Loading

Deskripsi Singkat

Gua Jepang Nomor 14 sebelum penomoran ulang tahun 2016 oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (sekarang Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X) disebut dengan Gua Jepang Nomor 18. 

Gua Jepang Nomor 15 terletak di lereng bukit. Gua Jepang Nomor 15 berdekatan dengan Gua Jepang Nomor 16 dan 17 yang terletak di sebelah timur lautnya. Di depan Gua Jepang Nomor 15 terdapat tanah lapang yang dulunya digunakan oleh tentara Jepang sebagai tempat upacara. Saat ini tanah lapang telah ditanami pohon jati. 

Gua Jepang Nomor 15 menghadap ke timur. Gua membentuk rongga dan menyatu dengan lereng bukit di dalam bukit serta sebagian menjorok keluar. Gua terbuat dari beton bertulang dengan denah berbentuk ‘U’ yang berukuran panjang 10,65 m, lebar 6,17 m pada bagianruang dalam, serta tinggi ruang gua 1,44 m. 

Lubang pintu gua lebarnya 140 cm serta tingginya 141 cm. Pada masing-masing lubang pintu terdapat sebuah lorong yang menghubungkan pintu masuk gua dengan ruangan bagian dalam. Lorong gua memiliki ukuran panjang 4,22 m, lebar 1,34 m pada lorong selatan, serta lebar 1,46 m pada lorong utara. Gua tidak memiliki lubang ventilasi.

Status : Struktur Cagar Budaya
Periodesasi : Kolonial (Belanda/Cina)
Alamat : Ngreco, Seloharjo, Pundong, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
8.002977° S, 110.330368° E

SK Walikota/Bupati : SK BUP Bantul 504/2024


Lokasi Goa Jepang Nomor 15 di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Bahan Utama : Batu, Tanah, Lain-lain
Jenis Struktur : Benteng
Bentuk : Memusat
Dimensi Struktur
Panjang : 10,65 m
Lebar : 6,17 m
Tinggi : 2,71 m
Jenis Bangunan : Benteng
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Konteks : Tentara pendudukan Jepang mulai masuk ke Yogyakarta sejak tanggal 6 Maret 1942, dua hari sebelum pemerintah Hindia-Belanda menyerah kepada Jepang. Setelah pemerintahan sipil Hindia-Belanda pergi, maka kekuasaan dipegang oleh pemerintah militer Jepang. Untuk mempertahankan kekuasaannya dari serbuan tentara sekutu yang bisa menyerang kapan saja, maka pemerintahan militer Jepang membangun sistem pertahanan di tempat-tempat yang diperkirakan akan menjadi tempat pendaratan tentara sekutu.Sebagai upaya pertahanan daerah Yogyakarta, pemerintah militer Jepang mendirikan gua-gua perlindungan dan pertahanan yang strategis meliputi Kaliurang di sebelah utara, Lapangan Udara Maguwo di bagian tengah, dan Pundong di sekitar pantai Laut Selatan. Dalam Kitab Penoentoen Pembelaan Tanah Air untuk Oemoem, Boelan 12, tahoen 19 shoowa osamu 1602 Butai, dijelaskan bahwa terdapat tiga jenis pengawasan, salah satunya yakni pengawasan pantai (Kaigan kanshi). Oleh karena itu, selain membangun sistem pertahanan di Kaliurang dan Maguwo, Jepang juga mendirikan sistem pertahanan di perbukitan Pundong dan di dekat Pantai Parangtritis, menghadap ke arah pantai selatan. Jepang memperkirakan bahwa tentara sekutu dari Australia akan mendaratkan pasukannya di lokasi tersebut. Gua pertahanan dan perlindungan yang berada di sekitar pantai dengan gua-gua yang berada di perbukitan merupakan satu kesatuan strategi pertahanan yang saling terkait. Gua-gua di perbukitan tersebut antara yang satu dengan yang lain dihubungkan oleh jalan-jalan berparit.Terdapat 20 gua buatan yang dibangun di sekitar pantai laut selatan. Dilihat dari bentuknya, Gua Jepang di perbukitan Pundong mempunyai fungsi yang beragam, antara lain:1. Gua untuk pengintaian dan penembakan yang diindikasikan menggunakan senjata artileri berat (meriam), terletak di tepi pantai, jumlahnya 1 gua, yaitu gua nomor 19 (berada di wilayah Kabupaten Gunungkidul);2. Gua-gua untuk pengintaian dan penembakan yang diindikasikan menggunakan senapan mesin ringan, terletak di lereng-lereng pegunungan yang menghadap lembah atau dataran rendah, jumlahnya 6 gua, yaitu gua nomor 4, 5, 9, 10, 13, dan 18;3. Gua-gua yang bagian atasnya dilengkapi menara pengintaian, terletak di puncak pegunungan, jumlahnya 3 gua, yaitu gua Nomor 4, 7, dan 11;4. Gua untuk kebutuhan logistik dan akomodasi pasukan terletak di dekat lapangan upacara, jumlahnya 1 gua, yaitu gua nomor 16; dan5. Gua-gua khusus untuk penyimpanan amunisi dan bunker pasukan, jumlahnya 8 gua, yaitu gua nomor 1, 3, 6, 8, 12, 14, 15, dan 17.Di antara gua-gua tersebut yang masuk dalam wilayah Kabupaten Bantul ialah gua nomor 2 sampai 17. Sedangkan gua nomor 1, 19, dan 20 masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Gunungkidul.
Nilai Sejarah : Keberadaan struktur pertahanan tersebut membuktikan bahwa wilayah Pundong dahulu dianggap penting bagi Jepang, sehingga untuk mempertahankan wilayah tersebut, dibangunlah bunker untuk pertahanan terhadap musuh.
Nilai Ilmu Pengetahuan : Menunjukkan tipe/model struktur pertahanan berbentuk bunker berbahan cor beton campuran semen dan kerikil, serta tatanan batu karang. Gua-gua tersebut ditempatkan di perbukitan yang dekat dengan pantai sehingga menjadi satu kesatuan strategi pertahanan yang saling terkait.
Nilai Budaya : Struktur yang mewakili puncak pencapaian budaya tertentu, yaitu strategi pertahanan Jepang dalam menguasai suatu dataran tinggi atau perbukitan pada Perang Dunia II.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Tanah milik Haryono
Pengelolaan
Nama Pengelola : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
Catatan Khusus : Koordinat pada SK: 49 M, X: 426206, Y: 9115313-008°00'10.684939"S 110°19'49.335046"E