Loading

Deskripsi Singkat

Gua Jepang Nomor 4 terletak di sisi paling utara dibandingkan dengan struktur-struktur lainnya. Gua Jepang Nomor 4 yang terletak 142 m sebelah barat laut Gua Jepang Nomor 3. Jarak Gua Jepang Nomor 4 terhadap Gua Jepang Nomor 5 adalah 272 m.

Struktur ini memiliki denah persegi panjang, dengan ukuran panjang 3,5 m, lebar 3,1 m, dan tinggi 1,8 cm serta ketebalan dinding 62 cm. Gua menghadap ke arah timur dengan ukuran bekas kusen 180 cm x 100 cm serta lubang pintu 180 cm x 70 cm. Lantai gua berupa plesteran semen. Gua dengan lubang pintu masuk pada sisi timur. Pada dinding sisi barat terdapat sebuah lubang embrasure yang mengarah ke arah barat yang merupakan lembah. Pada atap struktur sisi utara terdapat satu lubang ventilasi dengan ukuran luar 60 cm x 50 cm, ukuran lubang 30 cm x 30 cm, dan tebal ventilasi 15 cm. Gua Jepang Nomor 4 memiliki satu lubang pengintaian dengan ukuran 70 cm x 70 cm menyempit pada bagian tengah dengan ukuran 32 cm. Pada sisi barat terdapat meja yang menempel pada dinding gua di bawah lubang pengintaian dengan lebar 40 cm, tebal 15 cm, serta tinggi 72 cm.

Status : Struktur Cagar Budaya
Periodesasi : Kolonial (Belanda/Cina)
Alamat : Ngreco, Seloharjo, Pundong, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.999777° S, 110.331444° E

SK Walikota/Bupati : SK BUP Bantul 456/2023


Lokasi Goa Jepang Nomor 4 di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Bahan Utama : Batu Karang,Batu, Tanah, Lain-lain
Jenis Struktur : Benteng
Bentuk : Memusat
Dimensi Struktur
Panjang : 3,5 m
Lebar : 3,1 m
Tinggi : 1,8 m
Jenis Bangunan : Benteng
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Konteks : Tentara pendudukan Jepang mulai masuk ke Yogyakarta sejak tanggal 6 Maret 1942, dua hari sebelum pemerintah Hindia-Belanda menyerah kepada Jepang. Setelah pemerintahan sipil Hindia-Belanda pergi, maka kekuasaan dipegang oleh pemerintah militer Jepang. Untuk mempertahankan kekuasaannya dari serbuan tentara sekutu yang bisa menyerang kapan saja, maka pemerintahan militer Jepang membangun sistem pertahanan di tempat-tempat yang diperkirakan akan menjadi tempat pendaratan tentara sekutu.Sebagai upaya pertahanan daerah Yogyakarta, pemerintah militer Jepang mendirikan gua-gua perlindungan dan pertahanan yang strategis meliputi Kaliurang di sebelah utara, Lapangan Udara Maguwo di bagian tengah, dan Pundong di sekitar pantai Laut Selatan. Dalam Kitab Penoentoen Pembelaan Tanah Air untuk Oemoem, Boelan 12, tahoen 19 shoowa osamu 1602 Butai, dijelaskan bahwa terdapat tiga jenis pengawasan, salah satunya yakni pengawasan pantai (Kaigan Kanshi). Oleh karena itu, selain membangun sistem pertahanan di Kaliurang dan Maguwo, Jepang juga mendirikan sistem pertahanan di perbukitan Pundong dan di dekat Pantai Parangtritis, menghadap ke arah pantai selatan. Jepang memperkirakan bahwa tentara sekutu dari Australia akan mendaratkan pasukannya di lokasi tersebut. Gua pertahanan dan perlindungan yang berada di sekitar pantai dengan gua-gua yang berada di perbukitan merupakan satu kesatuan strategi pertahanan yang saling terkait. Gua-gua di perbukitan tersebut antara yang satu dengan yang lain dihubungkan dengan fasilitas jalan-jalan berparit.Dilihat dari bentuknya, Gua Jepang di perbukitan Pundong mempunyai fungsi yang beragam, antara lain:1. Gua untuk pengintaian dan penembakan yang diindikasikan menggunakan senjata artileri berat (meriam) terletak di tepi pantai, jumlahnya 1 gua (gua nomor 19)2. Gua-gua untuk pengintaian dan penembakan yang diindikasikan menggunakan senapan mesin ringan, terletak di lereng-lereng pegunungan yang menghadap lembah atau dataran rendah, jumlahnya 6 gua (gua nomor 4, 5, 9, 10, 13, 18, dan 20)3. Gua-gua yang bagian atasnya dilengkapi menara pengintaian, terletak di puncak-puncak pegunungan, jumlahnya 3 gua (gua nomor 2, 7, dan 11)4. Gua untuk kebutuhan logistik dan akomodasi pasukan terletak di dekat lapangan upacara, jumlahnya 1 gua (gua nomor 16)5. Gua-gua khusus untuk penyimpanan amunisi dan bunker pasukan, jumlahnya 8 gua (gua nomor 1, 3, 6, 8, 12, 14, 15, dan 17)Di antara gua-gua tersebut yang masuk dalam wilayah Kabupaten Bantul ialah gua nomor 2 sampai 18. Sedangkan gua nomor 1, 19, dan 20 masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Gunungkidul.
Nilai Sejarah : Keberadaannya membuktikan bahwa wilayah Pundong dahulunya dianggap penting bagi Jepang, sehingga untuk mempertahankan wilayah tersebut, dibangunlah bunker pada masa pendudukan Jepang.
Nilai Ilmu Pengetahuan : Menunjukkan tipe/model struktur pertahanan berbentuk bunker berbahan cor beton campuran semen dan kerikil, serta tatanan batu karang. Gua-gua tersebut ditempatkan di perbukitan yang dekat dengan pantai sehingga menjadi satu kesatuan strategi pertahanan yang saling terkait. Selain itu Gua Jepang Nomor 8 menjadi bahan penelitian bagi ilmu arkeologi, geologi, antropologi, sejarah, arsitektur, teknik sipil, serta militer.
Nilai Budaya : Struktur yang mewakili puncak pencapaian budaya tertentu, yakni pengaruh budaya Jepang.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Tanah Kasultanan atau Sultanaat Grond
Pengelolaan
Nama Pengelola : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X dan masyarakat Seloharjo
Catatan Khusus : Koordinat pada NR: 49 M X : 0426324 Y : 9115667, Mdpl : 3507°59'54.69"S 110°19'48.25"E