| Keterawatan | : | / |
| Dimensi Benda | : |
Panjang - Lebar - Tinggi - Tebal - Diameter - Berat - |
| Peristiwa Sejarah | : | Sepeninggal Jepang, Indonesia memperoleh banyak pesawat hasil rampasan perang. jumlahnya mencapai 70 buah pesawat berbagai jenis. Terdapat 37 buah yang berada di Pangkalan Udara Bugis (Sekarang Lanud Abdurrachman Saleh) di Malang dan Pangkalan Udara Maguwo (sekarang Lanud Adisutjipto) di Yogyakarta. Dari jumlah tersebut sebanyak 25 di antaranya ialah Pesawat Cureng. Hal ini karena di kedua kota tersebut terdapat sekolah penerbang yang diprakarsai oleh Agustinus Adisutjipto.Pesawat Cureng merupakan pesawat buatan Jepang, berbeda dengan pesawat Eropa yang biasa digunakan oleh TNI AU. Hal ini menimbulkan kesulitan baik untuk mengoperasikan maupun memperbaiki pesawat-pesawat Cureng yang rusak. Kesulitan yang dihadapi antara lain minimnya informasi mengenai Pesawat Cureng sebab buku manual pesawat yang ada hanya sedikit dan tertulis dalam huruf Kanji yang sulit dimengerti oleh orang Indonesia pada masa itu. Selain itu terdapat pula kesulitan untuk memperoleh suku cadang baru dan penyediaan alat. Untuk mengatasi hal ini, pimpinan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Jawatan Penerbangan saat itu Suryadi Suryadarma berinisiatif mendatangkan teknisi dari Pangkalan Udara Andir Bandung yakni Basir Surya dan Tjarmadi. Hal ini karena di Pangkalan Udara Maguwo belum memiliki teknisi pesawat. Setelah teknisi melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Pada tahap awal perbaikan, dari 25 pesawat Cureng yang ada semuanya dinyatakan rusak berat kecuali tiga buah pesawat yang kondisinya rusak ringan. Pada masa itu tengah terjadi pertempuran untuk merebut pangkalan antara BKR (Badan Keamanan Rakyat) dengan laskar yang ada di Yogyakarta. Pertempuran tersebut berhasil dimenangkan oleh BKR setelah memperoleh bantuan pasukan yang dipimpin oleh Suharto (mantan Presiden RI ke-2). Karena kedaruratan peristiwa tersebut, proses perbaikan pesawat Cureng yang dilakukan melalui proses kanibalisasi berhasil dirampungkan dalam waktu satu hari. Kemudian pada tanggal 26 Oktober 1945, satu Pesawat Cureng dinyatakan siap test flight.Penerbang TNI AU pertama yang berhasil membawa Pesawat Cureng ialah Agustinus Adisutjipto. Adisutjipto dipilih untuk melakukan test flight karena memiliki wing penerbang yaitu Groot Militaire Brevet yang diperolehnya melalui sekolah penerbangan pesawat Eropa. Test flight dilakukan pada tanggal 27 Oktober 1945 pukul 10.00 selama 30 menit oleh Agustinus Adisutjipto dan didampingi oleh Opsir Udara II Tarsono Rudjito. Penerbangan ini tercatat sebagai penerbangan pesawat beridentitas Merah Putih yang pertama di Indonesia oleh pemuda Indonesia. Pada badan pesawat diberi tanda lingkaran lingkaran berwarna merah putih sebagai simbol bendera RI yang sekaligus menyatakan bahwa pesawat sudah milik Republik Indonesia. Pasca kesuksesan untuk penerbangan pertama tersebut, perbaikan pesawat dilanjutkan. Pada bulan Januari 1946 TNI AU berhasil memperbaiki sebanyak 25 pesawat Cureng hingga siap terbang. Barisan pesawat tersebut kemudian menjadi kekuatan Pangkalan Udara Maguwo. Selain itu dengan adanya pesawat-pesawat tersebut dapat dimungkinkan pendidikan penerbang-penerbang baru di Sekolah Penerbangan yang dipimpin oleh Agustinus Adisutjipto. Tanggal 14 Januari 1946 Pesawat Cureng kembali mengudara dengan Iswahjudi sebagai penerbang serta Wiriadinata sebagai penumpang. Sayangnya penerbangan tersebut tidak berlangsung mulus dan berakhir dengan kecelakaan, namun keduanya berhasil selamat. Kecelakaan ini tidak lantas membuat para penerbang berkecil hati. Dua hari kemudian, yakni pada tanggal 16 Januari 1946, kembali dilakukan penerbangan dengan pesawat Cureng yang dipiloti oleh Suyono. Tugas yang diemban ialah pengintaian di Laut Selatan atas perintah Agustinus Adisutjipto. Pesawat Cureng take off dari Pangkalan Udara Maguwo dan terbang menuju Parangtritis, terus ke selatan di atas Samudera Hindia. Penerbangan inipun mengalami kendala, yakni awan hitam tebal yang membuat penerbang kehilangan orientasi (disorientasi). Meskipun demikian pesawat dapat kembali dengan selamat. Sejarah mencatat peristiwa ini sebagai operasi penerbangan pertama dalam rangka misi pertahanan di Indonesia merdeka. Selain berfungsi sebagai pesawat latih untuk sekolah penerbang, pada 11 Februari 1946 di Pangkalan Udara Maguwo, 3 pesawat Cureng melaksanakan pula misi penerbangan untuk latihan terjun payung, masingmasing diterbangkan oleh Agustinus Adisutjipto, Iswahjudi, dan Makmur Suhodo, dengan para penerjun Amir Hamzah, Legino, dan Pungut. Penerjunan ini merupakan peristiwa penting bagi TNI Angkatan Udara, karena menjadi awal munculnya pasukan paratrooperatau pasukan payung TNI AU. Pada tanggal 16 Maret 1946, Suyono kembali menerbangkan pesawat Cureng, beserta seorang montir pesawat, Sukarman. Penerbangan bertolak dari Pangkalan Udara Bugis Malang menuju utara untuk menyebarkan pamflet di atas kota Sidoarjo. Sesuai dengan fungsinya sebagai pesawat latih, tanggal 15 April 1946, tiga pesawat Cureng melaksanakan misi latihan terbang formasi dan Cross Country (lintas daerah) di atas Yogyakarta, Surakarta, Madiun, dan Malang. Penerbangnya adalah Husein Sastranegara, Tugiyo, Santoso, dan Wim Prayitno. Cross country ini merupakan terbang formasi dan lintas daerah yang pertama dilakukan oleh penerbang-penerbang Indonesia. Tanggal 12 Mei 1946 pesawat Cureng kembali diterbangkan oleh Opsir Udara II Sujono dan Opsir Udara III Wim Prajitno ke arah timur dan mendarat di Lapangan Sekip (Pamekasan, Madura), dengan misi memperbaiki lapangan udara tersebut sebagai persiapan guna penerbangan berikutnya. Ikut serta dalam penerbangan tersebut dua orang montir pesawat yakni Naim dan Dulatif. Dalam penerbangan kembali menuju Pangkalan Udara Maguwo, kedua pesawat terpaksa mendarat di Pangkalan Udara Bugis Malang karena mengalami kerusakan di bagian kaki rodanya. Pada tanggal 21 Mei 1946, empat pesawat Cureng mengudara kembali menuju beberapa daerah di Jawa Barat dan Jawa Timur. Dua pesawat Cureng menuju ke Serang Jawa Barat, pesawat pertama diterbangkan oleh Opsir Udara II Husein Sastranegara, disertai H. Semaun, dan pesawat kedua dipiloti oleh Opsir Udara III Santoso disertai seorang penumpang bernama Soeharto. Satu pesawat Cureng menuju ke Malang dengan penerbang Opsir Udara III Sunarjo dengan penumpang Suparman. Sebuah pesawat terbang Cureng lainnya diterbangkan oleh Opsir Udara II H. Sujono dan Komodor Udara Halim Perdanakusuma ke arah timur untuk mencapai Pulau Madura dan mendarat di sebuah tempat pembuatan garam karena belum adanya pangkalan udara yang siap untuk pendaratan pesawat. Setelah lima hari mengadakan perjalanan, pada tanggal 25 Mei 1946, keempat pesawat kembali ke Maguwo. Kemudian pada 10 Juni 1946, dari Pangkalan Udara Maguwo, lima pesawat Cureng melaksanakan penerbangan formasi dengan tujuan Pangkalan Udara Cibeureum (Tasikmalaya). Penerbangan dimaksudkan untuk memeriahkan pembukaan Pangkalan Udara Cibeureum, dan sekaligus menyebarkan pamflet air mindedness (minat kedirgantaraan) di kalangan pemuda dan pelajar setempat. Para awak pesawatnya adalah Komodor Agustinus Adisutjipto dan Husein Sastranegara, Komodor Muda Udara dr. Abdurachman Saleh dan Tulus Martoatmodjo, Opsir Udara Sujono dan Opsir Muda Udara Kaswan, Opsir Udara Wirjosaputro dan Opsir Udara Sunarjo, serta Opsir Udara Iswahjudi dan Opsir Udara Suhodo. Latihan terbang menggunakan Pesawat Cureng tidak hanya berlangsung dalam wilayah Pulau Jawa saja, melainkan ke beberapa daerah di luar Jawa, yakni Sumatera. Pada tanggal 23 Juli 1946, dua pesawat Cureng, yang masing-masing diterbangkan oleh Opsir Udara II Husein Sastranegara dan Kadet Udara Wim Prayitno melaksanakan penerbangan cross countryke wilayah Sumatera dengan rute Maguwo – Gorda (Banten) – Karangendah (Sumatera Selatan) – Maguwo.Tanggal 8 Agustus 1946, satu pesawat Cureng diterbangkan dari Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta ke Pangkalan Udara Bugis Malang dengan penerbang Tugio mengemban misi mengantarkan A. S. Hananjuddin atas panggilan Divisi VIII Malang Imam Supeno. Kemudian pada 27 Agustus 1946, pesawat Cureng melaksanakan misi penerbangan dari Maguwo, Yogyakarta menuju Branti, Lampung. Dalam perjalanan pulang, pesawat menempuh jalur Selatan Jawa Barat. Akan tetapi, karena kondisi cuaca yang buruk, pesawat Cureng yang diterbangkan Komodor Muda Udara Adisutjipto dengan penumpang Opsir Udara II Tarsono Rujito tidak mampu menembus Tasikmalaya sehingga pesawat melaksanakan pendaratan darurat di Pantai Selatan Desa Cipatujah. Pada pendaratan yang berlangsung senja hari tersebut, pesawat menabrak sebuah pohon kelapa yang melintang mengakibatkan gugurnya Opsir Udara II Tarsono Rudjito. Sedangkan Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto mengalami luka ringan. Pada tahun 1947 Belanda melaksanakan agresi pertamanya dengan melancarkan serangan secara serentak di seluruh wilayah kekuasaan RI. Serangan dimulai pada 21 Juli 1947 dengan membombardir pangkalan-pangkalan udara TNI Angkatan Udara, termasuk Pangkalan Udara Maguwo yang menyebabkan operasi-operasi penerbangan TNI Angkatan Udara terhenti, bahkan menghancurkan sebagian kekuatan pesawat peninggalan Jepang. Sebagai reaksi bangsa Indonesia atas Agresi Militer Belanda I tersebut, pada pagi hari tanggal 29 Juli 1947, TNI AU melaksanakan serangan balasan menggunakan dua pesawat Cureng, yang sebelumnya diperbaiki dan dimodifikasi oleh para teknisi TNI AU menjadi pesawat tempur, tanpa adanya test flight. Pesawat diterbangkan oleh Kadet Penerbang Soetardjo Sigit dan Soetardjo sebagai air gunner (penembak udara), melaksanakan serangan udara di Salatiga. Satu pesawat Cureng lainnya diterbangkan oleh Kadet Penerbang Suharnoko Harbani beserta Kaput sebagai air gunner melaksanakan serangan udara di Kota Ambarawa. Sedangkan Kadet Penerbang Mulyono dengan Pesawat Mitsubishi Ki-51 Guntei Sonia menyerang Semarang dari arah utara. Operasi balasan ini telah menarik perhatian opini dunia luar, dan menyudutkan pihak Belanda.Pada tahun 1948 saat meletusnya pemberontakan PKI di Madiun, pesawat Cureng yang digunakan untuk penyebaran pamflet, dropping (menurunkan) obat obatan dan logistikbagi pasukan ABRI yang berada di daerah terpencil, serta melaksanakan pengeboman di Purwodadi dalam rangka penumpasan PKI atas permintaan Gubernur Militer Daerah Surakarta dan sekitarnya, Kolonel Gatot Subroto. Pesawat tersebut diterbangkan oleh Kadet Udara I Aryono. Untuk mengabadikan dan mengenang kiprah pesawat Cureng ini, pada tahun 1977, pesawat diabadikan di Museum TNI Satria Mandala, Jakarta. Setelah 40 tahun berada di Museum TNI Satria Mandala, pesawat Cureng kembali ke home base awalnya di Maguwo. Kegiatan diawali dengan dismantle (pembongkaran) pada 13 Juli 2017, oleh tim Skatek 021 Lanud Halim Perdanakusuma. Tanggal 19 Juli 2017, pesawat Cureng sudah sampai di Skatek 043 Lanud Adisutjipto untuk diperbaiki dan dijadikan koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusdirla). Pelaksanaan pemindahan dikoordinasikan langsung oleh Kadisaeroau Marsma TNI Dento Priyono atas instruksi Kasau Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P.Pada tanggal 26 Oktober 2017 bertepatan dengan perayaan HUT Koharmatau (Komando Pemeliharaan dan Material Angkatan Udara) Pesawat Cureng pasca restorasi resmi menjadi koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala dengan Nomor Inventaris 15/III/2041/206/029. |
| Riwayat Pemugaran | : | Pesawat Cureng telah direstorasi pada tahun 2017 dan menjadi koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala . |
| Nilai Sejarah | : | Pesawat Cureng menjadi salah satu pesawat yang membantu dalam merintis kekuatan TNI AU pada awal kemerdekaan. |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Pesawat Cureng merupakan bukti perkembangan teknologi kedirgantaraan di dunia pada abad ke20, khususnya pada tahun 1930-an. |
| Nilai Pendidikan | : | Pesawat Cureng dapat menjadi bahan pembelajaran sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang ilmu teknologi kedirgantaraan.Pesawat Cureng digunakan untuk mendidik kadet-kadet penerbangan. |
| Nilai Budaya | : | Karya unggul yang mencerminkan puncak pencapai budaya berupa teknologi pada zamannya. Meskipun awalnya dibuat dan dikembangkan oleh bangsa Jepang sebagai pesawat latih. Setelah Jepang kalah, pesawat tersebut ditinggalkan dalam keadaan rusak. Meskipun banyak mengalami keterbatasan, namun kadet-kadet Angkatan Udara Republik Indonesia mampu untuk memperbaiki, memodifikasi dan menggunakannya sebagai alat untuk berperang melawan Agresi Militer Belanda. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala |
| Nama Pengelola | : | Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala |