Loading

Topeng Doyok Duwet, Wonosari

Status : Benda Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Topeng Doyok merupakan topeng salah satu karakter wayang topeng yang berasal dari Padukuhan Jogoloyo Kalurahan Duwet Kapenewon Wonosari. Masyarakat di Kalurahan Duwet dikenal memiliki adat tradisi berupa pagelaran wayang topeng cerita Panji yang digelar setiap tiga tahun sekali. Pagelaran wayang tersebut lebih dikenal sebagai topengan yang dilaksanakan bersamaan dengan acara Nyadran Sumur Soka. Acara ini dilaksanakan dengan sakral dan diperkirakan sudah berlangsung selama ratusan tahun. Topengan Duwet merupakan sebuah adat tradisi luhur yang paling tua di Gunungkidul yang masih bertahan hingga saat ini. 
Kalurahan Duwet berada sejauh enam kilometer di sebelah selatan Kota Wonosari – Ibukota Kabupaten Gunungkidul. Lokasi kalurahan tersebut mudah dijangkau dan berada cukup dekat dengan jalan besarWonosari – Pantai Baron, yakni sejauh satu kilometer ke arah timur. Padukuhan Jogoloyo yang terdapat di Kalurahan Duwet memiliki karakter kehidupan masyarakat yang umum seperti di Wilayah Kabupaten Gunungkidul lainnya, yakni masyarakat pedesaan yang mengutamakan sumber kehidupan dari bercocok tanam pada lahan tadah hujan dan memelihara hewan ternak.Kehidupan masyarakat yang berlangsung sejak masa prasejarah di wilayah ini, sangat bergantung pada ketersediaan air terutama pada musim kering. Sumur Soka yang berada di Padukuhan Jogoloyo pada masa lalu menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat satusatunya. Berdasarkan penjelasan masyarakat setempat, sumber air Sumur Soka yang besar mampu memenuhi kebutuhan air masyarakat se-Kalurahan Duwet dan sekitarnya. 
Ritus topengan Duwet merupakan adat tradisi berupa sendratari wayang topeng dengan cerita Panji yang didalamnya terdapat 14 karakter. Dalam penyajiannya, sendratari tersebut dimainkan oleh masyarakat setempat dengan acara yang disebut topengan. Sejauh ini topenganDuwet diketahui memiliki sejumlah keunikan yangdapat dijadikan sebagai kajian dalam penelitian. Salah satu keistimewaan dari topengan Duwet adalah tiga buah karakter topeng yaitu Klana Sewandana, Bancak, dan Doyok yang disakralkan. Oleh masyarakat setempat, ketiga topeng tersebut diyakini merupakan topeng tertua yang berasal dari Abad ke-19. Seperti yang dijelaskan oleh Nardi Purwanto (60 tahun) bahwa menurut leluhur mereka, topeng Duwet sudah ada pada saat dibuatnya Sumur Soka. Keistimewaan yang lain yaitu penari topeng Klana Sewandono yang tidak boleh dimainkan di luar garis keturunan keluarga pewaris topeng. Seperti diketahui bahwa di Kalurahan Duwet, Topeng Klana Sewandana, Bancak, dan Doyok secara turun temurun disimpan oleh salah satu keluarga dan tidak boleh dipisah. Mereka meyakini bahwasanya akan terjadi sesuatu musibah jika ketiga topeng tersebut tidak berada dalam satu tempat yang sama. Hingga tahun 2016, ke-tiga buah topeng di atas disimpan di rumah Pak Karana. Saat ini Topeng tersebut disimpan di rumah Ibu Heni Ekawati – anak Pak Karana di Padukuhan Jagabaya. Pak Karanamerupakan penari Klana Sewandana topengan Duwet. Beliau meninggal tahun 2016. Penari Klana Sewandanasaat ini adalah Bagas Wisnu Admaja (21 tahun). 
Topeng Doyok berupa penutup muka dari bahan kayu yang berukuran seluas wajah orang dewasa. Bahan kayu dipahat sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah 
topeng geculan (tanpa rahang) dengan bidang oval, cekung, tidak tebal, dan berongga sehingga bisa berfungsi sebagai penutup muka. Topeng Doyok memiliki lubang kecil pada sisi kiri dan kanan yangberfungsi sebagai pengait tali. Berdasarkan teknik pengerjaannya, topeng terbagi atas dua bagian yaitu depan dan belakang. Bagian depan dibuat membentuk raut wajah topeng. Bagian belakang dibuat berongga untuk meletakkan topeng di muka pemakainya dengan tali sebagai pengikat. Teknik pembuatan topeng dengan cara memahat, mengukir, dan memperhalus permukaan kayu. Pengerjaan pada bagian depan diselesaikan dengan 
pengecatan sementara pada bagian belakang tidak. 
Secara visual pada bagian muka topeng Doyok digambarkan sebagai berikut : Bentuk muka oval cenderung bulat, tidak punya dagu, berwarna hitam legam, hidung kecil, ditengah dahi ada tonjolan, mata terlihat sipit memanjang, dan hiasan hanya berupa goresan di sebalah kiri, kanan dan bawah hidung. goresan hidung diberi warna kuning keemasan. Jidat topeng doyok ditampilkan dengan bentuk lebar. Mulut hanya ditampilkan dengan bentuk tanpa bibir bawah (tanpa rahang) atau geculan. Visualisasi bibir atas yang tebal dan tanpa gigi diberi pewarnaan merah. Seluruh bentuk tadi menunjukkan wajah yang menyeramkan namun lucu. 
Pada bagian dalam terdapat dua lubang mata yang berbetuk garis panjang untuk memberikan pandangan bagi pemakai topeng. Permukaan kayu pada sisi dalam sangat licin dan mengkilap, tanpa cat. Secara umum kayu topeng bancak masih dalam keadaan bagus dan kuat. 

Status : Benda Cagar Budaya
Periodesasi : Islam
Alamat : RT 02 RW 06 Padukuhan Jogoloyo, Duwet, Wonosari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.927897° S, 110.646722° E

SK Walikota/Bupati : SK Bupati Gunungkidul No 221/KPTS/2024


Lokasi Topeng Doyok Duwet, Wonosari di Peta

Keterawatan : /
Dimensi Benda : Panjang -
Lebar -
Tinggi -
Tebal -
Diameter -
Berat -
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Peristiwa Sejarah : A. Sejarah Wayang Topeng Duwet. Sebagai sebuah studi kesejarahan dengan data oral tradition yang tumbuh dan dijaga masyarakat, perlu mendapatkan bentuk kajian, setidaknya untuk mencatat data lisan menjadi sebuah kepastian ilmiah. WayangTopeng Duwet adalah tari tradisional yang telah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Kalurahan Duwet, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Sejarah asal mula keberadaan Wayang Topeng Duwet di Kalurahan Duwet sampai saat ini belum terungkap. Namun demikian, cerita yang diperoleh secara turun temurun dari para pendahulu penduduk Kalurahan Duwet, hingga kini masih ada memori kolektif masyarakat Kalurahan Duwet. Wayang Topeng Duwet sebagai satu bentuk sajian pertunjukan dapat dipastikan memiliki masyarakat pendukung, sehingga terus hidup dan memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan masyarakatnya. Menurut cerita masyarakat setempat bahwa kesenian Wayang Topeng Duwet di Kalurahan Duwet sebenarnya sudah ada sejaklama, jauh sebelum adanya pembuatan sumur Soka. Masyarakat Kalurahan Duwet banyak yang suka berkesenian, seperti Wayang Topeng Duwet, ketoprak.Pada waktu itu, Wayang Topeng Duwet tidak hanya pentas di Kalurahan Duwet, tetapi juga “ditanggap” di daerah lain. Wayang Topeng Duwet pada masa lampau juga menjadi kesenian barangan, sebagaimana kesenian yang hidup pada zaman dulu, mereka berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, baik ditanggap ataupun tidak. Menilik dari sejarahnya, kemunculan wayang Topeng diperkirakan pada masa Mataram Kuno. Menurut tradisi Jawa, para Wali terutama Sunan Kalijaga, selalu dinyatakan sebagai manusia yang serba bisa, karena banyak karya karya seni termasuk membuat topengtopeng untuk pertunjukan wayang topeng pertama pada permulaan abad ke-16. Dalam membuat topeng, diceritakan bahwa Sunan Kalijaga berkiblat pada boneka-boneka kulit dari pertunjukan wayang gêdhog yang membawakan cerita Panji. Untuk pertunjukan wayang topeng pertamanya Sunan Kalijaga membuat Sembilan topeng, yaitu untuk tokoh-tokoh Panji Kesatriyan, Candrakirana, Gunungsari, Andaga, Raton(raja), Klana, Denawa (Raksasa), Renco (sekarang Tembem atau Dhoyok), dan Turas (sekarang Penthul atau Bancak) Menurut Pigeud dalam sebuah bukunya yang sangat terkenal yang berjudul Javaanse Volksvertoningen pada zaman Mataram (1584-1755) Wayang Topeng selain merupakan pertunjukan istana, yang juga tersebar didaerah-daerah pantai (pesisir), dan daerah-daerah luar kerajaan (mancanegara), Di daerah pantai dan di luar kerajaan, rombongan- rombongan wayang topeng kebanyakan dipimpin oleh para dalang wayang kulit. Lakon-lakon yang terkenal pada waktu itu adalah Jaka Bluwo, Jaka Semawung, Jaka Penjaring, dan Kudanarawangsa. Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755 yang membelah Mataram menjadi dua bagian, yaitu Kasultanan Yogyakarta dengan rajanya Sri Sultan Hamengku Buwana I dan Kasunanan Surakarta dengan rajanya Paku Buwono III, membawa dampak dalam perubahan yang sangat signifikan bagi kedua kerjaan itu. Bahkan, untuk menentukan identitas kebudayaannya, kemudian diadakanlah Perjanjian Jatisari yang mengatur identitas masing masing daerah dalam bidang seni budaya, yaitu Kraton Yogyakarta mempertahankan tradisi Mataram dan Kraton Surakarta mengembangkan tradisi Mataram. Berdasar pada perjanjian itu kemudian masing-masing memiliki identitas dengan tetap mengacu pada budaya Mataram sebelumnya. Khusus untuk Wayang Topeng, tidak dilanjutkan di Kraton Yogyakarta, adapun sebagai identitasnya Sultan Hamengku Buwana I menggubah satu bentuk dramatari baru yaitu wayang wong yang menampilkan Wiracarita Mahabarata dan kemudian pada masa Sri Sultan Hamengku Buwana VIII perpaduan antara wiracarita Mahabarata dan Wiracarita Ramayana. Pertunjukan Wayang Topeng kemudian tetapdilestarikan oleh Kraton Surakarta. Koleksi Topeng dari pertunjukan Wayang Topeng yang terdapat di Keraton Surakarta berjumlah 87 (delapan puluh tujuh) merupakan salah satu indikasi bahwa istana ini pernah melestarikan tradisi wayang topeng. Bahkan sering disebut-sebutbahwa Susuhunan Paku Buwana II (memerintah 1726-1749) dari Kraton Mataram adalah penari Klana yang baik. Topeng Klana dengan wanda Geger yang biasa dipakai oleh Susuhunan Paku Buwana II dianggap sebagai pusaka keramat oleh kalangan istana Surakarta. Sesuai dengan kesepakatan dalam palihan nagari kemudian tradisi Surakarta berkembang pesat di masyarakat luas, termasuk Wayang Topeng, yang tersebar di berbagai daerah, hingga ke pinggiran dan bahkan ke wilayah Gunungkidul, yaitu di Kalurahan Duwet, yang hingga kini belum dapat diketahui dengan pasti kemunculannya. Warga hanya memberikan gambaran bahwa Wayang Topeng Duwet sudah ada sejak dulu, dan kemudian dipergunakan sebagai bagian dalam ritual nyadran Sumur Soka di Kalurahan Duwet sejak pemerintahan Bupati Gunungklidul, Raden Tumenggung Prawirosetiko. Dengan demikian, eksistensi Wayang Topeng Duwet diakui warga sebagai seni ritual, dan secara turun temurun pula Wayang Topeng selalu ditampilkan dalam upacara Nyadran Sumur Soka. Yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Diceritakan oleh warga secara kolektif, pada masa Bupati Raden Tumenggung Prawirosetiko, Kalurahan Duwet seperti halnya sebagian wilayah Gunungkidul lainnya, mengalami kesulitan air bersih saat kemarau panjang. Hal ini menjadikan Bupati sangat prihatin dan memerintahkan warga untuk membuat sumur air bersih di lingkungannya, termasuk di Kalurahan Duwet, agar permasalahan kesulitan air bersih dapat diselesaikan. Himbauan Bupati tersebut mendapat sambutan dari warga secara antusias dan setelah berembug menentukan titik lokasi sumur, diputuskan penggalian sumur menempati lokasi di Padukuhan Jogoloyo, Kalurahan Duwet Kapanewon Wonosari Kabupaten Gunungkidul. Warga bergotong royong menggali sumur dengan penuh semangat, hingga ditemukan mata air yang sangat deras, yang kemudian dinamakan Sumur Soka. Suka cita wargatelah memiliki sumber air Sumur Soka, sebagai ungkapan kegembiraan dipentaskan Wayang Topeng Duwet, kemudian warga menyepakati bahwa demi menjaga kelestarian sumur, dilaksanakan nyadran atau bersihsumur, dan Wayang Topeng Duwet menjadi bagian acara. Dengan demikian Wayang Topeng Duwet sebagai ritual,dimulai semenjak menjadi bagian dari nyadran sumur Soka. Setiap tiga tahun sekali pada bulan September atau Oktober tepat pada hari Senin Legi, diadakan Nyadran Sumur Soka dan sekaligus mementasan Wayang Topeng Duwet, yang diikuti oleh 4 Padukuhan di Kalurahan Duwet, yaitu Padukuhan Duwet, Padukuhan Gondang, Padukuhan Jambe, dan Padukuhan Jogoloyo. Kegiatan utama Nyadran Sumur Soka adalah Kenduri melibatkan warga 4 padukuhan, dengan menggunakan ubarampe yang lengkap, dimulai sejak sehari sebelum acara adat, dengan mengadakan gugur gunung dan pembuatan panjang ilang. Setelah kenduri selesai, diadakanlahpentas Wayang Topeng dengan kisah yang dibawakan dalam wayang Topeng adalah Daupipun Panji Asmarabangun Kalian Gauh Candrakirana. B. Sejarah dan Upaya Pelestarian Topeng Doyok Berdasarkan penjelasan narasumber, Topeng Doyok belum pernah mengalami konservasi atau perbaikan. Topeng Doyok seperti yang diutarakan oleh Nardi Purwanto, merupakan benda peniggalan leluhur yang menjadi satu paket dengan dua topeng lainnya yaitu Klana Sewandana dan Bancak. Topeng doyok boleh digunakan oleh pemain yang bukan dari trah Pawiro Taruno. Hal ini berbeda dengan Topeng Klana Sewandana yang harus dimainkan oleh garis keturunanPawiro Taruno. Dengan usia yang lebih dari 50 tahun, tentunya Topeng ini mengalami banyak kerusakan dan perlu segera diadakan penanganan perbaikan atau restorasi. Menurut penjelasan Ki Supana (64 tahun) – Maestro Topeng Yogyakarta yang berasal dari Bantul, bahan kayu untuk membuat Topeng Klana Sewandana diduga berasaldari pohon sejenis sengon atau mungkin pule. Berbeda dengan topeng yang lain, bahan tersebut di atas ternyata dapat diserang hama serangga bubuk dan lebih mudah rapuh. Ki Supana menambahkan bahwa Topeng Bancak merupakan benda kuna atau topeng lawas yang dikembangkan oleh kelompok pedalangan pada masa lalu. Pada awal abad ke 20, kelompok pedalangan baik di Yogyakarta maupun di Surakarta biasa membuat topenguntuk keperluan mbarang atau ngamen. Salah seorang pembuat topeng pada waktu itu adalah Ki Warno Waskito – kakek Ki Supono. Berdasarkan penjelasan Ki Supono, Ki Warno Waskito sangat giat dalam berkarya membuattopeng untuk keperluan wayang topeng. Hingga suatu saat beliau diapanggil oleh Ndara Tejokusumo dari Keraton Yogyakarta pada tahun 1935, untuk membuat replika topeng buatan Kyai Cokro – soorang seniman Belanda. Topeng tersebut adalah Panji, Gunungsari, dan Klana Swandana. Pada masa selanjutnya, Ki Warno Waskito selanjutnya ditarik ke Museum Sonobudoyo dan bekerja sebagai ahli restorasi koleksi dari bahan kayu hingga pensiun. Sebagai maestro topeng, Ki Supono memastikan bahwa Topeng Klana Sewandana dari Kalurahan Duwet bukan merupakan karya Ki Warno Waskito. Supono juga memastikan bahwa Topeng tersebut tidak berasal dari Keraton Yogyakarta, karena sepengetahuan beliau Kraton Yogyakarta tidak pernah membuat Topeng. Dengan bekal pengamatan dari cetakan gambar foto dari tiga topeng duwet dan keterangan ciri-ciri yang disampaikan, Ki Supono menjelaskan material yang digunakan pada Topeng Doyok dibuat dari bahan kayu sengon atau pule. Untuk pewarnaan hitam, diperkirakan berasal dari bahan langes, warna merah dari gincu, dan emas dari prada. Bahan-bahan tersebut merupakan bahan alami yang pada masa lalu biasa digunakan oleh pembuat topeng. Secara teknis Ki Supono masih bisa membuat pewarnaan tersebut, meskipun bahannya sangat langka di pasaran saat ini. Dengan penjelasan Ki Supono secara teknis Topeng Doyok dapat dilakukan restorasi untuk pelestariannya. Hingga saat ini ketiga topeng masih disimpan denganbaik oleh keluarga Heni Ekawati (pewaris saat ini).Sehari-hari topeng tersebut disimpan dalam sebuah kotak topeng, dan diamankan selama tidak ada pertunjukan topengan. 
Nilai Budaya : UNESCO telah memberi penghargaan Epos Panji sebagai Memory of The World (MoW) pada tanggal 30 Oktober 2017. Topengan Duwet dengan Epos Panji Asmorobangun merupakan sebuah sendratari satu-satunya di Gunungkidul yang berkembang dari masa sebelum kemerdekaan dan terus dipertahankan hingga masa kini. Epos Panji dalam Topengan Duwet memiliki nilai budaya yang tinggi yang dapat menguatkan kepribadian bangsa. 
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Masyarakat Kalurahan Duwet
Pengelolaan
Nama Pengelola : Kelompok pelestari budaya Kalurahan Duwet
Catatan Khusus : Panjang (Tinggi) : 11 cmLebar : 11,9 cmTebal : 7,5 cm