Loading

Los Lama Pasar Grogol

Status : Bangunan Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Pasar merupakan pusat kegiatan ekonomi masyarakat. Ada beberapa pasar yang dibangun pada masa Kolonial di Kabupaten Bantul yang hingga kini masih berdiri dan berfungsi. Salah satu pasar tersebut adalah Pasar Grogol yang terletak di Grogol Padukuhan Carikan, Kalurahan Mulyodadi, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul. Pasar Grogol dikenal sebagai pusat penjualan gula jawa di wilayah setempat. 
Los Lama Pasar Grogol merupakan pasar kabupaten dan digunakan untuk berjualan setiap hari. Di Pasar Grogol terdapat tiga unit los yang salah satu di antaranya merupakan los lama dengan konstruksi baja. Los lama tersebut berada di bagian sebelah selatan kompleks Pasar Grogol. Los lama berupa bangunan panjang, terbuka/tanpa dinding, dengan atap berbentuk pelana atau Kampung. Denah los lama Pasar Grogolberbentuk persegi panjang dengan arah bangunan membujur timur-barat. Ukuran denah los lama Pasar Grogol yaitu 12,44 m x 3,5 m. Tinggi lantai los lama pasar dari permukaan tanah 29 cm. Tinggi los dari permukaan lantai hingga bubungan atap 3,51 m.
Struktur Los Lama Pasar Grogol menggunakan beberapa jenis baja profil, yaitu baja profil I (INP), baja profil C (CNP) atau canal, baja profil siku atau L. Struktur baja tersebut terutama digunakan untuk membentuk kuda-kuda yang menyatu dengan tiang, serta gording. Komponen-komponen struktur baja tersebut dihubungkan dengan pelat dan baut baja. Bagian tutup keong menggunakan bahan seng gelombang. Struktur pada Los lama Pasar Grogol menggunakan tiang tunggal. Los lama memiliki empat buah tiang yang terdiri dari dua batang baja profil C yang disambung dengan pelat baja dan baut Ø 22 mm. Baja profil C berukuran 8 cm x 4,5 cm x 4,5 cm dengan ketebalan 0,5 cm. Struktur tiang dan kuda-kuda merupakan satu kesatuan. Masing masing tiang terdapat umpak yang terbuat dari pasangan bata berplester. Umpak tersebut berukuran 44 cm x 24 cm, serta tinggi 91 cm. Umpak pada kedua ujung los diberi penguatan dengan plasteran semen selebar 54 cm pada kedua sisinya, setinggi 20 cm. Lantai los lama pasar ditutup dengan tegel abu-abu berukuran 20 cm x 20 cm.
Struktur yang membentuk kerangka atap Los lama Pasar Grogol terdiri atas kuda-kuda, bubungan (nok), gording, reng, usuk, sekur, dan penutup atap. Kuda-kuda memiliki fungsi menopang tekanan pada rangka atap dan langsung menyalurkannya ke struktur tiang. Posisi kuda-kuda ada di bagian atas setiap tiang. Kuda-kuda dibentuk dari baja profil C. Bubungan atau balok nok adalah struktur yang mengikat kuda-kuda satu dengan yang lainnya. Posisi nok memanjang sesuai dengan panjang rangka atap. Bubungan menggunakan baja profil I. Tiang, kuda-kuda, dan bubungan disambung menggunakan pelat baja dan baut Ø 22 mm. Di ujung timur dan barat terdapat sekur atau struktur penyokong, yaitu dua baja siku yang dipasang miring di antara tiang dan balok nok. Sekur berfungsi menopang tutup keong yang terbuat dari seng gelombang. Tutup keong berfungsi menahan tampias air hujan. Tutup keong pada los lama pasar sisi timur terdapat plat baja bertuliskan: BRAAT SOERABAIA DJOGJA TEGAL SOEKABOEMI.
Gording adalah struktur tumpuan dari usuk, reng, dan genteng. Gording menggunakan baja profil C. Usuk adalah struktur rangka atap yang menjadi tumpuan reng dan genteng. Usuk menggunakan baja siku. Posisi usuk pada bagian atas menumpu pada balok nok, sedangkan bagian pangkal menumpu pada gording. Reng adalah struktur rangka atap yang berada tepat di bawah genteng. Reng berupa baja profil L dan berfungsi sebagai tempat bersandarnya genteng. Penutup atap untuk Los Lama Pasar Grogol menggunakan genteng kripik dari bahan tanah liat. Genteng dipasang pada atap yang miring seperti atap pelana atau atap kampung dengan menerapkan sistem saling mengikat dan mengunci (inter-locking). Bagian bubungan menggunakan kerpus yang diperkuat dengan semen.
Bangunan Los Lama Pasar Grogol tidak memiliki ragam hias, baik yang berupa ragam hias arsitektur maupun ragam hias dekoratif. Estetika bangunan ini terbentuk oleh struktur berulang dengan kontras antara rangka baja yang ringan dan umpak solid/pejal yang menopangnya. Pengaruh arsitektur Eropa ditunjukkan dari penggunaan konstruksi baja yang diproduksi oleh perusahaan milik Belanda. Pengaruh arsitektur Jawa dapat dilihat dari tipologi los pasar terbuka dengan atap kampung.

Status : Bangunan Cagar Budaya
Alamat : Dukuh Carikan, Mulyodadi, Bambanglipuro, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.87486° S, 110.36105° E

SK Walikota/Bupati : SK BUP Bantul 269/2023


Lokasi Los Lama Pasar Grogol di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Komponen Pelengkap :
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Peristiwa Sejarah : Pasar merupakan salah satu ruang pusat kegiatan ekonomi. Pada masa Kolonial keberadaan pasar menjadi salah satu aspek yang diperhatikan oleh pemerintah Hindia Belanda. Salah satunya disebutkan dalam Kolonial Tijdschrift, 15 Juli 1873 bahwa Pemerintah Kolonial menganggap penting perdagangan domestik kecil, sehingga di semua titik perdagangan perlu dibangun pasar.Perkembangan pasar di Jawa mengalami kemajuan yang signifikan pada tahun 1914, ketika Gubernur Jendral Hindia Belanda yang bernama Alexander Willem Frederik Idenburg mengeluarkan Besluit Decentralisatie Marktwezen tertanggal 30 April 1914 No. 379 tentang penyerahan lembaga pasar kepada dewan lokal. Peraturan tersebut dimuat dalam Staatsblad 1914 No. 380, diberlakukan untuk seluruh Jawa dan Madura. Adanya penyerahan lembaga pasar kepada dewan lokal, membuat perhatian terkait pembangunan maupun pengembangan pasar yang berada di daerah dapat lebih intensif.Di Kabupaten Bantul, jejak keberadaan los-los pasar yang dibangun masa Kolonial sebagian masih dapat ditemui di beberapa lokasi. Hingga kini, pasar-pasar tersebut sebagian masih digunakan dan ada juga yang sudah mulai ditinggalkan. Menurut Gegevens Over Djokjakarta 1926, menjelaskan bahwa pada mulanya pasar-pasar di Yogyakarta dibangun dengan bahan kayu dan rangka atap terbuat dari bambu. Penggunaan bahan tersebut memang cenderung membutuhkan banyak perawatan, terutama bambu. Oleh karena itu secara berkala bahan bambu diganti dengan kayu jati.Pada tahun 1923, Pasar Gede (saat ini Pasar Beringharjo) di Kota Yogyakarta yang semula dibangun dengan struktur kayu mulai diganti dengan beton. Pekerjaan tersebut diserahkan kepada Hollandsche Beton Maatschappij dan berlangsung hingga paruh pertama tahun 1926. Selain Pasar Gede pemerintah Hindia Belanda di Yogyakarta juga mulai mempertimbangkan untuk mengganti bahan bangunan di pasar yang masih terbuat dari kayu untuk mengurangi biaya pemeliharaan. Penggantian tersebut juga didorong oleh rencana perluasan pasar di beberapa wilayah pada tahun 1925.Pertimbangan untuk mengganti bahan kayu pada bangunan pasar akhirnya bermuara pada pilihan beton atau baja. Meskipun harga keduanya tidak berbeda jauh, namun pilihan pada akhirnya jatuh kepada bahan baja. Secara keseluruhan memang bahan beton memiliki keunggulan monolit dan biaya perawatan yang lebih murah. Meskipun demikian bahan baja dipilih karena dapat dengan mudah dipindahkan. Faktor mobilitas bahan baja dirasa lebih penting untuk situasi pasar-pasar di Yogyakarta saat itu dibandingkan dengan bahan beton.Dari plat yang ditemukan pada bagian tutup keong Los Lama Pasar Grogol terdapat tulisan BRAAT. BRAAT merupakan nama perusahaan penyedia bahan baja yang bernama lengkap “N.V. ROTT. MACHINEFABR. BRAAT ROTTERDAM”. N.V. Machinefabriek Braat merupakan salah satu pabrik mesin dan pengecoran logam paling modern dan paling besar di Hindia Belanda yang berdiri pada tahun 1901. Pabrik tersebut didirikan di Boomstraat, Kawasan industri Jalan Gatotan, Surabaya. N.V. Machinefabriek Braat pada mulanya berfokus pada produksi fasilitas pabrik gula di Jawa Timur. Namun dalam perkembangannya juga memproduksi logam untuk kebutuhan lain seperti kerangka utama untuk bangunan stasiun kereta api dan pasar. Selain di Surabaya, pabrik ini juga mempunyai cabang di kota-kota lain sebagaimana dituliskan dalam plat tersebut, yakni Surabaya, Yogyakarta, Tegal, dan Sukabumi. Cabang pabrik lainnya terletak di Rotterdam dan Medan.
Nilai Sejarah : Berkaitan erat dengan tahap perkembangan pasar pada masa Kolonial yang menerapkan teknologi baja profil untuk bangunan los pasar;
Nilai Ilmu Pengetahuan : Mempunyai potensi sebagai obyek penelitian untuk kepentingan perkembangan ilmu pengetahuan. Keberadaan Los Lama Pasar Grogol menjadi bukti tingkat pemahaman dan pengetahuan tentang konstruksi dan arsitektur bangunan dengan material baja. Konstruksi baja kuat dan dapat bertahan lama. Hal ini terbukti ketika Yogyakarta dilanda gempa tektonik pada tanggal 27 Mei 2006, bangunan Los Lama Pasar Grogol tetap kokoh berdiri.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Kraton Yogyakarta
Pengelolaan
Nama Pengelola : Dinas Perdagangan dan UMKM Kabupaten Bantul.
Catatan Khusus : Koordinat SK : X: 429566 Y: 9129134