| | avighnam astu | | [??rd?lavikrî?ita] svasti ?rîr vijayo stu va? ?akapa/// [ter va]r?e dvidasradvipe dv?da?y?m madhumasa (j)?sitatithau ?îtetarajyoti?i • ?k?e bhadra
padottare (a)ti?ubhe yoge (ca) ca???rcci?(au)/// k?etre?u tridale?varasya racita? kuly?viddhir bh?j? | | tatk?lani ?avuhan vua
tan i sava? bha?ara i tiga ron sa?kha?? i? lua? i/// pana
| Keterawatan | : | / |
| Dimensi Benda | : |
Panjang - Lebar 78cm Tinggi 78cm Tebal 16cm Diameter - Berat - |
| Peristiwa Sejarah | : | Prasasti Tlu Ron ditemukan pada tanggal 19 Juli 2015 di tembok sisi selatan candi perwara utara kompleks Candi Kedulan (2 m dari sudut tenggara candi perwara utara). Candi Kedulan pertama kali ditemukan pada tanggal 24 September 1993 di kedalaman ± 3 meter oleh penambang pasir saat menggali tanah untuk tanah urug. Candi tersebut ditemukan berupa susunan batu candi dalam keadaan runtuh dan terbenam oleh lahar vulkanik dan sedimen dengan ketebalan 8 m yang tersusun atas 15 lapisan sedimen. Penemuan tersebut dilaporkan ke BP3 Yogyakarta yang kemudian ditindaklanjuti oleh BP3 Yogyakarta dengan melaksanakan ekskavasi penyelamatan, pengumpulan data dan anastilosis dari tahun 1993 hingga 2001. Pada tahun 2002 dilakukan Studi Kelayakan yang dilaksanakan oleh Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman. Di tahun yang sama ditemukan Prasasti Sumundul dan Prasasti Panaࣤnggaran. Kedua prasasti tersebut telah dibaca, diterjemahkan dan diinterpretasi oleh Drs. Tjahjono Prasodjo, M.A. dan Dr. Riboet Darmosutopo dari Fakultas Ilmu Budaya UGM. Prasati ditranskirpsi oleh Nurmalia Habibah dan Pamuji Amirullah pada Oktober 2015 dan Juli 2017, serta diterjemahkan oleh Yoses Tanzaq. Prasasti Tlu Ron memiliki pertanggalan berupa sengkalan tahun śaka dua-aswin-gajah yang diartikan sebagai tahun 822 Saka, bulan Madhu (Caitra), tanggal 12 bulan gelap jika dikonversi ke dalam penanggalan Masehi yaitu 30 Maret 900 M. Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Raja Rakai Watukura Dyah Balitung (898 – 910 M). Prasasti Tlu Ron seperti halnya Prasasti Sumundul dan Pananggaran menyebut nama bangunan suci, pembuatan bendungan (dam), penyebutan peristiwa (sambandha) pada Prasasti Tiga Ron dan penyebutan adanya bencana yang pernah melanda di masa itu, dan adanya kaitan antara ketiga prasasti tersebut. Pada Prasasti Tlu Ron disebutkan bahwa bangunan suci parahyangan terletak di Tiga Ron yang berarti “tiga daun”. Kemungkinan yang dimaksud dengan bangunan suci berupa parahyangan tersebut adalah Candi Kedulan saat ini. Kemungkinan tersebut diperkuat dengan lokasi temuan ketiga prasasti yang berada di dekat bangunan Candi Kedulan. Dengan demikian Candi Kedulan mempunyai nama kuna Parhyaṅan Haji i Tiga (Tlu) Ron atau Parahyaṅ i Tigaharyyan. Terdapat kemiripan arti antara kata “haryyan” yang berarti daun pisang dengan “ron” yang memiliki arti daun. Nama “tiga daun” mengingatkan pada pemujaan Siwa, yaitu bahwa pemujaan Dewa Siwa menggunakan daun wilwa atau daun maja (Aegle mamelas), terutama yang memiliki cabang daun berjumlah tiga seperti trisula. Secara umum isi dari Prasasti Tlu Ron adalah mengenai pembangunan bendungan. Dalam Prasasti Sumundul dan Pananggaran disebutkan pembangunan bendungan adalah untuk ladang (tgal) Parahyaṅ i Tigaharyyan, sehingga hasil ladang tersebut digunakan untuk membiayai operasional dari bangunan suci tersebut. Sementara dalam Prasasti Tlu Ron disebutkan mengenai pembuatan vluran (wluran) oleh tokoh Sang Lumah di Tangar. Vluran tersebut memiliki luas sebanyak lima tampah (kurang lebih sekitar lima hektar saat ini). Kata vluran sendiri belum diketahui artinya. Namun berdasarkan konteks kalimat yang ada, kemungkinan kata tersebut mengacu pada tanah ladang yang kering, kemudian dijadikan sawah dengan sistem irigasi, sehingga dapat ditanami. Kata wluran kemungkinan juga memiliki arti sistem irigasi bendungan, di mana petani membendung air sehingga terkumpul di danau buatan (tambak) kemudian air tersebut dialirkan ke sawah melalui parit-parit (kalen). Peristiwa yang melatarbelakangi penulisan prasasti (sambandha) dari Prasasti Tlu Ron tertulis pada baris ketiga sampai keenam prasasti. Pada baris tersebut juga diketahui gelar lain Raja Balitung adalah Śrî Mahārāja śrîbāhuvikra Mabajradeva yang berarti Maharaja yang memiliki semua keberanian bajradewa. Adanya bencana disebutkan pada isi prasasti baris ke 7 sampai ke 9 tentang Sang Lumah di Tangar sebagi orang yang telah membuat vluran (wluran) pertama kali, tetapi tidak selesai karena ada bencana dan pekerjaan dilanjutkan oleh Rakyan Wiku Padang Lpar Pu Manoha, tetapi tidak selesai. Belum diketahui secara pasti bencana apa yang terjadi saat itu. Antara Prasasti Sumundul, Prasasti Pananggaran dengan Prasasti Tlu Ron meski berdasarkan angka tahun terpaut 32 tahun, namun pada prasasti yang lebih muda (Prasati Tiga Ron) masih menyebutkan adanya tokoh yang bernama Rakyan Wiku Padang Lpar Pu Manoha, yang mempunyai ibu bernama Rakai Padělaggan anak dari tokoh yang bergelar Sang Dewata di Tangar. Tokoh yang bergelar Sang Dewata di Tangar dapat diidentifikasi sebagai seorang tokoh yang diduga sebagai orang yang memiliki status tinggi, kemungkinan adalah selir atau saudara raja sebelumnya, yaitu Rakai Pikatan Dyah Saladu. |
| Nilai Sejarah | : | Prasasti Tlu Ron memiliki informasi tentang adanya bendungan di daerah Sleman pada abad ke 9 M |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Prasasti Tlu Ron merupakan bukti tentang teknik irigasi pertanian dengan bendungan |
| Nilai Agama | : | Prasasti Tlu Ron merupakan bukti terkait dengan aktivitas keagamaan pada abad ke – 9 M di pulau Jawa |
| Nilai Budaya | : | Prasasti Tlu Ron sebagai bukti perkembangan kebudayaan Hindu di Indonesia.Prasasti Tlu Ron merupakan jenis prasasti yang isinya ditulis dalam bentuk cerita naskah kesastraan. Prasasti Tlu Ron juga menjadi bukti kehidupan masyarakat beragama Hindu di wilayah Kalasan, adanya struktur pemerintahan kerajaan dan masyarakat berbasis pertanian dengan teknologi pengairan bendungan. (Birokrasi kerajaan) |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta |
| Nama Pengelola | : | Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta |
| Catatan Khusus | : | Prasasti Tlu Ron disimpan di Balai Pestarian Cagar Budaya DIY dengan kondisi baik dan terawat. |