| Konteks |
: |
Ratu Boko merupakan suatu tinggalan budaya dari abad 8 M dan sangat erat kaitannya dengan perjalanan sejarah Kerajaan Mataram Kuno. Prasasti tertua yang berasal dari tempat ini adalah prasasti Abhayagiriwihara yang berangka tahun 714 Saka / 792 M. Dalam prasasti disebutkan bahwa tempat ini merupakan wihara yang bertempat di atas gunung yang damai, yang merupakan tempat menyepi Sang Jatiningrat (Rakai Panangkaran) setelah mengundurkan diri sebagai Raja Mataram. Berdasarkan data dalam Prasasti Mantyasih 907 M, Rakai Panangkaran adalah seorang Raja Mataram Kuno yang paling lama memerintah yaitu selama 38 tahun (746 – 784 M). Pada masa selanjutnya, kompleks Ratu Boko berubah fungsi dari wihara menjadi tempat kediaman seorang bangsawan, yaitu Rakai Walaing Pu Khumbayoni yang beragama Hindu. Latar belakang agama Hindu pada masyarakat di Situs Ratu Boko yang dikuasai oleh Rakai Walaing Pu Kumbhayoni dapat diketahui dari adanya tiga buah miniatur candi yang berdasarkan arsitekturnya mempunyai latar belakang agama Hindu. Bukti lain yang mengindikasikan agama Hindu sebagai agama masyarakat masa lalu di Situs Ratu Boko adalah adanya arca Durga, Ganesa, Balarama, dan Garuda (Soenarto dkk, 1993). Sewaktu menjadi tempat tinggal seorang penguasa/bangsawan yang beragama Hindu yang bergelar Rakai Walaing Pu Khumbayoni, dapat diketahui bahwa tempat ini dulu bernama Walaing karena Rakai Walaing artinya penguasa di Walaing. Nama Walaing masih disebutkan dalam Prasasti Mantyasih 907 M tentang adanya seorang penulis prasasti yang bernama Pu Tarka yang berasal dari Walaing. Hal ini berarti bahwa daerah Walaing yang diduga sebagai Bukit Boko sekarang masih merupakan kawasan pemukiman yang cukup penting sampai dengan awal abad kesepuluh (Kusen:1995). Situs Ratu Boko yang terletak di atas perbukitan kapur tentu saja mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah bahwa tempat ini sangat sunyi dan tenang serta mempunyai panorama alam yang indah karena dapat mencakup pandangan terhadap kawasan Prambanan dan sekitarnya. Faktor inilah kemungkinan yang dipilih oleh Rakai Panangkaran untuk mendirikan wihara sebagai tempat mengasingkan diri dari keduniawian setelah mengundurkan diri sebagai Raja Mataram. Sementara kekurangan dari tempat tersebut adalah sulitnya mendapatkan air tanah sehingga sumber air mengandalkan air tadah hujan. Pada masa selanjutnya, sewaktu tempat ini dipergunakan sebagai tempat tinggal penguasa yang bernama Rakai Walaing Pu Khumbayoni, maka kebutuhan pun semakin beragam dan kompleks. Saat dipergunakan sebagai hunian inilah diduga Situs Ratu Boko berkembang. Berdasarkan tinggalan-tinggalan yang masih tersisa maka dapat diketahui cara-cara masyarakat masa lampau dalam mengelola lingkungan alam yang ada sebagai strategi untuk bertahan hidup. |