| Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
| Peristiwa Sejarah | : | Satuan ruang geografis Prambanan diperkirakan merupakan salah satu pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno yang berkembang pada abad VIII-X dan menjadi daerah penting sejak Raja Panangkaran. Candi tertua yang diketahui pendiriannya adalah Candi Kalasan yang bercorak Budhis dan didirikan pada tahun 700 Saka (778 M) oleh Raja Panangkaran, anak pendiri Dinasti Sanjaya. Candi ini didirikan untuk memuja Dewi Tara. Sementara itu, Candi Sari yang berada tidak jauh dari situ merupakan wihara bagi para pendetanya. Selain itu, Rakai Panangkaran juga mendirikan Candi Sewu dan Plaosan yang berlatar belakang agama Budha. Candi Sewu diresmikan pada tahun 714 Saka (792 M) sebagaimana disebut dalam Prasasti Manjusrigrha. Nama Candi Sewu atau Manjusrigrha disebut juga dalam prasasti Kelurak tahun 782 terkait dengan penghormatan terhadap Tri Ratna dan Tri Murti. Setelah Rakai Panangkaran mengundurkan diri sebagai raja, dia mendirikan wihara di atas bukit Boko yang disebut dengan abhayagiriwihara (kini dikenal sebagai Kompleks Keraton Ratu Boko) yang pernah menjadi benteng pertahanan ketika terjadi peperangan di antara putra-putra Rakai Panangkaran. Pada masa selanjutnya tempat ini berubah menjadi suatu tempat kediaman seorang bangsawan yang beragama Hindu, yaitu Rakai Walaing Pu Khumbayoni. Kompleks percandian Roro Jonggrang (Candi Prambanan) didirikan pada tahun 856 oleh Rakai Pikatan, salah satu putra Rakai Panangkaran. Sementara itu, Candi Sojiwan didirikan oleh Rakai Balitung untuk persembahan kepada neneknya Rakryan Sanjiwana. Candi-candi lain tidak diketahui pasti pendiriannya, namun dari seni hias maupun langgam arsitekturnya, hampir semua candi di satuan ruang geografis Prambanan berasal dari masa yang sama dengan candi-candi yang diketahui tahun pendiriannya. Menurut beberapa pakar arkeologi dan sejarah kuno, candi-candi di satuan ruang geografis Prambanan mulai ditinggalkan pada pertengahan abad X, ketika pusat pemerintahan kerajaan Mataram Kuna pindah ke Jawa Timur (sekitar Jombang). Perpindahan ini mungkin disebabkan oleh aktivitas Gunung Merapi yang sering erupsi dan menyulitkan kehidupan masyarakat. Candi-candi di satuan ruang geografis Prambanan pertama kali muncul kembali dalam catatan C.A. Lons yang berkunjung ke reruntuhan Candi Prambanan pada tahun 1733. Sejak itu, beberapa candi lainnya menarik perhatian para peminat dan ahli sejarah dan purbakala, sehingga banyak dilaporkan keberadaannya, diteliti, dan dikunjungi sebagai tempat wisata. Upaya pemugaran kompleks Candi Prambanan di bawah pengawasan Ir. Van Romondt sejak masa pemerintahan Hindia Belanda, tetapi baru berhasil setelah Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri. Tahap pertama, Candi Siwa dan dua Candi Apit selesai dipugar tahun 1953 dan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno. Pada tahun 1979 telah dilakukan studi zonasi oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) yang membagi kawasan Prambanan dalam 5 (lima) zona pelestarian. Studi yang dilakukan oleh JICA mengacu pada pelestarian candi dan situs yang ada, serta berusaha untuk mempertahankan unsur panorama dengan berpedoman pada Gunung Merapi yang ada pada sisi utara, namun batas-batasya sudah tidak sesuai dengan kondisi sekarang. Pemugaran selanjutnya dilakukan terhadap Candi Brahma pada bulan April 1987 dan diresmikan pada tanggal 27 April 1991. Setelah candi-candi utama selesai dipugar, pada bulan Mei 1991 tiga candi wahana yaitu Candi Nandi, Candi Garuda, dan Candi Angsa mulai dipugar. Candi-candi tersebut diresmikan bersamaan dengan purna pugar Candi Sewu (Jawa Tengah) pada tahun 1993 oleh Presiden Soeharto. Pada tahun 1991, UNESCO menetapkan kompleks Candi Prambanan dan Candi Sewu menjadi warisan budaya dunia dengan nomor C-642, karena dianggap merupakan karya adiluhung manusia yang kreatif dan jenius, khususnya karya arsitektur yang luar biasa. Pemugaran candi-candi yang lain juga diupayakan oleh pemerintah Belanda dan dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia, di antaranya Candi Sewu (selesai tahun 1993), Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul (selesai tahun 1994). |
| Nilai Sejarah | : | Satuan ruang geografis Prambanan merupakan salah satu karya monumental yang membuktikan pencapaian peradaban Masa Hindu-Buddha di Indonesia. |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Satuan ruang geografis Prambanan merupakan bukti-bukti peradaban tinggi bangsa Indonesia pada masa lampau, sebagai-mana dibuktikan dari kemajuan dalam bidang ketatanegaraan (Kerajaan Mataram Kuno), arsitektur dan teknik bangunan, IPTekS, maupun praktek multikulturalisme yang mampu menumbuhkan inspirasi dan kebanggaan bagi seluruh bangsa Indonesia. |
| Nilai Agama | : | Merupakan bukti-bukti nyata tentang perkembangan agama Hindu dan Budha di Jawa |
| Nilai Pendidikan | : | Contoh yang sangat tepat dan nyata tentang keberadaan dan praktek multikulturalisme sebagai ciri bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Hal ini dapat menjadi salah satu justifikasi mengapa hingga kini multikulturalisme atau konsep Bhinneka Tunggal Ika menjadi salah satu pilar kehidupan berbangsa dan bernegara bagi masyarakat Indonesia |
| Nilai Budaya | : | Menunjukkan tingkat pencapaian budaya yang tinggi bangsa Indonesia pada kurun waktu antara abad VIII-X, yang menumbuhkan rasa kebanggaan dan inspirasi bagi bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Pemerintah |
| Nama Pengelola | : | Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah untuk wilayah provinsi Jawa |
| Catatan Khusus | : | Satuan ruang geografis Prambanan merupakan wilayah yang pertumbuhan ekonominya cukup pesat karena berada pada poros ekonomi Yogyakarta – Surakarta. Lagipula, wilayah ini semakin cepat berkembang karena kegiatan pariwisata yang terpusat di candi-candi, khususnya Warisan Dunia Kompleks Candi Prambanan (Prambanan Temple Compound). Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan yang cukup cepat berdampak pada perubahan tataguna lahan. Peningkatan kebutuhan lahan untuk fasilitas perekonomian dan pariwisata di dalam satuan ruang geografis ini telah mengakibatkan banyak temuan arkeologis kehilangan konteksnya dan menyempitnya lahan pertanian, sehingga citra lanskap mengalami perubahan pula. Selain itu, polusi yang meningkat juga berdampak pada kondisi candi, seperti terlihat pada Candi Kalasan yang mengalami kerusakan pada batuannya. Satuan ruang geografis Prambanan ini juga rentan terhadap bencana alam berupa gempa bumi, aliran lahar, dan abu vulkanik. Hampir semua candi yang ada di satuan ruang geografis ini menjadi tempat kunjungan wisata, walaupun dalam intensitas yang berbeda-beda. Candi-candi yang termasuk Prambanan Temple Compound paling banyak mendapat kunjungan, diikuti oleh candi-candi yang agak besar di sekitarnya seperti Kompleks Ratu Boko, Candi Ijo, Candi Sojiwan, Candi Plaosan, dan Candi Kalasan. Candi-candi yang lebih kecil dan agak sulit dijangkau relatif tidak banyak dikunjungi. Pada umumnya, dalam suatu kompleks percandian, bangunan utama atau candi induknya sudah dipugar, sedangkan candi-candi perwara ada yang sudah dipugar, ada juga yang masih berupa reruntuhan. Kondisi ini dapat dilihat antara lain di Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Plaosan, dan Candi Ijo. |