Bangunan Rumah Tradisional Kotagede di Alun-alun KG III/779 memiliki keunikan karena dilengkapi dengan gate/pintu gerbang yang menyatu dengan bangunan. Bangunan ini juga mendapatkan pengaruh unsur kolonial meskipun unsur arsitektur Jawanya masih cukup dominan terutama pada tata ruang. Tata ruang rumah terdiri dari bangunan pringgitan, dalem, senthong kiwa, senthong tengah, senthong tengen, gandhok kiwa, pawon dan pekiwan serta bangunan di depan gandok kiwa. Orientasi bangunan utara-selatan dengan arah hadap ke selatan.
Pada bagian dalem terdapat pringgitan terbuka. Bangunan pringgitan pada bangunan joglo milik S. Abdul Rahman ini berfungsi sebagai teras. Pada bagian pringgitan arsitektur bangunan mendapatkan pengaruh arsitektur kolonial dengan munculnya unsur konsol besi, penggunaan material kaca, motif hias cawan. Atap bagian pringgitan berbentuk limasan dan terdapat tritisan di bagian depan.
Di antara dalem dan pendopo terdapat ruang terbuka yang saat ini berfungsi sebagai Gang Rukunan yang digunakan sebagai jalur sirkulasi pemilik rumah. Pada bagian pringgitan ini terdapat tiang penyangga atap rumah berbahan kayu yang sangat unik dan khas yaitu dengan variasi motif bentuk segi empat di bagian Bawah (wajikan), bentuk silindris di bagian atas dan terdapat penyangga tritisan dengan konsol besi. Daun pintu dan jendela berbahan kayu dengan tipe kupu tarung, jendela berpanil kaca. Pada bagian tebeng terdapat pahatan kayu berornamen flora (lung-lungan/suluran) dengan cawan di tengahnya. Bangunan rumah ini dalam keadaan kosong sehingga beberapa ruangan-ruangan tidak difungsikan.
Bagian dalem masih mengikuti bentuk arsitektur Jawa yang menggunakan atap bertipe joglo dengan proporsi bangunan lebih tinggi dari rumah lainnya. Bagian dalam atau interior dalem terdapat senthong kiwa, senthong tengah dan senthong tengen yang merupakan unsur khas dalam rumah Jawa. Dinding penutup senthong kiwa, senthong tengah dan senthong tengen menggunakan papan gebyok dengan pintu ditengahnya bercat warna kuning gading. Sedangkan dinding bangunan batu bata berplester berukuran ??. Atap joglo bangunan dalem ditopang oleh saka guru berjumlah empat buah yang bagian atapnya tersusun oleh struktur tumpang sari, dodo peksi, dan brunjung. Hiasan ambang pintu senthong berupa ukiran flora (lung-lungan/suluran) dan nanasan. Dalem menggunakan lantai berbahan plester.
Gandhok kiwa berada di sisi timur menempel pada dalem. Bangunan Gandhok kiwa beratap kampung dan bagian belakang terdapat pawon dan pakiwan. Pada sisi selatan gandhok kiwa terdapat hiasan rete-rete yang menghubungkan dengan bangunan di depannya. Bangunan di depan gandhok kiwo beratap limasan, dan berarah hadap ke barat. Bangunan ini memiliki emper terbuka yang dihiasi oleh rete-rete. Saat ini emper bangunan telah ditutup menggunakan material kayu dan menjadi tempat tinggal.
Pada sisi timur bangunan terdapat pintu/regol yang menjadi batas Gang Rukunan. Pada atas regol terdapat tulisan atmosoeprobo 1840 (tahun Jawa).