Loading

Candi Batu Putih Situs Ratu Boko

Status : Struktur Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Struktur Candi Batu Putih terdapat pada halaman teras kedua Situs Ratu Boko. Bangunan tersebut  berbentuk batur berdenah bujur sangkar. Sejauh ini belum diketahui fungsi dari Candi Batu Putih pada zaman dahulu. Candi Batu Putih hanya tersisa bagian batur dan kaki. Sementara bagian tubuh dan atap candi sudah hilang. 

Batur candi memiliki panjang-lebar 11.30 m dan  tinggi 1.26 m. Sementara  kaki candi memiliki panjang-lebar 10.27 m dan tinggi 1.10 m. 

Status : Struktur Cagar Budaya
Periodesasi : Klasik
Bagian dari : Kompleks Ratu Boko: pendapa Ratu Boko dan Pagar Keliling Pendapa
Kawasan : Kawasan kraton Ratu Boko
Alamat : , Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.768855° S, 110.488429° E

SK Walikota/Bupati : SK BUP Sleman 54.10/Kep.KDH/A/2024


Lokasi Candi Batu Putih Situs Ratu Boko di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Bahan Utama : Batu
Jenis Struktur : Runtuhan
Materi Spesifik (Bahan presentase terbesar) : Batu putih
Bentuk : Memusat
Dimensi Struktur
Panjang : 11,30 m
Lebar : 11,30 m
Tinggi : 2,36 m
Jenis Bangunan : Runtuhan
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Konteks : Ratu Boko merupakan suatu tinggalan budaya dari abad 8 M dan sangat erat kaitannya dengan perjalanan sejarah Kerajaan Mataram Kuno. Prasasti tertua yang berasal dari tempat ini adalah prasasti Abhayagiriwihara yang berangka tahun 714 Saka / 792 M.  Dalam prasasti disebutkan bahwa tempat ini merupakan wihara yang bertempat di atas gunung yang damai, yang merupakan tempat menyepi Sang Jatiningrat (Rakai Panangkaran) setelah mengundurkan diri sebagai Raja Mataram. Berdasarkan data dalam Prasasti Mantyasih 907 M, Rakai Panangkaran adalah seorang Raja Mataram Kuno yang paling lama memerintah yaitu selama 38 tahun (746 – 784 M). Pada masa selanjutnya, kompleks Ratu Boko berubah fungsi dari wihara menjadi tempat kediaman seorang bangsawan, yaitu Rakai Walaing Pu Khumbayoni yang beragama Hindu. Latar belakang agama Hindu pada masyarakat di Situs Ratu Boko yang dikuasai oleh Rakai Walaing Pu Kumbhayoni dapat diketahui dari adanya tiga buah miniatur candi yang berdasarkan arsitekturnya mempunyai latar belakang agama Hindu. Bukti lain yang mengindikasikan agama Hindu sebagai agama masyarakat masa lalu di Situs Ratu Boko adalah adanya arca Durga, Ganesa, Balarama, dan Garuda (Soenarto dkk, 1993). Sewaktu menjadi tempat tinggal seorang penguasa/bangsawan yang beragama Hindu yang bergelar Rakai Walaing Pu Khumbayoni, dapat diketahui bahwa tempat ini dulu bernama Walaing karena Rakai Walaing artinya penguasa di Walaing. Nama Walaing masih disebutkan dalam Prasasti Mantyasih 907 M tentang adanya seorang penulis prasasti yang bernama Pu Tarka yang berasal dari Walaing.  Hal ini berarti bahwa daerah Walaing yang diduga sebagai Bukit Boko sekarang masih merupakan kawasan pemukiman yang cukup penting sampai dengan awal abad kesepuluh (Kusen:1995). Situs Ratu Boko yang terletak di atas perbukitan kapur tentu saja mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah bahwa tempat ini sangat sunyi dan tenang serta mempunyai panorama alam yang indah karena dapat mencakup pandangan terhadap kawasan Prambanan dan sekitarnya.  Faktor inilah kemungkinan yang dipilih oleh Rakai Panangkaran untuk mendirikan wihara sebagai tempat mengasingkan diri dari keduniawian setelah mengundurkan diri sebagai Raja Mataram. Sementara kekurangan dari tempat tersebut adalah sulitnya mendapatkan air tanah sehingga sumber air mengandalkan air tadah hujan. Pada masa selanjutnya, sewaktu tempat ini dipergunakan sebagai tempat tinggal penguasa yang bernama Rakai Walaing Pu Khumbayoni, maka kebutuhan pun semakin beragam dan kompleks. Saat dipergunakan sebagai hunian inilah diduga Situs Ratu Boko berkembang. Berdasarkan tinggalan-tinggalan yang masih tersisa maka dapat diketahui cara-cara masyarakat masa lampau dalam mengelola lingkungan alam yang ada sebagai strategi untuk bertahan hidup. 
Riwayat Pemugaran : Struktur Candi Batu Putih pernah dipugar pada zaman pendudukan Jepang (1942-1945) dan pada tahun 1998/1999. 
Nilai Sejarah : Struktur Candi Batu Putih Situs Ratu Boko berhubungan dengan sejarah perkembangan agama Hindu-Buddha dan tokoh bangsawan Kerajaan Mataram Kuno Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. 
Nilai Ilmu Pengetahuan : Struktur Candi Batu Putih Situs Ratu Boko memiliki arti khusus bagi ilmu pengetahuan karena dapat menjadi objek pembelajaran bagi berbagai bidang ilmu, salah satunya adalah teknologi cut and fill di Situs Ratu Boko. 
Nilai Pendidikan : Candi Batu Putih Situs Ratu Boko dapat digunakan sebagai pembelajaran ilmu sejarah dan arkeologi. 
Nilai Budaya : Struktur Candi Batu Putih Situs Ratu Boko merupakan salah satu karya unggul buatan bangsa Indonesia di masa lalu yang merupakan salah satu puncak pencapaian peradaban bangsa yang dibuat dengan sangat baik dan merupakan kesatuan dengan Kompleks Ratu Boko. 
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
Pengelolaan
Nama Pengelola : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
Catatan Khusus : Koordinat Tengah pada SK Bupati Sleman: UTM : 49 M X : 443593.22 m E, Y : 9141221.39 m SLuas: 127,69 m2