| Keterawatan | : | / |
| Dimensi Benda | : |
Panjang - Lebar - Tinggi - Tebal - Diameter - Berat - |
| Peristiwa Sejarah | : | 1. Sejarah Yoni Yoni sesuai dengan kamus istilah arkeologi memiliki arti landasan lingga yang melambangkan kemaluan wanita (vagina). Pada permukaan yoni terdapat sebuah lubang berbentuk segi empat di bagian tengah – untuk meletakkan lingga – yang dihubungkan dengan cerat melalui sebuah aliran air sempit. Cerat hanya terdapat pada salah satu sisi dan berfungsi sebagai pancuran. Selanjutya di jelaskan dalam kamus tersebut, Yoni dan lingga biasanya dihubungkan dengan kehadiran candi.Bentuk yoni yang ditemukan di Indonesia umumnya berdenah bujur sangkar dengan pelipit-pelipit pada sisi badannya. Pada bagian permukaan yoni terdapat lubang bujur sangkar yang berfungsi untuk meletakkan lingga. Pada salah satu sisi yoni terdapat tonjolan dan lubang membentuk cerat. Pada sekeliling bagian atas yoni (permukaan atas) terdapat lekukkan yang berfungsi untuk menghalangi air agar tidak tumpah pada waktu dialirkan dari puncak lingga. Dengan demikian air hanya mengalir keluar melalui cerat. Bagian-bagian yoni itu melitputi nala (cerat), jagati, padma, dan kantha, serta lubang untuk berdirinya lingga. Konsepsi yoni adalah konsepsi Hindu tentang penciptaan dunia. Yoni adalah simbol dari pertiwi (bumi; tanah). Yoni melambangkan wanita (prakrti, pradhana) yang tidak bisa dipisahkan dengan lingga sebagai unsur laki-laki (purusa). Pertemuan purusa dan pradhana ini merupakan pertemuan antara positif dan negatif. Warna batu yang dipilih untuk membuat yoni juga memiliki arti dan nilai tersendiri. Warna putih (kesamaan), merah identik dengan kejayaan, kuning (kesejahteraan) dan warna hitam identik dengan kesuburan. Batu yoni biasanya berhubungan erat dengan fungsi sebagai simbol perempuan atau kesuburan. Ukuran panjang, lebar dan tinggi yoni mempunyai aturan tertentu, hal ini disesuaikan berdasarkan tinggi lingga yang mempunyai bagian-bagian Rudrabhaga, Wisnubhaga, dan Brahmabaga. Panjang sisi yoni sama dengan tiga kali garis tengah lingga atau sama dengan keliling Rudrabhaga atau Wisnubhaga. Tinggi Yoni sama dengan tinggi lingga dari Brahmabhaga sampai Wisnubhaga.2. Sejarah dan Riwayat Pelestarian Yoni D.130.1 Yoni D.130.1 atau Yoni Ndluwak merupakan temuan yang relatif baru dan dilaporkan oleh masyarakat dalam kegiatan lomba rintisan desa budaya pada tahun 2018. Dalam rangka kegitan lomba tersebut lokasi yoni yang berdekatan dengan dua bawah makam kuno tanpa identitas dibersihkan warga, kemudian dilaporkan sebagai temuan baru ODCB ke Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul. Bedasarkan wawancara dengan aparat pemerintah setempat yang bernama Rahmad Widianta (53 tahun), diperoleh keterangan bahwa Yoni D,130.1 adalah benda purbakala yang sudah sejak lama berada di lokasi tersebut. Rahmad Widianta menyaksikan bahwa ketika beliau masih kecil, di tempat tersebut masih terdapat pagar keliling berupa kayu balok, yang diduga dibuat untuk melindungi bendabenda di dalam pagar. Masyarakat setempat pada tahun 1970-an masih menganggap sakral lokasi tersebut. Rahmad menambahkan bahwa Yoni di Ndluwak sering dikirimi nasi kenduri oleh masyarakat yang sedang melaksanakan hajatan. Namun budaya tersebut mulai berkurang di tahun 2000-an. Bahkan saat ini sudah tidak ada sama sekali. Sejak semula lokasi yoni berada di gundukan tanah, yang dibawahnya terdapat tumpukan batu-batu balok. Terdapat dua buah pohon randu alas besar yang tumbuh di dekat gundukan tanah tersebut. Dalam rangka upaya penyelamatan benda-benda di Situs Dluwak sudah dilakukan oleh warga dan pemerintah. Pada tahun 2005, saat dilakukan pembuatan jalan tembus Piyaman – Gari, pengembang pembangunan jalan melakukan upaya perbaikan makam di Situs Dluwak. Perbaikan makam dilakukan karena menurut cerita Rohmad, mandor pembangunan jalan menghindari kejadian-kejadian mistis yang mengganggu pelaksaan pekerjaan mereka. Dua buah makam kuno di sebelah selatan lokasi temuan yoni dibuat berpagar. Pada tahun 2022 terjadi kebakaran hutan yang disebabkan oleh warga setempat untuk membersihkan daun pohon jati kering yang biasa berserakan di musim panas. Kejadian tersebut menyebabkan Situs Ndluwak ikut terbakar. Lalu oleh pemerintah kalurahan setempat dibuatkan penanda larangan membakar daun pohon jadi dalam rangka mencegah kerusakan yang berimbas pada temuan bendabenda arkeologi di Situs Ndluwak. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Milik negara dengan nomor inventaris D.103.1 |
| Catatan Khusus | : | Ukuran :Yoni dalam posisi terbalik. Kaki : Panjang : 48 cm Lebar : 48 cm Tebal : 9 cm Tubuh : Panjang : 31 cm Lebar : 31 cm Tinggi keseluruhan : 55 cm Lebar cerat (patah) : 15 cm Tinggi cerat : 7 cm Berada dalam posisi terbalik, aus, berada di tempat terbuka, di atas lahan milik Sultan Ground. |