| Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
| Komponen Pelengkap | : |
|
| Peristiwa Sejarah | : | 1. Sejarah Pemanfaatan Joglo Balai Kalurahan Giricahyo. Menurut penjelasan narasumber yakni Erni Susilowati (48 tahun) – Bendahara Kalurahan Giricahyo dan Suparyana (62 tahun)– Lurah Giricahyo, Joglo Balai Kalurahan Giricahyo memiliki uraian sejarah sebagai berikut : 1. Tahun 1948 Pada masa ini Joglo didirikan untuk pertama kalinya oleh lurah desa ke-4 yang bernama Harjo Winoto. Beliau tercatat sebagai lurah yang paling lama menjabat di Kalurahan Giricahyo, yakni sejak tahun 1944 – 1965. Atas inisiatif Harjo Winoto pada waktu itu, balai kalurahan yang sebelumnya tidak pernah dimiliki oleh masyarakat, dibangun untuk pertama kalinya secara bergotong royong. Lokasi yang digunakan sebagai balai kalurahan dipilih di tepi jalan tepatnya di sebelah utara jalan lintas Panggang -Parangtritis. Lokasi ini tepat berada di sebalah utara Pasar Karangtengah saat ini. Sebagai penanda waktu pendirian, Harjo Winoto berinisiatif untuk mengukir tanggal pendirian joglo pada bagian dada peksi. Menurut penjelasan lurah desa setempat yang bernama Suparyana, material kayu sebagai bahan joglo disumbang oleh warga secara sukarela. Konon atap joglo pada masa ini masih berupa ilalang atau atap alang-alang. Meskipun berfungsi sebagai bangunan kantor namun lurah Harjo Winoto juga menempati bangunan di sebelah utara joglo yang terdiri atas pringgitan dan limasan. Beliau tinggal bersama keluarga dan keadaan ini berlangsung hingga tahun 1965. Menurut penjelasan Suparyanta, bangunan tersebut tetap difungsikan sebagai balai kalurahan oleh lurah Giricahyo pada periode berikutnya. 2. Tahun 1949 Route Gerilya Panglima Besar Soedirman (RPS) merupakan route perjalanan pasukan Tentara Nasional Indonesia yang bergerak menghindari Pasukan Belanda pada Clash ke II (1948-1949). Pada saat Ibu Kota Negara Republik Indonesia berada di Yogyakarta, Belanda memaklumatkan Perang kepada Pemerintah RI pada tanggal 18 Desember 1948. Sehari sesudahnya, agresi militer Belanda dimulai. Dengan kekuatan penuh dari Udara, Belanda membombardir Lapangan Udara Maguwo tepat pada Jam 05.45. Dan pada jam 07.10 Maguwo berhasil dilumpuhkan Belanda. Aatas kejadian tersebut Jenderal Soedirmanmengeluarkan Perintah Kilat No. 1/Stop/48 melalui RRI Yogyakarta. Kejadian selanjutnya begitu genting sehingga Jenderal Soedirman memutuskan untuk melakukan perang Gerilya. Beserta pasukannya, Jenderal Soedirman mundur dari kota Yogyakarta menuju ke wilayah Kediri melalui jalur selatan yakni Bantul melalui wilayah Kretek dan Grogol Parangtritis dan dilanjutkan ke Gunungkidul. Diantara pengikut Jenderal Soedirman pada saat itu adalah Soepardjo Roestam, Tjokrpranolo, dan dr. Soewondo – dokter pribadinya. Pada malam hari Jenderal Soedirman tiba di Kalurahan Grogol yang terletak di sebelah utara Pantai Parngtritis. Di Grogol, Jenderal Soedirman menginap semalam untuk istirahat dan menyusun strategi perjalanan berikutnya. Dinihari tanggal 20 Desember tahun 1949, Jenderal Soedirman beserta pasukannya memulai perjalanan menuju Kediri melalui Gunungkidul. Pada saat itu wilayah pegunungan seribu Gunungkidul masih berupa daerah terpencil dengan keadaan alam yang keras. Jalan-jalan yang terdapat di wilayah tersebut masih berupa jalan setapak dan harus melalui jurang serta tebing yang terjal. Jenderal Soedirman beserta pasukannya memulai perjalanan dari Grogol mengambil arah ke selatan lalu ke timur menaiki bukit dengan berjalan kaki. Karena kondisi Jenderal Soedirman yang tidak sehat, selama perjalanan tersebut, beliau ditandu dengan menggunakan sebuah kursi. Tujuan pertama di Gunungkidul adalah menuju Semanu melalui Panggang. Tepat pada pukul 10.00 pagi Jenderal Soedirman tiba di wilayah Giricahyo. Pada waktu itu Jenderal Soedirman ditandu oleh empat orang warga setempat dikawal oleh sejumlah pasukannya. Setiba di Balai Kalurahan Giricahyo, Jenderal Soedirman disambut oleh Lurah setempat yang bernama Harjo Winoto. Jenderal Soedirman sempat dijamu sebentar kemudian beristirahat beserta pasukannya, sebelum melanjutkan perjalanan ke arah Panggang. Dalam peristiwa ini, sejumlah warga Giricahyo yang terlibat diantaranya adalah 3 orang penandu yang bernama Mugi Wiyono alias Lasiyo, Bodho alias Budi dan Kartowiyono. Menurut pengakuan Sastrodiharjo (Jagabaya pada waktu itu) yang dwawancarai oleh Rudi Winarso, Jenderal Soedirman saat itu hanya dikawal oleh 12 orang pasukannya. Jenderal Soedirman sempat memasukki ruang Joglo kemudian masuk melaluipringgitan dan duduk di ruang omah ndalem sebelah utara pringgitan. Di tempat tersebut beliau dijamu makan minum dan beristirahat beberapa saat. Kejadian di Giricahyo berlangsung tidak lama, karena setelah selesai beristirahat pasukan kecil tersebut kembali melanjutkan perjalanan menuju utara. 3. Tahun 1971Sebelum tahun 1970, Sekolah Dasar Negeri Karangtengah (Sekarang SDN Giricahyo) belum memiliki bangunan permanen yang dibuat oleh pemerintah. Pada periode awal tahun 1960-an, bangunan sekolah masih menggunakan bangunan rumah tabon Lurah Hardjo Winoto. Kemudian pada tahun 1965, sekolah mendapatkan lahan di sebelah selatan Pasar Karangtengah atau lokasi yang saat ini digunakan sebagai Balai Kalurahan Giricahyo. Di lahan tersebut didirikan bangunan sekolah yang dibuat dari material kayu. Bangunan tersebut kemudian digunakan secara permanen sebagai bangunan sekolah yang tidak menggunakan bangunan milik warga. Namun pada tahun 1975 terjadi bencana angin puyuh yang sangat kencang yang menyebabkan bangunan tersebut rusak. Hingga tahun 1980, sekolah kembali menggunakan balai kalurahan untuk kegiatan belajar mengajar. Sementara bangunan sekolah yang rusak dibiarkan terbengkalai hingga tahun 1980 4. Tahun 2006 Pada tahun 2006, Balai Kalurahan Giricahyo terpaksa dipindah ke lokasi baru. Pada waktu itu terjadi pembangunan Jalur Lintas Selatan sejauh 12 kilometer meliputi wilayah Girijati, Giricahyo, Giripurwo, dan Giriwungu. Pembangunan jalan ini dilakukan oleh pemerintah pusat dalam rangka membangun infrastruktur berupa pengembangan jalur yang menghubungkan seluruh wilayah di pesisir selatan Pulau Jawa. Pembangunan jalan baru yang lebar menyebabkan beberapa bangunan di sekitar Balai Kalurahan Giricahyo terdampak penggusuran karena kebutuhan lahan untuk bahu jalan JLS yang lebih lebar (sekitar 30 meter). Selain pelebaran jalan juga terjadi perubahan elevasi dimana semula jalan yang lama berada lebih tinggi dari halaman balai kalurahan menjadi turun sekitar 2 meter. Pada waktu itu aparat pemerintah di Kalurahan Giricahyo sepakat untuk memindah joglo ke lahan bekas Sekolah Dasar Giricahyo yang terbengkalai sejak tahun 1980. Oleh warga Giricahyo, Joglo dipindah ke lokasi yang baru dengan cara gotong royong. |
| Riwayat Pelestarian | : | Menurut penjelasan Narasumber setempat, bangunan Joglo sempat mengalami beberapa perbaikan dan rehabilitasi. Di lokasi yang lama, perbaikan terjadi terutama pada bagian atap dan lantai. Pada bagian atap, ilalang sebagai penutup atap dan bambu sebagai usuk sudah mengalami pergantian sebelum tahun 1960. Pada bagian lantai, terdapat pergantian beberapa kali yakni lantai tegel pada sekitar tahun 1960-an, dan lanttai keramik pada tahun 2000. Lantai keramik merupakan bantuan dari tokoh politik nasional pada waktu itu yaitu Amin Rais. Tegel dan lantai keramik bekas lokasi joglo masih bisa ditemui hingga saat ini. Pelestarian bangunan Joglo di lahan yang baru terutama terjadi pada penyangga emper dan atap. Sejad dipindah dari lokasi yang lama, Joglo Balai Kalurahan Giricahyo hanya mengalami satu kali perbaikan yaitu pada tahun 2007 – 2008. Atap yang semula ditutup dengan genteng keripik diganti dengan genteng press. Sementara pada bagian wuwung atau bubungan, diganti dengan bubungan genteng krepus bermotif. Menurut penjelasan Suparyana, sewaktu Haryadi menjabat sebagai lurah, pembangunan joglo tetap diupayakan untuk melestarikan sebagian besar struktur kayu yang asli. Sejak tahun 2008 tidak terjadi perubahan yang siginfikan terhadap bangunan joglo tersebut. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Pemerintah Kalurahan Giricahyo |