Loading

Arca Agastya Nomor Inventaris C.54

Status : Benda Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Di dalam agama Hindu dikenal adanya dewa-dewa yang diwujudkan dalam bentuk arca. Agama Hindu mengenal Dewa Trimurti sebagai satu kesatuan tiga dewa tertinggi (major deities) di atas dewa-dewa lainnya. Dewa Trimurti terdiri atas Dewa Brahma sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai pemelihara, dan Dewa Siwa sebagai pembinasa atau perusak. Dari ketiga dewa itu Wisnu dan Siwa yang sering dipuja, mengingat dewa pencipta dengan sendirinya terdesak oleh kepentingan manusia yang lebih memperhatikan berlangsungnya apa yang sudah tercipta. Segala sesuatu yang akan binasa karena waktu, lebih mendapat perhatian. Di antara pemeluk agama Hindu ada yang memuja Wisnu (golongan Waisnawa) dan Siwa (golongan Saiwa). Siwa dipandang sebagai dewa tertinggi yang disebut Mahadewa atau Mahe?wara. 

Dalam percandian Siwa, arca utama ditempatkan di dalam garbhagreha. Arca Siwa didampingi oleh sejumlah arca-arca lain yang dikenal dengan parswadewata yang terdiri dari Agastya di selatan, Ganesa di arah yang berlawanan dengan pintu candi (barat atau timur), dan Durga di utara. Pantheon dewa yang demikian hanya dikenal di Jawa saja, sebab di India Agastya tidak termasuk di dalam pantheon agama Hindu dalam percandian Hindu. Agastya merupakan perwujudan dari Siwa dalam bentuk resi (rishi) yang berperan untuk menyebarkan agama Hindu ke selatan.

Pada umumnya Agastya memiliki atribut atau ciri-ciri berupa jatamakuta (pintalan rambut yang ditata seperti sorban atau mahkota), serta membawa aksamala (tasbih), camara (kebut lalat), kamandalu (kendi), dan trisula. Ciri lain Agastya ialah tundila yakni perut gendut serta dua tokoh yang mengapit Agastya. Atribut arca Agastya berupa perhiasan kundela (giwang), upawita (selempang kasta yang digantungkan pada satu bahu, umumnya di bahu kiri), hara (kalung), keyura (kelat bahu), udharabandha (sabuk), kankana (gelang tangan), dan paada valaya (gelang kaki). 

Arca Agastya (Nomor Inventaris C.54) ditemukan di atas Bukit Banteng, letaknya di sebelah utara Jalan Parangtritis. Arca ditempatkan di bawah sebuah pohon dan di atas landasan dari plesteran semen. Arca berada di sebelah timur area Masjid Makam Syekh Belabelu dan Syekh Damiaking.

Arca Agastya (Nomor Inventaris C.54) digambarkan dalam sikap berdiri tegak. Bagian kepala arca sudah tidak ada. Pada bagian belakang arca terdapat stela (sandaran arca). Arca digambarkan mengenakan hiasan berupa hara (kalung) dari untaian mutiara dan upawita. Arca mengenakan keyura (kelat bahu).

Arca berperut gendut (tundila) serta memiliki dua tangan yang kondisinya telah aus. Arca mengenakan kain dari pinggang hingga pergelangan kaki serta dua ikat pinggang, dengan uncal yang dibiarkan terjulur ke bawah. Pada bagian kaki arca terdapat sepasang gelang kaki. Arca diapit oleh dua tokoh dengan posisi duduk dengan satu lutut ditekuk serta menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. Bagian kepala kedua tokoh pengapit patah.

Status : Benda Cagar Budaya
Periodesasi : Klasik
Alamat : Padukuhan Mancingan, Parangtritis, Kretek, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

SK Walikota/Bupati : SK BUP Bantul


Lokasi Penemuan : Bukit Banteng, letaknya di sebelah utara Jalan Parangtritis.
Bahan Utama : Batu Andesit
Keterawatan : Utuh dan Terawat,Tidak Utuh /
Dimensi Benda : Panjang -
Lebar 83 cm
Tinggi 85 cm
Tebal 15 cm
Diameter -
Berat -
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Tokoh : Agastya
Konteks : Kebudayaan Hindu berkembang di Jawa pada abad ke-7 Masehi. Melalui Prasasti Dakawu/Tukmas yang ditemukan di Grabag, Magelang dapat diketahui adanya masyarakat pemeluk agama Hindu yang memuja mata air suci yang mengalirkan air layaknya Sungai Gangga. Pada abad ke-8, agama Hindu menjadi salah satu agama kerajaan Mataram Kuno yang berdiri di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Raja pertama Mataram Kuno yang bernama Sanjaya merupakan penganut agama Hindu. Ia mendirikan lingga di atas Gunung Wukir sebagai bukti kejayaannya. Penerus Sanjaya yang beragama Hindu kemudian memerintahkan pendirian Candi Prambanan yang megah sebagai tempat sembahyang kerajaan. Di Bantul, perkembangan agama Hindu dapat diketahui melalui temuan berupa bangunan, struktur, arca, dan prasasti yang tersebar dari bagian utara hingga selatan Kabupaten Bantul. Sebagaimana dapat dilihat dari Candi Mantup, Petirtaan Payak di Piyungan, serta Yoni Karanggede di Sewon.Di Bukit Banteng ditemukan sebuah Arca Agastya, sebuah arca Nandi, serta beberapa blok batu andesit yang diduga merupakan bagian dari struktur maupun bangunan keagamaan bercorak Hindu. Arca Agastya diinventaris oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (menjadi Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta, sekarang Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X) Daerah Istimewa Yogyakarta dan memperoleh nomor inventaris C.54
Riwayat Penemuan : Arca Agastya (Nomor Inventaris C.54) ditemukan di atas Bukit Banteng, letaknya di sebelah utara Jalan Parangtritis. Arca ditempatkan di bawah sebuah pohon dan di atas landasan dari plesteran semen. Arca berada di sebelah timur area Masjid Makam Syekh Belabelu dan Syekh Damiaking.
Nilai Sejarah : Memperlihatkan bukti-bukti peradaban sejarah di Indonesia, pengenalan agama dan kebudayaan India, dan teknik pahat yang memperlihatkan kemajuan kehidupan masyarakat waktu itu, serta menunjukkan informasi bahwa di Padukuhan Mancingan, Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek sudah ada masyarakat yang menganut agama Hindu dalam tata kehidupan yang terstruktur.
Nilai Ilmu Pengetahuan : Mempunyai potensi untuk diteliti dalam rangka menjawab masalah di bidang ilmu arkeologi, sejarah, dan antropologi.
Nilai Agama : Menunjukkan adanya benda yang terkait dengan aktivitas keagamaan atau religi agama Hindu pada abad ke-8 hingga abad ke-10.
Nilai Budaya : Sebagai hasil kebudayaan yang mencerminkan jati diri suatu bangsa, kedaerahan atau komunitas tertentu yaitu komunitas penganut agama Hindu pada abad ke-8 hingga ke-10 di Kabupaten Bantul.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
Pengelolaan
Nama Pengelola : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
Catatan Khusus : Kondisi Saat Ini : Kondisi obyek berlumut dan kurang terawat. Bagian kepala Arca Agastya (Nomor Inventaris C.54) patah dan hilang.