| Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
| Komponen Pelengkap | : |
|
| Peristiwa Sejarah | : | 1. Sejarah Gerilya Jendreal Soedirman di Padukuhan WaruBerdasarkan penjelasan narasumber yaitu Rubiyem (93 tahun – Istri Noto Wiharjo) dan dan cucunya yang bernama Muryanti (58 tahun), pada masa lalu Noto Wiharjo yang bernama sepuh Kartoyo merupakan mantan tentara PETA yang menjabat sebagai jagabaya Kalurahan Girisekar hingga tahun 1965. Menurut penuturan narasumber, Noto Wiharjo adalah pribadi yang keras. Semasa hidup, Noto Wiharjo sering mengulang cerita perjalanan gerilya Jenderal Soedirman yang pernah singgah beberapa saat di rumahnya, baik kepada tetangga dan anak-anaknya. Sebagai tentara PETA, Noto Wiharjo tidak sendirian di Padukuhan Waru. Salah seorang tatangganya yang bernama Kardiyo (meninggal tahun 1955), adalah lulusan PETA yang kemudian menjabat sebagai Kepala Padukuhan Waru. Berdasarkan keterangan-keterangan yang dihimpun oleh narasumber dan sumber sejarah yang ada, perjalanan Gerilya Jenderal Soedirman yang berlangsung di Padukuhan Waru adalah sebagai berikut : Pada waktu tanggal 20 Desember 1948, pagi hari setelah meninggalkan Grogol Parangtritis kemudian singgah sejenak di Kalurahan Giricahyo jam 09.00, rombongan pasukan Gerilya Jenderal Soedirman melanjutkan perjalanan menuju Paliyan melewati Panggang. Setelah melalui wilayah Kalurahan Girimulyo Kapanewon Panggang, pasukan gerilya tiba di simpang tiga yang terletak di dekat Balai Padukuhan Kadisobo. Simpang tiga tersebut merupakan pertemuan jalan yang menghubungkan tiga wilayah, yakni : Padukuhan Legundi di arah barat, Padukuhan Waru di arah utara, dan Padukuhan Sawah di arah timur. Jalan menuju ke arah utara dan timur ujungnya akan menuju ke titik yang sama, yakni Pasar Njowa (Padukuhan Blimbing – Kalurahan Girisekar). Karena suatu alasan strategi, di tempat tersebut pasukan dipecah menjadi dua kelompok. Kelompok yang lebih kecil yang di dalamnya terdapat Jenderal Soedirman, Tjokropranolo, dan dokter Soewondo berjalan ke arah timur melalui Padukuhan Waru, sementara kelompok yang lebih besar berjalan ke arah timur melalui Padukuhan Sawah. Pada masa itu, jalan ke arah timur memiliki jarak tempuh yang lebih jauh dibandingkan jalan ke arah utara. Penelusuran data sejarah di Kadisobo selanjutnya mengerucut pada hasil wawancara empat narasumber yang berasal dari daerah tersebut. Narasumber yang bernama Ngadri (72 tahun) dan Sunoto (81 tahun) memberi kesaksian bahwasanya pada tahun 1948 perjalanan pasukan gerilya Jenderal Soedirman melewati Padukuhan Kadisobo dari arah barat (Panggang) kemudian bergerak ke arah Padukuhan Waru. Dua narasumber lainnya yang bernama Maryadi (90 tahun) dan Minto (82 tahun) menambahkan bahwa pada saat itu terdapat seorang warga Kadisobo yang bernama Marto Sentono (almarhum) ikut memikul tandu sang Jenderal. Menurut Maryadi, Marto Sentono ditunjuk untuk memikul tandu menggantikan seorang penandu yang lain. Pada masa itu pengangkut tandu selalu terdiri dari dua orang, pemikul di bagian depan dan dua orang pemikul lainnya di belakang. (Tjokropranolo, 1992 : 137) Minto menambahkan bahwa pada saat itu para pemanggul tandu bertugas secara estafet. Marto Sentono hanya memikul tandu Soedirman dari Padukuhan Kadisobo hingga Padukuhan Blimbing. Setelah sampai Blimbing, Marto Sentono kemudian diganti oleh Pemandu yang lain. Demikian berlangsung secara seterusnya. Marto Sentono meninggal pada tahun 2005 dalam usia 75 tahun. Informasi menarik lainnya dijelaskan oleh Sunoto, bahwa ketika tiba di Kadisobo, Jenderal Soedirman sempat mendapatkan jamuan minum. Namun sayang sekali alat yang digunakan untuk menjamu sang Jenderal diambil oleh Mardini – Mantan Danramil Panggang pada tahun 1970-an. Setelah dari Kadisobo, rombongan gerilya selanjutnya melewati Padukuhan Waru. Menurut penjelasan Rubiyem, saat itu pasukan datang dari arah barat dan singgah sebentar di rumah Rubiyem pada jam sore hari, atau sekitar jam 14.00 – 16.00. Jenderal Soedirman dan pasukannya bertemu dengan Noto Wiharjo di rumahnya. Menurut pengakuan Rubiyem lebih lanjut, pada saat itu beliau tidak berani menemui tamu suaminya, karena alasan adat kebiasaan yang berlaku bagi wanita pada masa itu. Meski demikian, Rubiyem masih bisa bercerita bahwa Jenderal Soedirman bersedia untuk singgah dan masuk ke rumah sisi depan meskipun beliau tidak bersedia untuk duduk di kursi. Jenderal Soedirman hanya duduk di lantai dan menyandarkan punggungnya di salah satu saka guru limasan di rumah bagian depan miliknya. Rubiyem bahkan masih bisa menunjukkan lokasi tempat Jenderal Soedirman bersandar pada waktu itu. Sesaat setelah dirasa waktu beristirahat sudah cukup, Jenderal Soedirman dan pasukan meninggalkan rumah Noto Wiharjo melanjutkan perjalanan ke arah timur, menuju Padukuhan Blimbing. Menurut penjelasan salah seorang sepupu Rubiyem yang bernama Wardi Sukamto (68 tahun), dua orang warga yang berasaal dari Padukuhan Waru turut membantu memikul tandu Jenderal Soedirman. Mereka adalah Kromo dan Martorejo. Kedua orang tersebut memikul tandu hanya sampai Padukuhan Blimbing. Selanjutnya di Pasar Njowa, kelompok pasukan gerilya Jenderal Soedirman bertemu dengan kelompok pasukan yang lain. Mereka melanjutkan perjalanan menuju Padukuhan Karangduwet Kapanewon Paliyan. 2. Sejarah Pelestarian Bangunan Berdasarkan keterangan penghuni rumah, bangunan yang pernah disinggahi oleh Jenderal Soedirman tidak banyak mengalami banyak perubahan. Perbaikan yang pernah terjadi hanya pada pemasangan lantai keramik dan penggantian penutup atap menjadi genteng press. Pada bagian bangunan limasan ini semula merupakan bangunan paling depan yang digunakan sebagai ruang tamu. Namun pada tahun 2002, terjadi pemindahan dapur yang semula berada di sisi timur kemudian dipindah menjadi bangunan yang berada di sisi paling depan saat ini. Meskipun eksisting bangunan yang ada terdiri atas empat buah bangunan beratap kampung dan limasan yang didirikan berjajar dari selatan ke utara, namun hanya bangunan nomor dua dari selatan yang menjadi titik singgah gerilya Jenderal Soedirman di Padukuhan Waru. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Ahli waris keluarga Noto Wiharjo |
| Nama Pengelola | : | Ahli waris keluarga Noto Wiharjo |