belabelu dan Syekh Damiaking.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Keraton Yogyakarta
Pengelolaan
Nama Pengelola : Keraton Yogyakarta