| Keterawatan | : | / |
| Dimensi Benda | : |
Panjang - Lebar - Tinggi - Tebal - Diameter - Berat - |
| Peristiwa Sejarah | : | Sejarah pembuatan pesawat Hercules bermula saat Angkatan Udara Amerika Serikat membutuhkan pesawat angkut baru untuk menggantikan pesawatpesawat angkut milik mereka seperti Fairchild C-119 Flying Boxcars, Douglas C-47 Skytrains, dan Curtiss C46 Commandos yang dianggap tidak lagi memadai. Pada tanggal 2 Februari 1951, Angkatan Udara Amerika Serikat menetapkan beberapa kriteria desain pesawat angkut baru kepada pabrikan pesawat seperti Boeing, Douglas, Fairchild, Lockheed, Martin, Chase Aircraft, North American, Northrop, dan Airlifts Inc. Dari beberapa pabrikan tersebut, desain yang diterima oleh Angkatan Udara Amerika Serikat adalah desain yang berasal dari pabrik Lockheed yang dibuat oleh tim pimpinan Willis Hawkins.Kelebihan pesawat Hercules dibanding dengan pesawatpesawat angkut sebelumnya adalah pesawat tersebut memiliki buritan pesawat yang dapat dibuka dan ditutup sehingga dapat digunakan untuk memasukan kendaraankendaraan besar. Keunggulan lain dari pesawat Hercules adalah penggunaan jenis mesin turboprop yang menggunakan lebih sedikit bahan bakar dan tenaga yang jauh lebih besar. Pesawat Hercules memulai debut penerbangan perdana pada 23 Agustus 1954. Pesawat Hercules masih terus diproduksi dan digunakan oleh berbagai negara hingga saat ini.Salah satu negara yang mengoperasikan pesawat Hercules adalah Indonesia. Dipilihnya pesawat kargo tersebut sebagai bagian dari alutsista TNI AU bermula dari kunjungan Presiden Soekarno ke Amerika Serikat (AS) untuk memenuhi undangan Presiden John F Kennedy. Kennedy mengundang Soekarno dalam rangka negosiasi pembebasan Allan Pope, pilot CIA yang berstatus sipil yang ditembak jatuh dan ditangkap PRRI/Permesta pada 1958. Atas pembebasan pilot Allen Pope, Presiden RI Soekarno ditawari Presiden AS John F. Kennedy hadiah. Sebagai hadiahnya, Soekarno meminta untuk ditunjukkan wujud pesawat Hercules yang pada saat itu masih terhitung pesawat baru dengan teknologi paling mutakhir. Indonesia menjadi pengguna pertama C-130 B Hercules di luar AS pada 1960. Untuk membawa pesawat tersebut dari Amerika Serikat ke Indonesia, dilakukan penerbangan sejauh 13.000 mil laut melintasi tiga lautan yakni Samudra Pasifik, Lautan Tiongkok (Laut Cina Selatan) dan Laut Jawa dari pabrikan ke negara operatornya. Penerbangan tersebut juga menjadi penerbangan internasional pertama yang 100 persen diawaki personel aktif AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia). Personel AURI yang terlibat dalam penerbangan tersebut antara lain Mayor Udara Penerbang S. Tjokroadiredjo, Letnan Muda Udara II A. Cargua, Sersan Mayor Udara S. Wijono, dan Kapten Udara Navigator The Hing Ho. Selain itu, ada juga Sersan Mayor Udara M. Smith, Kapten Udara Penerbang Pribadi, Letnan Muda Udara II Alex Telelepta, Sersan Mayor Udara Ali Nursjamsu, Letnan Muda Udara I Basjir, Letnan Muda Udara I Sukarno, Letnan Muda Udara I Arifin Sarodja, dan Kapten Muda Udara Sasmito Notokusumo. Pesawat tersebut mendarat di Bandara Kemayoran Jakarta pada 18 Maret 1960. Kedatangan pesawat Hercules tersebut ke Indonesia menjadikan AURI sebagai operator terbanyak Hercules C-130 B Hercules di belahan selatan dunia. Saat itu, 10 unit C-130 B Hercules dimasukkan ke dalam Skuadron Udara Angkut Berat AURI, mendampingi Skuadron Udara 2 berintikan pesawat C-47 Dakota/Skytrain. C-130B Hercules ketika itu menjadi pesawat multiengine pertama di Indonesia yang berteknologi turboprop. Pada awal operasional, pesawat ini ditempatkan di Skuadron Udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Setelah adanya reorganisasi, sebagian dioperasionalkan di Skuadron Udara 32 Lanud Abdulrachman Saleh di Malang pada tahun 1981. Pesawat ini digunakan dalam berbagai operasi militer perang (OPM) seperti Operasi Trikora, Operasi Dwikora, Operasi Seroja, Operasi Rencong, Operasi Kamdagi, Operasi Wamena, Operasi Garuda Jaya, Operasi Panah, Operasi Elang Sakti, Operasi Tumpas, Operasi Rajawali, Operasi Timika, Operasi Alfa, Operasi Serpas Evak Timtim, Operasi Timtim, Operasi Sarang, Operasi Delta, Operasi Oskar, Operasi Unitil, dan Operasi Kanguta. Sedangkan Operasi Militer Selain Perang (OMSP), C-130 B Hercules TNI AU tergabung dalam berbagai operasi seperti pembuatan hujan buatan dan bantuan bencana alam, baik di dalam maupun di luar negeri, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang membutuhkan angkutan udara. Demikian juga dalam mendukung upaya pemerintah mempercepat pembangunan daerah, C-130 B Hercules menjadi tulang punggung untuk menembus daerah-daerah Indonesia yang sulit ditempuh melalui jalur darat dan laut.Pada tahun 1987, T-1301 mengalami kerusakan yang cukup parah pada saat landing di Lanud Eltari Kupang. Oleh karena keterbatasan peralatan, para teknisi TNI AU berhasil melakukan perbaikan yang sifatnya sangat sementara. Setelah sampai di Bandung pada tanggal 2 November 1987, pesawat tersebut digrounded, di IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia) dalam keadaan without wings selama lebih dari sewindu. Oleh karena nilai historis dari Hercules T-1301 ini, pada tanggal 21 Agustus 2014 pesawat tersebut mendapat tempat kehormatan menjadi monumen dan menghiasi halaman salah satu Pusdiklat Paskhas Lanud Sulaiman Margahayu Bandung. Pesawat tersebut tetap diberikan tugas sebagai Mock up latihan terjun statis bagi detasemen TNI AU untuk Pendidikan Para/terjun payung. Pada tahun 2004, pesawat C-130 B Hercules tidak dioperasikan lagi, karena kondisi pesawat yang sudah uzur dan tidak layak terbang, pada tanggal 21 Agustus 2014 dijadikan sebagai Alins (Alat Instruksi) dan Alongins (Alat Penolong Instruksi) di Pusdiklat Paskhas Lanud Sulaiman.Pada awal Agustus 2017, atas prakarsa Kepala Staf Angkatan Udara pada saat itu Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P. dan ditindaklanjuti oleh Kadisaeroau Marsma TNI Dento Priyono, T-1301 direlokasi ke Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala. Proses pembongkaran dilakukan oleh personel dari Depohar 10, dan selanjutnya dilaksanakan pergeseran pesawat dengan menggunakan jalur darat menuju Lanud Adisutjipto Yogyakarta. Saat ini, pesawat C-130 B Hercules T-1301 menjadi salah satu koleksi pesawat di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala dengan Nomor Inventaris 17/XII/3099/201/054. |
| Riwayat Pemugaran | : | Pada tahun 1987, Pesawat C-130B Hercules Tail Number T-1301 mengalami kerusakan yang cukup parah pada saat landing di Lanud Eltari Kupang dan dilakukan perbaikan sementara oleh teknisi TNI AU karena keterbatasan peralatan.Pada tanggal 2 November 1987 Pesawat C-130B Hercules Tail Number T-1301 sampai di Bandung dan di-grounded, di IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia) dalam keadaan without wings selama lebih dari sewindu.Pesawat C-130B Hercules Tail Number T-1301 dipasang sayap lagi untuk kegiatan latihan terjun statis bagi detasemen TNI AU untuk Pendidikan Para/terjun payung. |
| Nilai Sejarah | : | Pesawat C-130B Hercules Tail Number T1301 Nomor Inventaris 17/XII/3099/201/054 menjadi saksi sejarah diplomasi antara Indonesia dengan Amerika Serikat. Pesawat tersebut dibeli oleh bangsa Indonesia untuk memperkuat armada udara TNI-AU sehingga Indonesia menjadi bangsa yang disegani oleh bangsa lain terutama di kawasan Asia karena dapat memiliki pesawat angkut berteknologi paling canggih pada masa tersebut. Pesawat tersebut selanjutnya digunakan untuk operasioperasi militer dan non-militer di seluruh Indonesia. |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Pesawat C-130B Hercules Tail Number T-1301 Nomor Inventaris 17/XII/3099/201/054 merupakan bukti perkembangan teknologi kedirgantaraan di dunia pada abad ke-20, khususnya pada tahun 1950-an. |
| Nilai Pendidikan | : | Pesawat C-130B Hercules Tail Number T1301 Nomor Inventaris 17/XII/3099/201/054 dapat menjadi bahan pembelajaran sejarah dan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang ilmu teknologi kedirgantaraan. |
| Nilai Budaya | : | Karya unggul yang mencerminkan puncak pencapaian budaya berupa teknologi yang pada zamannya hanya dimiliki oleh bangsa Amerika dan hanya Indonesia sebagai satu-satunya negara di Asia yang diizinkan untuk memilikinya. Pesawat C-130B Hercules Tail Number T-1301 Nomor Inventaris 17/XII/3099/201/054 memiliki peran yang sangat besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala |
| Nama Pengelola | : | Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala |
| Catatan Khusus | : | Pesawat C-130B Hercules Tail Number T-1301 Nomor Inventaris 17/XII/3099/201/054 berada di luar ruangan dan belum diberi pelindungan sehingga rawan mengalami korosi/kerusakan. Pesawat tersebut telah diberi nomor inventaris : 17/XII/3099/201/054. |