| Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
| Bahan Utama | : | Batu, Tanah, Lain-lain |
| Jenis Struktur | : | Lain-lain |
| Bentuk | : | Memanjang |
| Panjang | : | 3.2 m |
| Lebar | : | 2.94 m |
| Jenis Bangunan | : | Lain-lain |
| Konteks | : | Kotagede adalah kota kerajaan pertama di dalam sejarah Kerajaan Mataram Islam. Sebagai kota kerajaan yang muncul pada akhir abad XVI, Kotagede mempunyai berbagai komponen kota sesuai dengan kebutuhan dan zamannya. Di antaranya, di pusat kota terdapat keraton di sisi selatan, Masjid Agung di sisi barat, dan pasar di sisi utara alun-alun. Di luar pusat kota terdapat pemukiman penduduk kota, taman, pemakaman kerajaan, atau komponen lainnya. Berdasarkan toponim, lokasi Kampung Alun-alun ini dahulunya merupakan alun-alun Kerajaan Mataram yang lama kelamaan berubah menjadi perkampungan.Di salah satu bagian Kampung Alun-alun terdapat deretan perumahan penduduk yang saat ini dikenal dengan nama Between Two Gates yang berarti di antara dua gerbang. Frasa Between Two Gates ini dicetuskan oleh Ir. Ra. Wondoamiseno dan Ir. Sigit Sayogya Basuki beserta tim peneliti dari Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada pada saat melakukan penelitian di Kotagede pada tahun 1986. Selain itu juga, gang tersebut oleh masyarakat juga dijuluki Gang Rukunan. Gang yang terbentuk tersebut sebetulnya merupakan tanah milik pribadi yang berupa ruang terbuka di antara dalem dan pendopo yang disebut dengan longkangan namun boleh dilewati oleh umum. Hal ini menunjukkan bentuk kerukunan antar warga. Berdasarkan informasi dari penghuni bangunan (Joko Nugroho), bangunan-bangunan di Between Two Gates didirikan setelah perang Diponegoro (1825-1830) dan telah diwariskan kepada enam generasi. Hal ini dibuktikan dengan angka tahun di atas gerbang Gang Rukunan sebelah timur yang bertuliskan Atmosoeprobo 1840 (tahun Jawa). |
| Nilai Sejarah | : | Di dalam Kompleks Between Two Gates termasuk struktur gerbang ini memiliki arti khusus bagi sejarah perkembangan tata ruang rumah Tradisional Jawa dan tata ruang kawasan Kotagede. |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Dalam bidang ilmu arsitektur, struktur gerbang ini memberikan informasi mengenai bentuk dan gaya komponen di permukiman dimana struktur ini menjadi pintu gerbang utama, sehingga dalam perancangannya memiliki satu gaya tertentu sebagai sebuah ungkapan tentang bentuk. Gerbang ini memiliki bentuk atau gaya yang identik dengan arsitektur Kalang.Dari sisi arkeologi dan atropologi, gerbang ini merupakan bukti fisik hasil karya masyarakat kala itu yang memberikan gambaran adanya identitas sebuah masyarakat. |
| Nilai Budaya | : | Gerbang Atmosoeprobo merupakan bukti nyata hasil karya manusia, menggambarkan nilai budaya yang tinggi terkait teknologi, seni rancang bangun, konsep kearifan lokal, dan filosofi bangunan dalam masyarakat Jawa. Salah satunya adalah Gang Rukunan yang merupakan manifestasi nilai-nilai sosial masyarakat Jawa melalui perubahan fungsi longkangan rumah yang bersifat pribadi menjadi ruang publik. Terdapat nilai-nilai, seperti saling menyapa, dan sopan santun yang terbentuk dalam Gang Rukunan tersebut. Proses tertanamnya nilai-nilai tersebut melahirkan suasana kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat di Between Two Gates. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | S. Abdul Rahman |
| Nama Pengelola | : | S. Abdul Rahman |
| Catatan Khusus | : | Koordinat pada SK: 7°49'52.3031"S 110°24'00.8299"E; 49M 433877 E 9134316 N |