| Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
| Bahan Utama | : | Batu, Tanah, Lain-lain |
| Jenis Struktur | : | Lain-lain |
| Bentuk | : | Beberapa Struktur |
| Diameter | : | Luas lahan 27,6 Ha |
| Jenis Bangunan | : | Lain-lain |
| Peristiwa Sejarah | : | Sumber-sumber sejarah menyebutkan bahwa pada saat pemerintahan Sultan Agung, Keraton Mataram Islam dipindahkan ke daerah Kerto yang berjarak sekitar 5 km arah selatan dari Kotagede. Menurut Adrisijanti (1997) yang mengutip informasi dari Babad Momana dan Babad ing Sengkala mencatat peristiwa pembangunan fisik di Kota Mataram dan wilayah-wilayah sekitarnya, di antaranya: a) Tahun 1617 penyiapan lahan di Kerto untuk calon lokasi keraton. b) Tahun 1618 raja (Sultan Agung) mendiami keraton di Kerto, meskipun ibu suri masih di Kotagede. c) Tahun 1620 mendirikan Prabayaksa di Kerto. d) Tahun 1625 Keraton Kerto diberi Sitiinggil. e) Tahun 1629 mulai membangun pemakaman di Girilaya dipimpin Panembahan Juminah. f) Tahun 1632 mulai membuka hutan di Bukit Merak untuk pemakaman kerajaan. g) Tahun 1637 mulai membangun bendungan di Sungai Opak. h) Tahun 1643 mulai membuat segaran di Plered. i) Tahun 1645 pemakaman di Bukit Merak selesai dibuat dan diberi nama Imogiri. Satu tahun setelah pembangunan Pemakaman Imogiri, Sultan Agung wafat di Kerto tahun 1646, kemudian digantikan oleh Sunan Amangkurat I dengan gelar Susuhanan Mangkurat Senopati Ingalaga Ngabdurahman Sayidinpanatagama (Adrisijanti, 1997: 57–58). Atas kehendak raja, kota pusat Kerajaan Mataram Islam dipindahkan dari Kerto menuju Plered. Dalam Babad ing Sangkala tercatat perpindahan sunan ke keraton yang baru terjadi pada tahun 1647 (Ricklefs, 1978 dalam Adrisijanti, 1997: 74). Ketika Sultan Agung pindah dari Keraton Kotagede ke Keraton Kerto pada tahun 1618, diperkirakan Kotagede tidak serta merta ditinggalkan oleh penduduknya. Menurut Adrisijanti (1997), Kotagede bahkan tetap melayani sebagian kebutuhan barang dan jasa masyarakat Mataram-Islam meskipun ibukota kerajaan telah berpindah ke Plered (Adrisijanti, 1997: 196-197). Diperkirakan antara tahun 1618–1647 Kotagede masih memiliki kedudukan penting sebagai kota Kerajaan Mataram Islam meskipun raja telah berkedudukan di Keraton Kerto. Jarak antara Kotagede ke Kerto juga tidak lebih dari 5 km. Letak posisi keberadaan Keraton Kerto sendiri tepat berada di sebelah selatan dari Kotagede dan sama-sama terletak tepat di tepian sebelah timur Sungai Gajahwong. Kerto berada lebih ke arah hilir tepatnya di dekat titik pertemuan Sungai Gajahwong dengan Sungai Opak. Deskripsi Keraton Kerto dapat diperoleh dari catatan Jan Vos, salah seorang utusan Belanda yang berkunjung ke Kerto pada 9 September 1624 memberikan sedikit gambaran mengenai Keraton Kerto tersebut. Graaf (1986: 107–115) menjelaskan secara terperinci mengenai catatan delegasi VOC yang pernah mengunjungi Kerto yang menggambarkan keberadaan alun–alun yang berupa lapangan luas datar dan bersih yang dikelilingi pagar kayu, di kedua sisinya terdapat suatu bangsal yang panjang dan terbuka, di dalamnya orang duduk di atas tanah. Terdapat vegetasi pepohonan, di dekatnya terdapat sebuah bangsal besar, tempat para pembesar menambatkan kudanya. Pada sekeliling alun–alun utara terdapat bangunan bangsal kecil (pekapalan). Catatan Jan Vos tersebut menunjukkan bahwa di Keraton Kerto terdapat alun-alun dengan beberapa bangunan di sekitarnya serta menyebutkan adanya halaman kedua. Menurut Graaf (1986: 110), halaman kedua ini diperkirakan memiliki fungsi yang sama dengan Srimanganti pada keraton-keraton dari era sesudahnya. Seperti pada Keraton Yogyakarta, Srimanganti adalah sebuah tempat tunggu bagi tamu-tamu kerajaan sebelum menghadap sultan di bagian dalam keraton atau kompleks kedaton. Jan Vos dalam kunjungannya menyebutkan bahwa untuk memasuki keraton harus melalui beberapa gapura yang diberi tembok melintang yang disebut kelir yang berfungsi untuk menghalangi orang agar tidak dapat melihat langsung ke dalam. Tempat tinggal raja berada di halaman paling dalam yang disebut pelataran dan dianggap keramat. Di dalam pelataran tersebut, Jan Vos melihat pendapa yang besar, tapi tidak melihat tempat tinggal raja (Prabayeksa) yang ada di belakang pendapa. Pertemuan dengan Sultan Agung diperkirakan terjadi di bangunan/ bangsal yang pada masa setelahnya diduga memiliki fungsi yang sama dengan Bangsal Kencono. Dari keterangan tertulis diketahui denah halaman Keraton Kerto tidak jauh berbeda dengan Keraton Mataram Islam pada era sesudahnya. Keraton memiliki beberapa halaman yang harus dilewati sebelum mencapai halaman paling dalam tempat kompleks kedaton berada. Menurut catatan Jan Vos tahun 1624, sebelum bertemu dengan Sultan Agung di pendapa pada halaman ketiga, ia harus melewati tiga buah pintu gerbang dan tiga buah lapangan persegi yang datar dan bersih. Masing-masing lapangan terdapat pagar keliling dari kayu. Sepeninggal Sultan Agung, pemerintahan dilanjutkan oleh Amangkurat I sebagai raja keempat Kerajaan Mataram Islam. Amangkurat I memerintahkan pembangunan istana baru di Plered yang berjarak sekitar 500 m di sebelah timur Keraton Kerto. Babad ing Sengkala mencatat perpindahan Sunan Amangkurat I ke keraton yang baru terjadi pada tahun 1569 Jawa (1647 M) (Ricklefs, 1978: 51 dalam Adrisijanti, 1997: 75). Sejak saat itu diperkirakan Keraton Kerto mulai ditinggalkan. Babad Momana menyebutkan tentang kerusakan Keraton Kerto setelah tidak lagi dijadikan keraton Mataram Islam. Selanjutnya Babad Momana menyebutkan peristiwa kebakaran pada bangunan Prabayeksa Keraton Kerto pada tahun 1589 Jawa (1667 M). Peristiwa tersebut terjadi sekitar 20 tahun (1667 M) setelah keraton dipindahkan ke Plered. |
| Nilai Sejarah | : | Lemah Dhuwur Keraton Kerto merupakan salah satu bukti keberadaan Keraton Kerto milik Kasultanan Mataram Islam yang terletak di Kabupaten Bantul. |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Lemah Dhuwur Keraton Kerto memberikan informasi mengenai pemilihan lokasi keraton pada masa Kesultanan Mataram Islam. Lemah Dhuwur Keraton Kerto Kerto bermanfaat untuk dijadikan objek penelitian arkeologi, sejarah, dan geologi. |
| Nilai Pendidikan | : | Sebagai pembelajaran masyarakat umum dan peserta didik tentang filosofi yang terdapat pada pemilihan keletakan keraton di Jawa. Memberikan inspirasi bagi pendidikan lokal sebagai landasan bagi penguatan karakter bangsa. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Keraton Yogyakarta |
| Nama Pengelola | : | Dinas Kebudayaan DIY |
| Catatan Khusus | : | Koordinat pada SK: 49 M X 433548 Y 9129864 |