Loading

Arca Nandi Nomor Inventaris C.55

Status : Benda Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Di dalam agama Hindu dikenal adanya dewa-dewa yang diwujudkan dalam bentuk arca. Agama Hindu mengenal Dewa Trimurti sebagai satu kesatuan tiga dewa tertinggi (major deities) di atas dewa-dewa lainnya. Dewa Trimurti terdiri atas Dewa Brahma sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai pemelihara, dan Dewa Siwa sebagai pembinasa atau perusak. Dari ketiga dewa itu Wisnu dan Siwa yang sering dipuja, mengingat dewa pencipta dengan sendirinya terdesak oleh kepentingan manusia yang lebih memperhatikan berlangsungnya apa yang sudah tercipta. Segala sesuatu yang akan binasa karena waktu, lebih mendapat perhatian. Di antara pemeluk agama Hindu ada yang memuja Wisnu (golongan Waisnawa) dan Siwa (golongan Saiwa). Siwa dipandang sebagai dewa tertinggi yang disebut Mahadewa atau Mahe?wara.

Dewa-dewa dalam mitologi Hindu di India dikenal masing-masing mempunyai kendaraan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Brahma sebagai pencipta mempunyai kendaraan berupa Angsa, Wisnu sebagai pemelihara berkendaraan Garuda, dan Siwa mempunyai kendaraan Nandi, atau sapi jantan. Nandi merupakan sapi jantan kepercayaan dari Siwa dan merupakan simbol dari dharma. Nandi juga dikenal sebagai pelindung dari semua binatang berkaki empat.

Di dalam candi-candi beragama Hindu arca Nandi biasanya ditempatkan di dalam candi perwara yang berada di depan candi utama. Contoh nyata tampak pada beberapa candi yang memuja Siwa seperti Candi Prambanan, Candi Sambisari, Candi Kedulan, dan Candi Ijo. Mengingat Siwa banyak dipuja baik diwujudkan dalam bentuk arca maupun lingga, maka arca Nandi banyak ditemukan di beberapa tempat.

Arca Nandi (Nomor Inventaris C.55) ditemukan di atas Bukit Banteng yang terletak di sebelah utara Jalan Parangtritis. Arca ditempatkan di teras sebelah timur kompleks Makam Syekh Belabelu dan Syekh Damiaking di atas sebuah landasan yang terbuat dari pasangan bata ukuran setengah batu dengan plesteran semen. Arca Nandi (Nomor Inventaris C.55) kepalanya telah patah dan hilang. Arca berada dalam posisi mendekam dengan keempat kaki terlipat. Arca Nandi digambarkan memiliki badan yang gempal dan berpunuk. Ekor Nandi dipahat melingkar ke arah kanan di depan kaki belakangnya. Arca Nandi dipahat di atas landasan berbentuk persegi panjang tanpa hiasan.

Status : Benda Cagar Budaya
Periodesasi : Klasik
Alamat : Padukuhan Mancingan, Parangtritis, Kretek, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

SK Walikota/Bupati : Keputusan Bupati Bantul


Lokasi Penemuan : di atas Bukit Banteng yang terletak di sebelah utara Jalan Parangtritis.
Bahan Utama : Batu Andesit
Keterawatan : Utuh dan Terawat,Tidak Utuh /
Dimensi Benda : Panjang 69 cm
Lebar 36 cm
Tinggi 35 cm
Tebal -
Diameter -
Berat -
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Peristiwa Sejarah : Arca Nandi (Nomor Inventaris C.55) di Padukuhan Mancingan, Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul merupakan Nandi yang digambarkan dalam bentuk zoomorfik. Arca Nandi (Nomor Inventaris C.55) pernah diinventaris serta tercatat dalam:a. Laporan Inventarisasi Kepurbakalaan di Kecamatan Kretek, Bantul Tahun 1989 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta,b. Laporan Her-inventarisasi Kepurbakalaan di Kecamatan Kretek, Bantul Tahun 1998 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta, danc. Laporan Her-inventarisasi Benda Cagar Budaya di Kecamatan Kretek Kabupaten Bantul Tahun 2015 oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta.Selain Arca Nandi (Nomor Inventaris C.55) di Bukit Banteng juga ditemukan sebuah Arca Agastya (Nomor Inventaris C.54), Blok Batu Andesit (Nomor Inventaris C.55a) dan Blok Batu Andesit (Nomor Inventaris C.55b) yang diduga merupakan bagian dari struktur maupun bangunan keagamaan bercorak Hindu.
Konteks : Kebudayaan Hindu berkembang di Jawa pada abad ke-7 Masehi. Melalui Prasasti Dakawu/Tukmas yang ditemukan di Grabag, Magelang dapat diketahui adanya masyarakat pemeluk agama Hindu yang memuja mata air suci yang mengalirkan air layaknya Sungai Gangga.Pada abad ke-8, agama Hindu menjadi salah satu agama kerajaan Mataram Kuno yang berdiri di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Raja pertama Mataram Kuno yang bernama Sanjaya merupakan penganut agama Hindu. Ia mendirikan lingga di atas Gunung Wukir sebagai bukti kejayaannya. Penerus Sanjaya yang beragama Hindu kemudian memerintahkan pendirian Candi Prambanan yang megah sebagai tempat sembahyang kerajaan.Di Bantul, perkembangan agama Hindu dapat diketahui melalui temuan berupa bangunan, struktur, arca, dan prasasti yang tersebar dari bagian utara hingga selatan Kabupaten Bantul. Di Mangir, Kasihan, dan sekitar Makam Syeh Belabelu di Kretek, telah ditemukan yoni dan arca Nandi yang menunjukkan bahwa persebaran kebudayaan Hindu tidak hanya ada di sekitar Prambanan.Arca diyakini sebagai media untuk berinteraksi dengan dewa. Oleh karena itu arca-arca dewa tidak dapat dibuat secara sembarangan. Terdapat ketentuan-ketentuan khusus yang harus dipenuhi pemahat agar arca dapat ditempatkan dalam tempat persembahyangan. Di India, arca Nandi mendapatkan penghormatan khusus karena ia adalah wahana siwa. Nandi memiliki kuil tersendiri yang ditempatkan berhadapan dengan kuil Siwa sehingga kedudukannya menjadi sama dengan dewa.Nandi selain digambarkan dalam bentuk zoomorfik atau hewan, terkadang juga digambarkan dalam bentuk teriomorfik yakni penggambaran setengah manusia dan setengah binatang, atau dalam bentuk antromorfik yakni penggambaran manusia. Contoh arca Nandi teriomorfik ialah Nandisawahanamurti yang ditemukan di Dieng (Jawa Tengah). Sedangkan arca Nandi antropomorfik ialah Nandiswara yang ditemukan di Candi Selogriyo, Magelang (Jawa Tengah).
Riwayat Penemuan : Arca Nandi (Nomor Inventaris C.55) ditemukan di atas Bukit Banteng yang terletak di sebelah utara Jalan Parangtritis.
Nilai Sejarah : Memperlihatkan bukti-bukti peradaban sejarah di Indonesia, pengenalan agama dan kebudayaan India, dan teknik pahat yang memperlihatkan kemajuan kehidupan masyarakat waktu itu, serta menunjukkan informasi bahwa di Padukuhan Mancingan, Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek sudah ada masyarakat yang menganut agama Hindu dalam tata kehidupan yang terstruktur. 
Nilai Ilmu Pengetahuan : Mempunyai potensi untuk diteliti dalam rangka menjawab masalah di bidang ilmu arkeologi, sejarah, dan antropologi.
Nilai Agama : Menunjukkan adanya benda yang masih terkait dengan aktivitas keagamaan atau religi agama Hindu pada abad ke-8 hingga abad ke-10.
Nilai Budaya : Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa yaitu sebagai hasil kebudayaan yang mencerminkan jati diri suatu bangsa, kedaerahan atau komunitas tertentu yaitu komunitas penganut agama Hindu pada abad ke-8 hingga ke-10 di Kapanewon Kretek.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
Pengelolaan
Nama Pengelola : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X