Di dalam agama Hindu dikenal adanya dewa-dewa yang diwujudkan dalam bentuk arca. Agama Hindu mengenal Dewa Trimurti sebagai satu kesatuan tiga dewa tertinggi (major deities) di atas dewa-dewa lainnya. Dewa Trimurti terdiri atas Dewa Brahma sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai pemelihara, dan Dewa Siwa sebagai pembinasa atau perusak. Dari ketiga dewa itu Wisnu dan Siwa yang sering dipuja, mengingat dewa pencipta dengan sendirinya terdesak oleh kepentingan manusia yang lebih memperhatikan berlangsungnya apa yang sudah tercipta. Segala sesuatu yang akan binasa karena waktu, lebih mendapat perhatian. Di antara pemeluk agama Hindu ada yang memuja Wisnu (golongan Waisnawa) dan Siwa (golongan Saiwa). Siwa dipandang sebagai dewa tertinggi yang disebut Mahadewa atau Mahe?wara.
Dalam percandian Siwa, arca utama ditempatkan di dalam garbhagreha. Arca Siwa didampingi oleh sejumlah arca-arca lain yang dikenal dengan parswadewata yang terdiri dari Agastya di selatan, Ganesa di arah yang berlawanan dengan pintu candi (barat atau timur), dan Durga di utara. Pantheon dewa yang demikian hanya dikenal di Jawa saja, sebab di India Agastya tidak termasuk di dalam pantheon agama Hindu dalam percandian Hindu. Agastya merupakan perwujudan dari Siwa dalam bentuk resi (rishi) yang berperan untuk menyebarkan agama Hindu ke selatan.
Pada umumnya Agastya memiliki atribut atau ciri-ciri berupa jatamakuta (pintalan rambut yang ditata seperti sorban atau mahkota), serta membawa aksamala (tasbih), camara (kebut lalat), kamandalu (kendi), dan trisula. Ciri lain Agastya ialah tundila yakni perut gendut serta dua tokoh yang mengapit Agastya. Atribut arca Agastya berupa perhiasan kundela (giwang), upawita (selempang kasta yang digantungkan pada satu bahu, umumnya di bahu kiri), hara (kalung), keyura (kelat bahu), udharabandha (sabuk), kankana (gelang tangan), dan paada valaya (gelang kaki).
Arca Agastya (Nomor Inventaris C.54) ditemukan di atas Bukit Banteng, letaknya di sebelah utara Jalan Parangtritis. Arca ditempatkan di bawah sebuah pohon dan di atas landasan dari plesteran semen. Arca berada di sebelah timur area Masjid Makam Syekh Belabelu dan Syekh Damiaking.
Arca Agastya (Nomor Inventaris C.54) digambarkan dalam sikap berdiri tegak. Bagian kepala arca sudah tidak ada. Pada bagian belakang arca terdapat stela (sandaran arca). Arca digambarkan mengenakan hiasan berupa hara (kalung) dari untaian mutiara dan upawita. Arca mengenakan keyura (kelat bahu).
Arca berperut gendut (tundila) serta memiliki dua tangan yang kondisinya telah aus. Arca mengenakan kain dari pinggang hingga pergelangan kaki serta dua ikat pinggang, dengan uncal yang dibiarkan terjulur ke bawah. Pada bagian kaki arca terdapat sepasang gelang kaki. Arca diapit oleh dua tokoh dengan posisi duduk dengan satu lutut ditekuk serta menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. Bagian kepala kedua tokoh pengapit patah.