Loading

Kolam Teras III Kelompok Gapura Situs Ratu Boko

Status : Struktur Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Kolam Teras III Kelompok Gapura Ratu Boko terletak pada teras III dan berada di sebelah Timur Candi Pembakaran. Kolam tersebut ditemukan kembali pada tahun 2004. Kolam berbentuk persegi Panjang dengan ukuran Panjang 53 m, lebar 23 m, dan memiliki kedalaman sekitar 2 m. Kolam tersebut dibuat dengan cara memahat cadas alam/bedrock. Hal tersebut Nampak pada beberapa bagian tepi kolam di sisi Selatan, sudut Barat Daya, serta Barat Laut yang terdapat takikan bedrock. Di atas takikan tersebut kemungkinan dulunya diberi tatanan batu putih untuk meratakan dan merapikan bagian tepi kolam. Akan tetapi batu-batu penyusun bagian tepi kolam sudah tidak dapat ditemukan kembali. Batas Utara kolam tidak dapat diketahui karena penggalian tersebut tidak apat dilanjutkan ke Utara mengingat tanah Utara kolam sudah masuk tanah pribadi.

Status : Struktur Cagar Budaya
Periodesasi : Klasik
Bagian dari : Kompleks Ratu Boko: pendapa Ratu Boko dan Pagar Keliling Pendapa
Kawasan : Kawasan kraton Ratu Boko
Alamat : , Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.769046° S, 110.489191° E

SK Walikota/Bupati : SK BUP Sleman 81.5/Kep.KDH/A/2024


Lokasi Kolam Teras III Kelompok Gapura Situs Ratu Boko di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Bahan Utama : Batu
Jenis Struktur : Lain-lain
Bentuk : Memusat
Dimensi Struktur
Panjang : 53 m
Lebar : 23 m
Tinggi : 2 m (kedalaman)
Jenis Bangunan : Lain-lain
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Konteks : Ratu Boko merupakan suatu tinggalan budaya dari abad 8 M dan sangat erat kaitannya dengan perjalanan sejarah Kerajaan Mataram Kuno. Prasasti tertua yang berasal dari tempat ini adalah prasasti Abhayagiriwihara yang berangka tahun 714 Saka / 792 M.  Dalam prasasti disebutkan bahwa tempat ini merupakan wihara yang bertempat di atas gunung yang damai, yang merupakan tempat menyepi Sang Jatiningrat (Rakai Panangkaran) setelah mengundurkan diri sebagai Raja Mataram. Berdasarkan data dalam Prasasti Mantyasih 907 M, Rakai Panangkaran adalah seorang Raja Mataram Kuno yang paling lama memerintah yaitu selama 38 tahun (746 – 784 M).  Pada masa selanjutnya, kompleks Ratu Boko berubah fungsi dari wihara menjadi tempat kediaman seorang bangsawan, yaitu Rakai Walaing Pu Khumbayoni yang beragama Hindu. Latar belakang agama Hindu pada masyarakat di Situs Ratu Boko yang dikuasai oleh Rakai Walaing Pu Kumbhayoni dapat diketahui dari adanya tiga buah miniatur candi yang berdasarkan arsitekturnya mempunyai latar belakang agama Hindu. Bukti lain yang mengindikasikan agama Hindu sebagai agama masyarakat masa lalu di Situs Ratu Boko adalah adanya arca Durga, Ganesa, Balarama, dan Garuda (Soenarto dkk, 1993).    Sewaktu menjadi tempat tinggal seorang penguasa/bangsawan yang beragama Hindu yang bergelar Rakai Walaing Pu Khumbayoni, dapat diketahui bahwa tempat ini dulu bernama Walaing karena Rakai Walaing artinya penguasa di Walaing. Nama Walaing masih disebutkan dalam Prasasti Mantyasih 907 M tentang adanya seorang penulis prasasti yang bernama Pu Tarka yang berasal dari Walaing.  Hal ini berarti bahwa daerah Walaing yang diduga sebagai Bukit Boko sekarang masih merupakan kawasan pemukiman yang cukup penting sampai dengan awal abad kesepuluh (Kusen:1995).  Situs Ratu Boko yang terletak di atas perbukitan kapur tentu saja mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah bahwa tempat ini sangat sunyi dan tenang serta mempunyai panorama alam yang indah karena dapat mencakup pandangan terhadap kawasan Prambanan dan sekitarnya.  Faktor inilah kemungkinan yang dipilih oleh Rakai Panangkaran untuk mendirikan wihara sebagai tempat mengasingkan diri dari keduniawian setelah mengundurkan diri sebagai Raja Mataram.  Pada masa selanjutnya, sewaktu tempat ini dipergunakan sebagai tempat tinggal penguasa yang bernama Rakai Walaing Pu Khumbayoni, maka kebutuhan pun semakin beragam dan kompleks. Saat dipergunakan sebagai hunian inilah diduga Situs Ratu Boko berkembang. Berdasarkan tinggalan-tinggalan yang masih tersisa maka dapat diketahui cara-cara masyarakat masa lampau dalam mengelola lingkungan alam yang ada sebagai strategi untuk bertahan hidup.
Riwayat Penemuan : Ditemukan pada tahun 2004.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
Pengelolaan
Nama Pengelola : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
Catatan Khusus : Koordinat pada SK Bupati Sleman: UTM : 49 M X: 443677.27 m E, Y : 9141200.35 mS