Loading

Deskripsi Singkat

Gua Jepang Nomor 7 berada di sebelah barat laut Gua Jepang 6 dan di sebelah utara Gua Jepang Nomor 5. Gua Jepang Nomor 7 menghadap timur dan terbuat dari bahan cor beton. Dinding serta lantainya berupa plesteran semen. Struktur ini terdiri dari dua bagian, bagian yang berada di bawah tanah dan di atas tanah. Kedua bagian memiliki denah dan ukuran yang berbeda. Pintu masuk terdapat di bagian yang berada di bawah tanah. Gua Nomor 7 bagian atasnya dilengkapi menara pengintaian.

Struktur yang berada di bawah tanah memiliki denah persegi dengan ukuran panjang 5,6 m, lebar 5,6 m, tinggi 2,2m dan terbagi menjadi tiga ruang, ukuran masing-masing ruang:
a. Ruang I memiliki panjang 4 m, dan lebar 1,8 m. 
b. Ruang II memiliki panjang 2,21 m dan lebar 2,01 m. 
c. Ruang III memiliki panjang 2 m dan lebar 1,06 m. 

Ketinggian masing-masing ruang sekitar 1,83 m. Lubang pintu masuk berada di Ruang I dengan ukuran 180 cm x 107 cm. Pada lantai di depan lubang pintu terdapat bekas lubang kusen berukuran 10 cm x 10 cm. Ruang II dan ruang III terletak di sebelah utara Ruang I dan dapat diakses melalui lubang tanpa daun pintu. Lubang pintu Ruang II berukuran 180 cm x 95 cm, sedangkan lubang pintu Ruang III berukuran 180 cm x 96 cm. Pada ruang III terdapat meja dari bahan cor yang mempunyai ukuran panjang 200 cm dan lebar 17 cm, sedangkan tinggi meja dari lantai 70 cm. Ruang bawah tidak memiliki lubang embrasure atau ventilasi.

Pada langit-langit Ruang I terdapat lubang untuk naik ke bagian atas, berukuran 117 cm x 70 cm. Struktur yang berada di atas tanah memiliki denah segi delapan berupa dinding cor dengan tebal 55 cm. Dinding segi delapan tersebut terbagi menjadi dua sisi, yaitu satu sisi berukuran lebar 140 cm, tinggi 100 cm, dan sisi lainnya berukuran lebar 70 cm, serta tinggi 100 cm. 

Ruang atas memiliki empat lubang embrasure yang terdapat pada sisi yang lebih lebar yakni yang berukuran 140 cm x 100 cm. Keempat lubang embrasure mengarah ke empat penjuru mata angin, yaitu barat, timur, selatan, dan utara. Lubang embrassure menyempit di bagian dalam. Lubang di bagian dalam berukuran 25 cm x 15 cm dan lubang di bagian luar berukuran 98 cm x 30 cm. Bentuk lubang embrasure yang melebar keluar dapat memudahkan jarak pandang ketika digunakan untuk mengintai.

Status : Struktur Cagar Budaya
Periodesasi : Kolonial (Belanda/Cina)
Alamat : Ngreco, Seloharjo, Pundong, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
8.001531° S, 110.330778° E

SK Walikota/Bupati : SK BUP Bantul 459/2023


Lokasi Goa Jepang Nomor 7 di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Bahan Utama : Batu Karang,Batu, Tanah, Lain-lain
Jenis Struktur : Benteng
Bentuk : Memusat
Dimensi Struktur
Panjang : 5,6 m
Lebar : 5,6 m
Tinggi : 2,2 m
Jenis Bangunan : Benteng
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Konteks : Tentara pendudukan Jepang mulai masuk ke Yogyakarta sejak tanggal 6 Maret 1942, dua hari sebelum pemerintah Hindia-Belanda menyerah kepada Jepang. Setelah pemerintahan sipil Hindia-Belanda pergi, maka kekuasaan dipegang oleh pemerintah militer Jepang. Untuk mempertahankan kekuasaannya dari serbuan tentara sekutu yang bisa menyerang kapan saja, maka pemerintahan militer Jepang membangun sistem pertahanan di tempat-tempat yang diperkirakan akan menjadi tempat pendaratan tentara sekutu.Sebagai upaya pertahanan daerah Yogyakarta, pemerintah militer Jepang mendirikan gua-gua perlindungan dan pertahanan yang strategis meliputi Kaliurang di sebelah utara, Lapangan Udara Maguwo di bagian tengah, dan Pundong di sekitar pantai Laut Selatan. Dalam Kitab Penoentoen Pembelaan Tanah Air untuk Oemoem, Boelan 12, tahoen 19 shoowa osamu 1602 Butai, dijelaskan bahwa terdapat tiga jenis pengawasan, salah satunya yakni pengawasan pantai (Kaigan Kanshi). Oleh karena itu, selain membangun sistem pertahanan di Kaliurang dan Maguwo, Jepang juga mendirikan sistem pertahanan di perbukitan Pundong dan di dekat Pantai Parangtritis, menghadap ke arah pantai selatan. Jepang memperkirakan bahwa tentara sekutu dari Australia akan mendaratkan pasukannya di lokasi tersebut. Gua pertahanan dan perlindungan yang berada di sekitar pantai dengan gua-gua yang berada di perbukitan merupakan satu kesatuan strategi pertahanan yang saling terkait. Gua-gua di perbukitan tersebut antara yang satu dengan yang lain dihubungkan dengan fasilitas jalan-jalan berparit.Dilihat dari bentuknya, Gua Jepang di perbukitan Pundong mempunyai fungsi yang beragam, antara lain:1. Gua untuk pengintaian dan penembakan yang diindikasikan menggunakan senjata artileri berat (meriam) terletak di tepi pantai, jumlahnya 1 gua (gua nomor 19)2. Gua-gua untuk pengintaian dan penembakan yang diindikasikan menggunakan senapan mesin ringan, terletak di lereng-lereng pegunungan yang menghadap lembah atau dataran rendah, jumlahnya 6 gua (gua nomor 4, 5, 9, 10, 13, 18, dan 20)3. Gua-gua yang bagian atasnya dilengkapi menara pengintaian, terletak di puncak-puncak pegunungan, jumlahnya 3 gua (gua nomor 2, 7, dan 11)4. Gua untuk kebutuhan logistik dan akomodasi pasukan terletak di dekat lapangan upacara, jumlahnya 1 gua (gua nomor 16)5. Gua-gua khusus untuk penyimpanan amunisi dan bunker pasukan, jumlahnya 8 gua (gua nomor 1, 3, 6, 8, 12, 14, 15, dan 17)Di antara gua-gua tersebut yang masuk dalam wilayah Kabupaten Bantul ialah gua nomor 2 sampai 18. Sedangkan gua nomor 1, 19, dan 20 masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Gunungkidul.
Nilai Sejarah : Keberadaannya membuktikan bahwa wilayah Pundong dahulunya dianggap penting bagi Jepang, sehingga untuk mempertahankan wilayah tersebut, dibangunlah bunker pada masa pendudukan Jepang.
Nilai Ilmu Pengetahuan : Menunjukkan tipe/model struktur pertahanan berbentuk bunker berbahan cor beton campuran semen dan kerikil, serta tatanan batu karang. Gua-gua tersebut ditempatkan di perbukitan yang dekat dengan pantai sehingga menjadi satu kesatuan strategi pertahanan yang saling terkait. Selain itu Gua Jepang Nomor 8 menjadi bahan penelitian bagi ilmu arkeologi, geologi, antropologi, sejarah, arsitektur, teknik sipil, serta militer.
Nilai Budaya : Struktur yang mewakili puncak pencapaian budaya tertentu, yakni pengaruh budaya Jepang.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Tanah Kasultanan atau Sultanaat Grond
Pengelolaan
Nama Pengelola : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X dan masyarakat Seloharjo
Catatan Khusus : Koordinat pada NR: 8°0'5.51"S 110°19'50.80"E343 mdpl