Loading

Gapura 1 Situs Ratu Boko

Status : Struktur Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Bangunan Gapura Kraton Ratu Boko yang terletak di Padukuhan Gatak, Kalurahan Bokoharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman merupakan sebuah kompleks bangunan Gapura yang terdiri dari dua Bangunan yaitu Gapura I dan Gapura II yang menghadap ke barat. Gapura I berada pada teras kedua, sedangkan gapura II berada pada teras ketiga. Gapura I  terdiri atas tiga buah gapura yang disusun berhimpitan membujur utara selatan, gapura yang di tengah berukuran lebih besar, disebut gapura utama, mempunyai lantai pintu masuk lebih tinggi daripada dua gapura yang mengapitnya (gapura apit). Masing-masing gapura mempunyai atap sendiri-sendiri, tetapi atap gapura utamanya sudah rusak sehingga tidak diketahui bentuk aslinya. Berdasarkan perbandingan dengan kedua gapura apitnya dapat diperkirakan bentuk gapura utama sama dengan gapura apit yaitu berbentuk paduraksa dengan puncak bangunan (atap) berbentuk ratna. 

Di depan gapura terdapat tangga naik, masing-masing memiliki empat jenjang untuk tangga naik menuju gapura utama dan tiga jenjang untuk menuju gapura apit. Pintu masuk gapura berupa lorong memanjang ke dalam.  

Status : Struktur Cagar Budaya
Periodesasi : Klasik
Bagian dari : Kompleks Ratu Boko: pendapa Ratu Boko dan Pagar Keliling Pendapa
Kawasan : Kawasan kraton Ratu Boko
Alamat : , Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.769402° S, 110.488625° E

SK Walikota/Bupati : SK BUP Sleman 53.6/Kep.KDH/A/2024


Lokasi Gapura 1 Situs Ratu Boko di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Bahan Utama : Batu
Jenis Struktur : Benteng
Bentuk : Memanjang
Dimensi Struktur
Panjang : 9.50 m
Lebar : 3.5 m
Tinggi : 3,45 m
Jenis Bangunan : Benteng
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Konteks : Ratu Boko merupakan suatu tinggalan budaya dari abad 8 M dan sangat erat kaitannya dengan perjalanan sejarah Kerajaan Mataram Kuno. Prasasti tertua yang berasal dari tempat ini adalah prasasti Abhayagiriwihara yang berangka tahun 714 Saka / 792 M.  Dalam prasasti disebutkan bahwa tempat ini merupakan wihara yang bertempat di atas gunung yang damai, yang merupakan tempat menyepi Sang Jatiningrat (Rakai Panangkaran) setelah mengundurkan diri sebagai Raja Mataram. Berdasarkan data dalam Prasasti Mantyasih 907 M, Rakai Panangkaran adalah seorang Raja Mataram Kuno yang paling lama memerintah yaitu selama 38 tahun (746 – 784 M).  Pada masa selanjutnya, kompleks Ratu Boko berubah fungsi dari wihara menjadi tempat kediaman seorang bangsawan, yaitu Rakai Walaing Pu Khumbayoni yang beragama Hindu. Latar belakang agama Hindu pada masyarakat di Situs Ratu Boko yang dikuasai oleh Rakai Walaing Pu Kumbhayoni dapat diketahui dari adanya tiga buah miniatur candi yang berdasarkan arsitekturnya mempunyai latar belakang agama Hindu. Bukti lain yang mengindikasikan agama Hindu sebagai agama masyarakat masa lalu di Situs Ratu Boko adalah adanya arca Durga, Ganesa, Balarama, dan Garuda (Soenarto dkk, 1993).    Sewaktu menjadi tempat tinggal seorang penguasa/bangsawan yang beragama Hindu yang bergelar Rakai Walaing Pu Khumbayoni, dapat diketahui bahwa tempat ini dulu bernama Walaing karena Rakai Walaing artinya penguasa di Walaing. Nama Walaing masih disebutkan dalam Prasasti Mantyasih 907 M tentang adanya seorang penulis prasasti yang bernama Pu Tarka yang berasal dari Walaing.  Hal ini berarti bahwa daerah Walaing yang diduga sebagai Bukit Boko sekarang masih merupakan kawasan pemukiman yang cukup penting sampai dengan awal abad kesepuluh (Kusen:1995).  Situs Ratu Boko yang terletak di atas perbukitan kapur tentu saja mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah bahwa tempat ini sangat sunyi dan tenang serta mempunyai panorama alam yang indah karena dapat mencakup pandangan terhadap kawasan Prambanan dan sekitarnya.  Faktor inilah kemungkinan yang dipilih oleh Rakai Panangkaran untuk mendirikan wihara sebagai tempat mengasingkan diri dari keduniawian setelah mengundurkan diri sebagai Raja Mataram.  Pada masa selanjutnya, sewaktu tempat ini dipergunakan sebagai tempat tinggal penguasa yang bernama Rakai Walaing Pu Khumbayoni, maka kebutuhan pun semakin beragam dan kompleks. Saat dipergunakan sebagai hunian inilah diduga Situs Ratu Boko berkembang. Berdasarkan tinggalan-tinggalan yang masih tersisa maka dapat diketahui cara-cara masyarakat masa lampau dalam mengelola lingkungan alam yang ada sebagai strategi untuk bertahan hidup. 
Riwayat Pemugaran : Pada 1938,  van Romondt melakukan susun coba pada kaki, tubuh, atap, saluran air pada kanan-kiri gapura dan pipi tangga, sehingga berhasil membuat gambar denah dan gambar rekonstruksi Gapura 1 dan Gapura 2 serta Candi Pembakaran.  Pada 1942-1945, pemugaran Situs Ratu Boko dipimpin oleh Suhamir dengan sasaran pemugaran Gapura 1, Gapura 2, Candi Pembakaran, Talud Teras II sisi barat , serta penelitian di sekitar Candi Pembakaran dan Candi Batu Putih.  Pada 1948, kegiatan pemugaran Situs Ratu Boko dilakukan pada Gapura 1.  Pada 1949, dilaksanakan penelitian dengan sasaran sekitar Pendapa dan Kolam. Pada 1952, Gapura 1 selesai dipugar. Pada 1954, Gapura 2 selesai dipugar. Teknologi pemugaran yang digunakan masih menggunakan teknologi masa Belanda yaitu dengan spesi semen dan perkuatan menggunakan cor besi bertulang.  Ambang pintu Gapura 1 dan Gapuran 2 dipugar dengan menggunakan plat beton besi bertulang. Akan tetapi, ambang pintu tengah Gapura 2 tidak dikembalikan dengan plat beton dan dibiarkan terbuka. Saat ini sebagian cor beton mengelupas, sehingga terlihat tulangan besi yang berkarat. 
Nilai Sejarah : Struktur Gapura 1 Keraton Ratu Boko berhubungan dengan sejarah perkembangan agama Hindu-Buddha dan tokoh bangsawan Kerajaan Mataram Kuno Rakai Walaing Pu Kumbhayoni.
Nilai Ilmu Pengetahuan : Struktur Gapura 1 Keraton Ratu Boko memiliki arti khusus bagi ilmu pengetahuan karena dapat menjadi objek pembelajaran bagi berbagai bidang ilmu
Nilai Pendidikan : Gapura 1 Keraton Ratu Boko dapat digunakan sebagai pembelajaran ilmu sejarah dan arkeologi
Nilai Budaya : Struktur Gapura 1 Keraton Ratu Boko merupakan salah satu karya unggul buatan bangsa Indonesia di masa lalu yang merupakan salah satu puncak pencapaian peradaban bangsa yang dibuat dengan sangat baik dan merupakan kesatuan dengan Komplek Ratu Boko.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
Pengelolaan
Nama Pengelola : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
Catatan Khusus : Koordinat pada SK: 443615, 9141161