Loading

Deskripsi Singkat

Arca Surocolo adalah benda bergerak buatan manusia merupakan kelompok yang dimanfaatkan oleh manusia dihubungkan dengan kegiatan dan atau sejarah manusia. Arca Surocolo merupakan temuan arkeologis berupa himpunan arca berbahan perunggu berukuran kecil terdiri atas sembilan belas arca yang diduga merupakan satu set/kelompok arca Buddhis dan satu arca Siwaistis. Perolehan kumpulan arca ini melalui proses penemuan yang tidak disengaja oleh penduduk di dusun Surocolo (Pundong, Bantul) pada tahun 1976.  

Pasca publikasi temuan ini pertama kali (Soenarto, dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi I tahun 1977, prosiding diterbitkan tahun 1980), terdapat beberapa interpretasi dari arkeolog, sejarawan seni, dan filolog  dalam mengidentifikasi kumpulan arca Buddhis tersebut yang menunjukkan kesamaan karakter. Beberapa diantaranya berhasil mengidentifikasi figur masing-masing arca serta mengidentifikasi himpunan arca tersebut sebagai satu kesatuan set yang terkait dengan suatu mandala Buddhis tertentu (Edi Sedyawati, 1989; Jan Fontein, 1990;  Lokesh Chandra & Sudarshana Devi Singhal, 1995; Nirmala Sharma, 2011; dan Nicholas Lua Swee Yang, 2023). Berdasarkan beberapa identifikasi tersebut, diketahui bahwa temuan arca yang diperoleh berupa campuran arca yang berjenis Buddhis dan Siwaistis. Delapan belas arca diantaranya termasuk dalam satu kesatuan set (mandala) Buddhis dan dua arca lainnya masing-masing berupa arca individu bersifat Siwaistis dan Buddhis. Dari keseluruhan temuan arca tersebut, 18 (delapan belas) arca Buddhis disimpan di Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X dan 2 (dua) arca individu lainnya disimpan di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta sejak tahun 2000. 

Kedelapan belas arca Buddhis yang disimpan di BPK Wilayah X telah diidentifikasi merupakan set/kelompok dalam suatu mandala. Pengertian “mandala” dalam konteks ini adalah suatu pola diagram geometris yang teratur menggambarkan tata letak beberapa komponen/figur secara hierarkis dalam susunan tertentu yang memiliki makna magis-religius dan berfungsi sebagai alat bantu untuk melakukan konsentrasi selama bersemadi dalam ritual keagamaan.  

Struktur mandala yang paling dikenal dalam tradisi Agama Buddha adalah Vajrayana, terutama dalam ajaran Buddhisme Esoteris (Tantrayana). Beberapa mandala tersebut yang diketahui adalah Mandala Garbhadhatu, Mandala Vajradhatu, Mandala Lima Buddha Dhyani (Pancha Tathagata), dan Mandala Mahavairocana. Komponen umum dalam struktur mandala Buddhis terdiri atas:  

1. Pusat Mandala: biasanya berupa figur Buddha atau Bodhisattva utama (seperti Mahavairocana);  

2. Lingkaran Konsentrik: berupa beberapa figur mengelilingi Buddha di pusat;  

3. Empat Penjuru (arah kardinal): berupa figur Dhyani Buddha sebagai dewa pelindung yang masing-masing penjuru dapat dikaitkan dengan warna, elemen, arah, dan sifat kebijaksanaan tertentu; 

4. Gerbang Mandala: menggambarkan diagram mandala yang memiliki pintu gerbang di keempat sisi. Setiap gerbang biasanya dihiasi oleh simbol-simbol pelindung yang dapat berupa figur tertentu; dan 

5. Lingkaran Luar: menggambarkan lapis terluar berupa radial konsentris yang menggambarkan pelindung spiritual. 

Secara ikonografi dan interpretasi pada naskah Buddhis terkait, sebanyak 17 arca Buddhis Surocolo ini diidentifikasi merupakan arca pendamping dalam suatu mandala. Sedangkan satu arca yaitu Arca Vajrapani/Vajrasattva (No. Inventaris BG. 122) masih menjadi pembahasan para ahli mengenai keberadaannya dalam mandala pada konteks temuan himpunan arca ini (Fontein, 1990: 230; Chandra & Singhal, 1995; dan Sharma, 2011). Edi Sedyawati (1989) pertama kali membahas ikonografi dan mengaitkannya dengan sumber tertulis Nispannayogavali terbitan Benoytosh Bhattacharyya (1949). Manuskrip ini ditulis sekitar antara abad XI-XII Masehi, oleh Abhayakaragupta dari biara Vikramashila (saat ini berada di daerah Bihar, India). 

Edi Sedyawati (1989) mengidentifikasi 12 (dua belas) figur pada kumpulan arca Surocolo ini serta mengklasifikasi arca-arca tersebut dalam 5 (lima) kelompok, yaitu: 

1. Kelompok dewa kesenian, terdiri dari empat dewi dalam sikap duduk, yaitu Arca Mukunda (BG. 133), Arca Muraja (BG. 135), Arca Vamsa (BG. 137), dan Arca Vajragiti (BG. 138). 

2. Kelompok dewa wewangian dan cahaya terdiri dari dewi-dewi dan jumlahnya empat orang, tetapi pada Arca Surocolo hanya ada dua yang masuk kelompok tersebut, yaitu Arca Vajradipa (BG. 126) dan Arca Vajradhupa (BG. 139). 

3. Kelompok dewa pemikat dan pengikat, kelompok dewa kecil yang kadang digambarkan dalam sosok pria atau wanita sebagai penjaga gerbang mandala. Kelompok ini terdiri atas Arca Vajragantha (BG. 127), Arca Vajrasphota (BG. 129), Arca Vajrantya (BG. 131), dan Arca Vinayaka (BG. 144). 

4. Kelompok dewa berkepala binatang yang semuanya wanita sebagai penjaga pintu mandala. Pada Arca Surocolo hanya ditemukan 2 Arca, yaitu Arca Angkusavarahi/Hayasya (BG. 128) dan Arca Vajravarahi/Sukarasya (BG. 130). 

5. Kelompok Dewa Panca Indera, tidak terdapat contohnya dalam himpunan arca dari Suracala (Sedyawati, 1989: 206). 

Kemudian pada publikasi Jan Fontein (1990) melengkapi identifikasi nama terhadap 7 (tujuh) arca lainnya yaitu: Arca Vajrapani (BG.122), Arca Vajraraksa (BG.124), Arca Vajraloka (BG.126), Arca Vajraraga (BG.132), Arca Vajralasi (BG.134), Arca Vajrakarma (BG.136), dan Arca Vajrabhasa (BG.140). 

Seluruh dua puluh arca yang berada di kantor BPK Wilayah X dan Museum Sonobudoyo adalah sebagai berikut:  

1. Arca Vajrapani (BG. 122) 
Bahan arca terbuat dari perunggu berwarna abu-abu kehitaman. Arca ini memiliki ukuran lebar 5,7 cm, tinggi 10 cm, tebal 5 cm, dan berat 38,17 g. Arca Vajrapani digambarkan duduk di atas padmasana berbentuk bundar dalam sikap sattvaparyankasana, dengan gestur tangan jnanamudra. Di belakang kepala terdapat nimbus sebagai penanda tokoh suci, dewa atau lambang kemuliaan. Atribut arca berupa tangan kiri memegang tangkai padma serta memakai perhiasan: karnapuspa (anting-anting), keyura (kelat bahu), hara (kalung), kankana (gelang), katisutra (sabuk), urudama (hiasan gantung), dan mahkota berbentuk kiritamakuta. 

Dalam panteon Buddhisme, tokoh Vajrapani adalah salah satu Dhyani Boddhisattva yang dianggap sebagai emanasi dari Dhyani Buddha Aksobhya. Kondisi Arca Vajrapani dalam kondisi baik, terawat, dan utuh. 

2. Arca Siwa Mahadewa (BG. 123) 
Bahan arca terbuat dari perunggu bewarna abu-abu. Arca ini berukuran lebar 3,5 cm, tinggi 12 cm,  dan tebal 3,6 cm. Arca ini disimpan di Museum Sonobudoyo. Arca Siwa Mahadewa digambarkan berdiri di atas padmasana dengan posisi dua kaki sejajar (samabanga), memiliki empat tangan, dua tangan di depan dan dua tangan di belakang. Tangan kanan depan memegang tombak (sakti), tangan kanan belakang memegang tasbih (aksamala), tangan kiri depan membawa kendi tempat air suci (kamandalu), dan tangan kiri belakang membawa alat pengusir lalat (aksamla). Atribut yang digunakan berupa perhiasan lengkap dan mahkota berbentuk kiritamakuta. Pada bagian belakang terdapat bentuk prabha (nimbus). 

Dalam panteon agama Hindu, Siwa Mahadewa merupakan salah satu dewa dalam kelompok Trimurti, bersama-sama dengan Brahma dan Wisnu. Kondisi Arca Siwa Mahadewa dalam kondisi baik, terawat dan utuh. 

3. Arca Vajraraksa 
Arca Vajraraksa dengan nomor inventaris BG. 124 merupakan arca yang terbuat dari bahan perunggu, berwarna abu-abu kehitaman. Arca ini memiliki ukuran lebar 3,4 cm, tinggi 5,8 cm, tebal 2,5 cm dan berat 50,6 g. Arca Vajraraksa digambarkan duduk di atas padmasana berbentuk bundar dalam sikap sattvaparyankasana, dan sikap tangan simhakarnamudra.  

Pergelangan tangan kiri patung yang semestinya memegang atribut telah hilang. Memakai perhiasan lengkap mulai dari karnapuspa (anting-anting), keyura (kelat bahu), hara (kalung), kankana (gelang), katisutra (sabuk), urudama (hiasan gantung), dan mahkota berbentuk kiritamakuta. 

Dalam panteon Buddhisme, Vajraraksa adalah Boddhisattva pelindung. Dalam mandala, Vajraraksa juga merupakan salah satu dari empat Boddhisatva yang mengelilingi Dhyani Buddha Amoghasiddhi, tepatnya di arah barat. Kondisi Arca Vajraraksa dalam kondisi baik, terawat, dan utuh. 

4. Arca Vajraloka 
Arca Vajraloka dengan nomor inventaris BG. 126, terbuat dari bahan perunggu berwarna abu-abu kehitaman. Arca ini memiliki ukuran lebar 3,5 cm, tinggi 5,6 cm, tebal 2,6 cm, dan berat 54,6 g.                  

Arca digambarkan duduk di atas padmasana berbentuk bundar dalam sikap sattvaparyankasana.  

Tangan kiri memegang pelita, sedangkan tangan kanannya seolah melindungi nyala pelita tersebut. Kain yang dikenakan dihiasi motif menyerupai batik sidomukti. Memakai perhiasan lengkap mulai dari karnapuspa (anting -anting), keyura (kelat bahu), hara (kalung), kankana (gelang), katisutra (sabuk), urudama (hiasan gantung), dan mahkota berbentuk kiritamakuta.  

Dalam panteon Buddhisme, Vajraloka merupakan salah satu Boddhisattva yang membawa sesaji puja eksternal bagi Dhyani Buddha Vairocana. Dalam mandala, Vajraloka berkedudukan di arah barat laut. Kondisi Arca Vajraloka dalam kondisi baik, terawat, dan utuh. 

5. Arca Vajragantha 
Arca Vajragantha dengan nomor inventaris BG. 127, terbuat dari bahan perunggu berwarna abu-abu kehitaman. Arca ini memiliki ukuran lebar 6,7 cm, tinggi 8,3 cm, tebal 2,1 cm dan berat 87 g. Arca Vajragantha digambarkan berdiri di atas padmasana berbentuk oval dengan sikap pratyalidhasana. Tangan kanan dengan posisi siku ditekuk membawa vajra, sedangkan tangan kirinya lurus ke depan membawa atribut yang sudah patah. Kain yang dikenakan dihiasi motif menyerupai ornamen ceplok. Memakai perhiasan lengkap mulai dari karnapuspa (anting-anting), keyura (kelatbahu), hara (kalung), kankana (gelang), katisutra (sabuk), urudama (hiasan gantung), dan mahkota berbentuk kiritamakuta. 

Dalam panteon Buddhisme, Vajragantha adalah salah satu anggota dari kelompok dewi pemikat dan pengikat yang pada dasarnya bertugas sebagai kelompok dewi penjaga pintu mandala. Kondisi Arca Vajragantha dalam kondisi baik, terawat, dan utuh. 

6. Arca Hayasya  
Arca Hayasya dengan nomor inventaris BG. 128 terbuat dari bahan perunggu berwarna abu-abu kehitaman. Arca ini berukuran lebar 6,7 cm, tinggi 8,6 cm tebal 2 cm, dan berat 99,3 g. 

Arca Hayasya digambarkan berdiri di atas padmasana berbentuk oval dalam sikap pratyalidha. Posisi kedua siku ditekuk, dengan tangan kanan membawa angkusa dan tangan kiri membawa kepala babi hutan. Kepala Hayasya digambarkan sebagai kepala kuda. Memakai perhiasan lengkap mulai dari karnapuspa (anting-anting), keyura (kelat bahu), hara (kalung), kankana (gelang), katisutra (sabuk), urudama (hiasan gantung), dan mahkota berbentuk kiritamakuta. Arca Hayasya digambarkan mengenakan kain dengan motif menyerupai motif batik sidomukti. 

Dalam panteon Buddhisme, Hayasya adalah salah satu anggota dari kelompok dewi penjaga mandala. Dalam mandala Hevajra dan Nairatmya, Hayasya menempati mata angin arah timur. Kondisi Arca Hayasya dalam kondisi baik, terawat, dan utuh. 

7. Arca Vajrasphota 
Arca Vajrasphota dengan nomor inventaris BG. 129, terbuat dari bahan perunggu yang berwarna abu-abu kehitaman. Arca ini memiliki ukuran lebar 5,7 cm, tinggi 7,6 cm, tebal 2,1 cm dan berat 81 g. Arca Vajrasphota digambarkan berdiri di atas padmasana berbentuk oval dalam sikap mandala. Posisi kedua siku ditekuk ke depan, tangan kiri membawa ujung rantai dari perak yang saat ini tinggal sebagian, kemungkinan dahulu memanjang hingga ke tangan kanan arca. Memakai perhiasan lengkap mulai dari karnapuspa (anting-anting), keyura (kelat bahu), hara (kalung), kankana (gelang), katisutra (sabuk), urudama (hiasan gantung), dan mahkota berbentuk kiritamakuta. Arca Vajrasphota digambarkan mengenakan kain dengan motif menyerupai ornamen ceplok. 

Dalam panteon Buddhisme, Vajrasphota adalah Boddhisattva kunci vajra. Dalam mandala, Vajrasphota merupakan salah satu dari empat Boddhisattva yang membantu Dhyani Buddha Vairocana ke empat penjuru mata angin, berkedudukan di arah barat. Kondisi Arca Vajrasphota dalam kondisi baik, terawat, dan utuh. 

8. Arca Sukarasya 
Arca Sukarasya dengan nomor inventaris BG. 130 terbuat dari bahan perunggu berwarna abu-abu kehitaman. Arca ini berukuran lebar 6,8 cm, tinggi 7,7 cm, tebal 2,2 cm dan berat 99,2 g. 

Arca Sukarasya digambarkan berdiri di atas padmasana berbentuk oval dalam sikap alidha, yaitu posisi kedua siku ditekuk ke depan, tangan kiri memegang vajra namun atribut di tangan kanan sudah hilang. Sukarasya digambarkan memiliki kepala babi. Memakai perhiasan lengkap mulai dari karnapuspa (anting-anting), keyura (kelat bahu), hara (kalung), kankana (gelang), katisutra (sabuk), urudama (hiasan gantung), dan mahkota berbentuk kiritamakuta. Arca Sukarasya digambarkan mengenakan kain dengan motif menyerupai motif batik sidomukti. 

Dalam panteon Buddhisme, Sukarasya adalah salah satu anggota dari kelompok dewi penjaga mandala. Dalam mandala Hevajra dan Nairatmya, Sukarasya menempati mata angin arah selatan. Kondisi Arca Sukarasya dalam kondisi baik, terawat, dan utuh. 

9. Arca Vajranrtya 
Arca Vajranrtya dengan nomor inventaris BG. 131 adalah arca perunggu berwarna abu-abu kehitaman. Arca ini memiliki ukuran lebar 6,8 cm, tinggi 7,7 cm, tebal 2,2 cm dan berat 59,8 g. Arca Vajranrtya digambarkan dalam sikap ksipta, yaitu kaki kiri diangkat tinggi-tinggi sementara kaki kanan sedikit ditekuk dan menapak di atas padmasana kecil berbentuk bundar. Posisi tangan kiri ditekuk di depan dada sedangkan tangan kanan dalam posisi seperti hendak melempar sesuatu. Memakai perhiasan lengkap mulai dari karnapuspa (anting -anting), keyura (kelat bahu), hara (kalung), kankana (gelang), katisutra (sabuk), urudama (hiasan gantung), dan mahkota berbentuk kiritamakuta. Arca Vajranrtya digambarkan mengenakan kain dengan motif menyerupai ornamen ceplok. 

Dalam panteon Buddhisme, Vajranrtya adalah Boddhisattva tarian. Vajranrtya juga merupakan salah satu Boddhisattva yang membawa sesaji puja bagi Dhyani Buddha Vairocana. Dalam mandala, Vajranrtya berkedudukan di arah timur laut. Kondisi Arca Vajranrtya dalam kondisi baik, terawat, dan cukup utuh, pada padmasana hanya tersisa setengah bagian. 

10. Arca Vajraraga 
Arca Vajraraga dengan nomor inventaris BG. 132, terbuat dari bahan perunggu berwarna abu-abu kehitaman. Arca ini memiliki ukuran lebar 3,4 cm, tinggi 5,6 cm, tebal 2,6 cm dan berat 54,7 g. Arca Vajraraga digambarkan duduk bersila di atas padmasana berbentuk bundar. Posisi tangan arca seperti dalam posisi hendak memanah, tangan kiri menggenggam busur sedangkan tangan kanan tertarik ke belakang. Memakai perhiasan lengkap mulai dari karnapuspa (anting-anting), keyura (kelat bahu), hara (kalung), kankana (gelang), katisutra (sabuk), urudama (hiasan gantung), dan mahkota berbentuk kiritamakuta. 

Dalam panteon Buddhisme, Vajraraga adalah Boddhisattva cinta. Dalam mandala, Vajraraga juga merupakan salah satu dari empat Boddhisatva yang mengelilingi Dhyani Buddha Aksobhya, tepatnya di arah selatan. Kondisi Arca Vajraraga dalam kondisi baik, terawat, dan relatif utuh, namun separuh busur serta bagian bawah padmasana hanya tersisa sebagian. 

11. Arca Mukunda 
Arca Mukunda dengan nomor inventaris BG. 133 terbuat dari bahan perunggu dengan warna abu-abu kehitaman. Arca ini memiliki ukuran lebar 3,2 cm, tinggi 5,7 cm, tebal 2,5 cm serta berat 54 g. Arca digambarkan duduk di atas padmasana berbentuk bundar dalam sikap sattvaparyankasana. Posisi kedua tangan memainkan kendang (mukunda), tangan kiri memegang kendang dan tangan kanan dalam posisi seperti hendak menabuh. Memakai perhiasan lengkap mulai dari karnapuspa (anting-anting), keyura (kelat bahu), hara (kalung), kankana (gelang), katisutra (sabuk), urudama (hiasan gantung), dan mahkota berbentuk kiritamakuta. 

Dalam panteon Buddhisme, Mukunda adalah salah satu anggota dari kelompok dewi pemain alat musik. Dalam mandala Vajrasattva dan Vajramrta digambarkan dengan warna putih. Kondisi Arca Mukunda dalam kondisi baik, terawat, dan utuh. 

12. Arca Vajralasi 
Arca Vajralasi dengan nomor inventaris BG. 134 merupakan arca yang terbuat dari bahan perunggu berwarna abu-abu kehitaman.  
Arca ini memiliki ukuran lebar 3,8 cm, tinggi 8 cm, tebal 2,7 cm, dan berat 67,6 g. Arca Vajralasi  digambarkan berdiri di atas padmasana kecil berbentuk bundar dalam sikap seperti sedang menari. Posisi tangan kiri di pinggang dan tangan kanan diangkat ke atas sambil membawa bunga teratai. Memakai perhiasan lengkap mulai dari karnapuspa (anting-anting), keyura (kelat bahu), hara (kalung), kankana (gelang), katisutra (sabuk), urudama (hiasan gantung), dan mahkota berbentuk kiritamakuta. Arca Vajralasi digambarkan mengenakan kain dengan motif menyerupai motif ornamen ceplok. 

Dalam panteon Buddhisme, Vajralasi adalah Boddhisattva kebahagiaan. Vajralasi juga merupakan salah satu Boddhisattva yang membawa sesaji puja bagi Dhyani Buddha Vairocana. Dalam mandala, Vajralasi berkedudukan di arah tenggara. Kondisi Arca Vajralasi dalam kondisi baik, terawat, dan cukup utuh, namun bagian kepala sudah agak aus. 

13. Arca Muraja 
Arca Muraja dengan nomor inventaris BG. 135 terbuat dari bahan perunggu berwarna abu-abu kehitaman. Arca ini memiliki ukuran lebar 3,4 cm, tinggi 5,4 cm, tebal 2,6 cm dan berat 59,4 g.  

Arca Muraja digambarkan duduk di atas padmasana berbentuk bundar dalam sikap sattvaparyankasana. Kedua tangannya diarahkan ke samping, seolah hendak memainkan tiga buah tamborin (tabla) yang ada di depannya. Memakai perhiasan lengkap mulai dari karnapuspa (anting anting), keyura (kelat bahu), hara (kalung), kankana (gelang), katisutra (sabuk), urudama (hiasan gantung), dan mahkota berbentuk kiritamakuta. Arca Muraja digambarkan mengenakan kain dengan motif menyerupai motif ornamen ceplok.  

Dalam panteon Buddhisme, Muraja adalah salah satu anggota dari kelompok dewi pemain alat musik. Dalam mandala Vajrasattva dan Vajramrta digambarkan dengan warna asap (gelap). Kondisi Arca Muraja dalam kondisi baik, terawat, dan utuh. 

14. Arca Vajrakarma 
Arca Vajrakarma dengan nomor inventaris BG. 136 adalah arca perunggu berwarna abu-abu kehitaman. Arca ini memiliki ukuran lebar 3,5 cm, tinggi 5,6 cm, tebal 2,8 cm dan berat 57 g.  

Arca Vajrakarma digambarkan duduk di atas padmasana berbentuk bundar dalam sikap sattvaparyankasana. Posisi tangan kanan di depan dada membawa visvavajra (vajra bermata empat), tangan kiri memegang khatvanga (tongkat) yang dilandasi mangkuk tengkorak (kapala). Kain yang dikenakan dihiasi motif menyerupai batik sidomukti. Memakai perhiasan lengkap mulai dari karnapuspa (anting-anting), keyura (kelat bahu), hara (kalung), kankana (gelang), katisutra (sabuk), urudama (hiasan gantung), dan mahkota berbentuk kiritamakuta. 

Dalam panteon Buddhisme, Vajrakarma adalah Boddhisattva amal kebajikan. Dalam mandala, Vajrakarma juga merupakan salah satu dari empat Boddhisatva yang mengelilingi Dhyani Buddha Amoghasiddhi, tepatnya di arah selatan. Kondisi Arca Vajrakarma dalam kondisi baik, terawat, dan utuh. 

15. Arca Vamsa 
Arca Vamsa dengan nomor inventaris BG. 137 adalah arca perunggu berwarna abu-abu kehitaman. Arca ini memiliki ukuran lebar 3,4 cm, tinggi 5,7 cm, tebal 2,9 cm dan berat 57 g. Arca Vamsa digambarkan duduk di atas padmasana berbentuk bundar dalam sikap sattvaparyankasana. Posisi kedua tangan memegang sebuah seruling yang didekatkan ke arah mulut arca. Kain yang dikenakan dihiasi motif menyerupai batik sidomukti. Memakai perhiasan lengkap mulai dari karnapuspa (anting-anting), keyura (kelat bahu), hara (kalung), kankana (gelang), katisutra (sabuk), urudama (hiasan gantung), dan mahkota berbentuk kiritamakuta. 

Dalam panteon Buddhisme, Vamsa adalah salah satu anggota dari kelompok dewi pemain alat musik. Kondisi Arca Vamsa dalam kondisi baik, terawat, dan utuh. 

16. Arca Vajargiti 
Arca Vajragiti dengan nomor inventaris BG. 138 terbuat dari bahan perunggu berwarna abu-abu kehitaman. Arca ini memiliki ukuran lebar 3,2 cm, tinggi 5,7 cm, tebal 2,6 cm dan berat 56,7 g. Arca digambarkan duduk di atas padmasana berbentuk bundar dalam sikap sattvaparyankasana. Posisi tangan kiri memegang sejenis harpa yang berdawai tujuh (vina), sedangkan tangan kanan seperti sedang memetik dawai alat musik tersebut. Memakai perhiasan lengkap mulai dari karnapuspa (anting-anting), keyura (kelat bahu), hara (kalung), kankana (gelang), katisutra (sabuk), urudama (hiasan gantung), dan mahkota berbentuk kiritamakuta. Motif kain yang digunakan menyerupai motif ornamen ceplok. 

Dalam panteon Buddhisme, Vajragiti adalah Boddhisattva nyanyian. Vajragiti juga merupakan salah satu Boddhisattva yang membawa sesaji puja bagi Dhyani Buddha Vairocana. Dalam mandala, Vajragiti berkedudukan di arah barat laut. Kondisi Arca Vajragiti dalam kondisi baik, terawat, dan utuh. 

17. Arca Vajradhupa 
Arca Vajradhupa dengan nomor inventaris BG. 139 terbuat dari bahan perunggu berwarna abu-abu kehitaman. Arca ini memiliki ukuran lebar 3,5 cm, tinggi 6 cm, tebal 2,7 cm dan berat 57,2 g.  Arca Vajradhupa digambarkan duduk di atas padmasana berbentuk bundar dalam sikap sattvaparyankasana. Kedua tangan arca memegang dupa (setanggi). Memakai perhiasan lengkap mulai dari karnapuspa (anting-anting), keyura (kelat bahu), hara (kalung), kankana (gelang), katisutra (sabuk), urudama (hiasan gantung), dan mahkota berbentuk kiritamakuta.  

Dalam panteon Buddhisme, Vajradhupa merupakan salah satu Boddhisattva yang membawa sesaji puja eksternal bagi Dhyani Buddha Vairocana. Dalam mandala, Vajradhupa berkedudukan di arah tenggara. Kondisi Arca Vajradhupa dalam kondisi baik, terawat, dan utuh. 

18. Arca Vajrabhasa 
Arca Vajrabasha dengan nomor invetarisasi BG. 140 terbuat dari bahan perunggu berwarna abu-abu kehitaman. Arca ini memiliki ukuran lebar 3,2 cm, tinggi 5,7 cm tebal 2,6 cm dan berat 61,2 g.  

Arca Vajrabhasa digambarkan duduk di atas padmasana berbentuk bundar dalam sikap sattvaparyankasana. Tangan kanan memegang stupa, sedangkan tangan kirinya diletakkan di depan dada. Kain yang dikenakan dihiasi motif menyerupai ornamen ceplok. Memakai perhiasan lengkap mulai dari karnapuspa (anting-anting), keyura (kelat bahu), hara (kalung), kankana (gelang), katisutra (sabuk), urudama (hiasan gantung), dan mahkota berbentuk kiritamakuta. 

Dalam panteon Buddhisme, Vajrabhasa adalah Boddhisattva tutur kata. Dalam mandala, Vajrabhasa juga merupakan salah satu dari empat Boddhisattva yang mengelilingi Dhyani Buddha Amitabha, tepatnya di arah barat. Kondisi Arca Vajrabhasa dalam kondisi baik, terawat, dan utuh. 

19. Arca Padmapani 
Arca Padmapani dengan nomor Inventaris BG. 143 merupakan arca yang terbuat dari bahan perunggu berwarna abu-abu. Arca ini berukuran lebar 6,5 cm, tinggi 13 cm, tebal 4,5 cm. Arca ini disimpan di Museum Sonobudoyo. Arca Padmapani digambarkan duduk di atas padmasana dalam sikap sattvaryankasana.. Tangan kanan dalam sikap memberi penjelasan(vyakhyana-mudra), sedangkan tangan kirinya memegang bunga teratai. Arca Padmapani memakai busana dan perhiasan lengkap, bermahkota kiritamakuta. Pada bagian belakang kepala terdapat hiasan setengah lingkaran cahaya (sirascakra). 

Dalam panteon Buddhisme, Padmapani adalah salah satu Dhyani Boddhisattva yang dianggap sebagai emanasi dari Dhyani Buddha Avalokiteshvara. Kondisi Arca Padmapani dalam keadaan baik, terawat, dan cukup utuh, hiasan lingkaran cahaya (sirascakra) di belakang kepala hanya tersisa sebagian. 

20. Arca Vinayaka 
Arca Vinayaka dengan nomor inventaris BG. 144 adalah arca yang terbuat dari bahan perunggu berwarna abu-abu kehitaman. Arca ini berukuran lebar 6,4 cm, tinggi 8,5 cm, tebal 2,6 cm dan berat 91,6 g. Arca Vinayaka digambarkan berdiri di atas padmasana berbentuk oval dalam sikap pratyalidha. Tangan kiri terentang memegang busur dan rambut dari empat kepala manusia, sedangkan tangan kanannya seolah menarik tali busur. Kain yang dikenakan dihiasi motif menyerupai ornamen ceplok. Memakai perhiasan lengkap mulai dari karnapuspa (anting anting), keyura (kelat bahu), hara (kalung), kankana (gelang), katisutra (sabuk), urudama (hiasan gantung), dan mahkota berbentuk kiritamakuta. Dalam panteon Buddhisme, Vinayaka merupakan salah satu dewi penjaga mandala. Kondisi Arca Vinayaka dalam kondisi baik, terawat, dan utuh.

Status : Benda Cagar Budaya
Periodesasi : Klasik
Alamat : Jalan Pangurakan d/h Jalan Trikora No. 6, Yogyakarta Museum Negeri Sonobudoyo, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.8020390949171° S, 110.36392800673° E

SK Gubernur : SK GUB DIY 70/KEP/2025


Lokasi Arca Surocolo di Peta

Keterawatan : /
Dimensi Benda : Panjang -
Lebar -
Tinggi -
Tebal -
Diameter -
Berat -
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Riwayat Penemuan : Temuan kumpulan arca kecil berbahan perunggu dari Kampung Surocolo, Dusun Poyahan, Kalurahan Seloharjo, Kapanewon Pundong, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 1976 diperoleh secara tidak sengaja. Penemu merupakan salah seorang warga bernama Sudarnowijono saat menggali halaman belakang rumahnya yang menjumpai sebuah guci keramik di kedalaman ±50 cm dari permukaan tanah. Di dalam guci, yang kemudian pecah saat terbentur paculnya, terdapat sekumpulan arca logam berbahan perunggu berukuran kecil rata-rata 5-10 cm.  Penemuan ini terjadi pada 4 September 1976 yang kemudian dimuat di surat kabar “Berita Nasional” pada 13 September 1976. Berdasarkan pemberitaan tersebut Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) DIY (saat ini bernama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X) bersama dengan Tim dari Kantor Wilayah Departemen P dan K Provinsi DIY meninjau lokasi dan mengamankan seluruh temuan arkeologis tersebut. Dalam kegiatan pengamanan itu diketahui informasi bahwa saat melakukan pembersihan temuan arca oleh penemu, pada salah satu bagian alas arca/padmasana (tidak ada keterangan arca mana yang dimaksud) terdapat gulungan lempengan logam, namun pada saat direntang menjadi hancur. Dari sebagian yang utuh diketahui lempengan tersebut berbahan perak dan terdapat goresan-goresan huruf (Soenarto, 1977: 395). Fragmen gulungan perak tersebut kemudian diidentifikasi sebagai “prasasti” dengan nomor inventaris BG. 145 dalam daftar koleksi SPSP DIY. 
Riwayat Pelestarian : Koleksi Arca Surocolo baik dalam pengelolaan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X, maupun dalam koleksi Museum Sonobudoyo, dilakukan perawatan berupa pembersihan mekanis secara berkala. 
Riwayat Penelitian : emuan arca perunggu dari Surocolo ini kemudian dipublikasikan pertama kali oleh Th. Aq. Soenarto dalam prosiding Pertemuan Ilmiah Arkeologi I di Cibulan 21-25 Februari 1977 yang  melaporkan temuan 22 (dua puluh dua) arca dari Surocolo. Secara ringkas Soenarto menginterpretasikan temuan arca tersebut menggambarkan panteon Buddhisme dalam konteks mandala vajradhatu. Dilaporkan pula bahwa arca utama serta arca-arca jina  (di posisi lingkaran konsentrik yang berupa beberapa figur mengelilingi Buddha di pusat) tidak diketemukan pada arca Surocolo. Temuan hanya terdiri atas: 2 arca Bodhisatwa, 1 arca Dewa,  dan 18 arca Dewi berupa 12 arca bersikap duduk dan 7 arca bersikap berdiri dalam berbagai posisi. Usaha identifikasi lebih lanjut pada arca ini dilakukan oleh Edy Sedyawati (1989) melalui analisis ikonografi dan filologi yang menghasilkan identifikasi nama pada 12 (dua belas arca). Pada analisis ini Sedyawati mencantumkan Arca Muraja (No. Inv. 1406, kemudian dikonversi menjadi BG.135) yang dalam publikasi Soenarto (1977) tidak tercantum.  Delapan belas (18) arca Surocolo kemudian dipamerkan di Amerika pada sepanjang tahun 1990-1992 selama 18 bulan di empat tempat (berupa pameran keliling) bersama dengan 136 artefak Indonesia lainya yang berasal dari berbagai koleksi museum dunia. Jan Fontein sebagai kurator pameran ini kemudian mengidentifikasi nama 7 (tujuh) arca perunggu dari Surocolo yang tidak disebutkan dalam identifikasi Edi Sedyawati (1989). Seluruh 18 arca perunggu Surocolo dalam pameran ini dimuat bersama deskripsinya dalam terbitan buku katalog pameran The Sclupture of Indonesia (Fontein, 1990: 223-230). Sedangkan Arca Siva Mahadewa (BG. 123), Arca Padmapani (BG. 143), dan Arca Dewi No. Inv. 1395) tidak disertakan dalam pameran tersebut. Identifikasi telaah yang dilakukan oleh Fontein (1990) kemudian ditinjau ulang oleh Lokesh Chandra & Sudarshana Devi Singhal (1995) yang memberikan alternatif nama lain untuk: Arca Vajraraksa (BG.124) sebagai Mana-vajrini, Arca Vajraraga (BG.132) sebagai Manoja-vajrini, Arca Vajrakarma (BG.136) sebagai Ragavajrini, dan Arca Vajrabhasa (BG.140) sebagai Kelikila-vajrini, serta mengidentifikasi Siva Mahadeva (BG.123) sebagai Mahesvara, Hara, atau Mrtyu-Mara. Identifikasi ulang tersebut dilakukan berdasarkan kesesuaiannya terhadap Mandala-Vajrasattva dan 16 pasukan Hevajra (the Mandala of Vajrasattva and the Sixteen-armed Hevajra) yang berdasarkan dari manuskrip Nayasutra sekaligus sebagai koreksi pada interpretasi Fontein yang hanya berdasarkan pada mandala-Vajradatu. Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala DIY pada tahun 1996 memuat deskripsi 20 arca perunggu dari Surocolo pada terbitan Katalog Koleksi Arca Perunggu, dicetak ulang oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta tahun 2011. Dari 20 arca tersebut saat ini dijumpai 18 arca berada di kantor BPK Wilayah X dan 2 Arca di Museum Sonobudoyo.  Nirmala Sharma (2011) melakukan peninjauan ulang  terhadap identifikasi yang dilakukan oleh Edy Sedyawati (1989) dan Jan Fontein (1990) dengan mengajukan identifikasi baru atas tujuh arca yang didasarkan pada mandala-Nayasutra dari aliran Buddhisme Shingon pada Buddha Mantrayana di Jepang. Ketujuh identifikasi nama arca tersebut adalah Arca Vajrapani (BG.122) sebagai Vajrasattva Arca Vajraraksa (BG 124) sebagai Manavajrini, Vajraloka (BG.126) sebagai Ragavajrini, Arca Muraja (BG.135) sebagai Vajranrtya, Arca Vajragiti (BG.138) sebagai Vajragita, Arca Vajradhupa (BG.139) sebagai Istavajrini, dan Arca Vajrabhasa (BG.140) sebagai Vajralasi. Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X pada tahun 2023 melakukan kajian terhadap 17 arca Surocolo (sekaligus dengan lingkungan situs sekitar tempat penemuan arca). Kajian terhadap arca melakukan deskripsi ikonografi, pengamatan kondisi fisik, pengukuran ulang, fotogrametri (close range photogrammetry) untuk menghasilkan dokumentasi digital berupa pemodelan 3 Dimensi, dan pindai Digital X-Ray Fluorescence (XRF) untuk analisis spektrometri komposisi kimia bahan logamnya.  Kajian tersebut menegaskan bahwa arca Surocolo adalah wujud dewa-dewa pendamping dalam konfigurasi mandala Buddhisme aliran Vajrayana. Disimpulkan bahwa kondisi fisik arca telah mengalami penurunan kualitas karena pelapukan alami sejak penemuannya di tahun 1976. Pada kajian ini diketahui bahan logam arca Surocolo merupakan perunggu-timah (tin-bronze) yang mengandung paduan unsur tembaga (Cu), timah (Sn), perak (Ag), osmium (Os), dan timbal/timah hitam (Pb). Dinyatakan dalam kajian ini bahwa tidak semua arca mengandung unsur Osmium. Sementara itu daerah penghasil Osmium terbesar pada abad IX adalah Odisha, India, sehingga diinterpretasi kemungkinan arca yang mengandung Osmium dibawa dari luar wilayah Nusantara. Dalam laporan BPK Wilayah X 2023, hanya arca Vinayaka atau arca dengan no. inventaris BG. 144 yang disebutkan mengandung osmium. Nicholas Lua Swee Yang (2023) melakukan kajian tentang hubungan antara seni perunggu Jawa dan praktik Buddhisme Esoteris. Dalam kajian tersebut menghasilkan tipologi (kelompok) arca berdasarkan analisis bentuk, ukuran, dan simbolisme. Swee Yang juga membedakan berbagai jenis mandala berdasarkan karakteristik fisik dan konteks penggunaan, serta mengeksplorasi bagaimana elemen-elemen tersebut mencerminkan ajaran Buddhisme Esoteris. Kajian ini menegaskan pula bahwa temuan arca Buddhis Surocolo tidak membentuk mandala sebagaimana yang terdapat pada manuskrip Buddhisme Esoteris (Ni?pannayog?val?, Sarva Tath?gata Tattva Sa?graha, dan Hevajra Tantra), karena hanya sebagian kecil dari temuan kelompok arca Surocolo tersebut yang dapat dipetakan secara ikonografi baik ke dalam Vajradhatu Mandala ataupun Mandala-Vajrasattva/Hevajra (Mandala of Vajrasattva and the Sixteen-armed Hevajra). Lokasi penemuan arca tidak jauh dari lokasi Petirtaan Surocolo dan Gua Sunan Mas yang ada di permukaan yang lebih tinggi. Tidak dapat dipastikan hubungan antara temuan arca ini dengan keberadaan situs Gua Surocolo. Demikian pula perihal konteks arkeologis temuan tidak diketahui secara jelas karena terdapat jarak durasi waktu 10 hari dari penemuan dengan pemberitaan surat kabar. Pasca pemberitaan tersebut yang kemudian menjadi dasar pihak Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala melakukan kunjungan dan pengamanan. Karakteristik arca temuan Surocolo menunjukkan gaya seni Gandhara, yaitu kebudayaan yang berkembang masa Kerajaan Gandhara di India yang terdapat sebuah pusat Buddhisme dari abad ke-3 SM hingga sekitar tahun 1200 M. Gandhara dianggap penting Dalam pengembangan dan penyebaran Buddhisme Vajrayana. Kerajaan ini menjadi pusat seni rupa Buddhisme yang mencapai puncaknya pada awal abad Masehi sampai abad ke-5 M.  Keberadaan arca perunggu yang dirancang dalam satu set serta perolehannya yang cukup lengkap, termasuk dalam kondisi langka. Di Indonesia temuan sejenis ini hanya ditemukan di kumpulan arca dari Nganjuk dan Ponorogo. Perwujudan panteon Buddhisme esoteris berupa set figur dengan susunan hierarkis secara umum dikenal di penganut Buddha di seluruh dunia. Bentuk perwujudan set panteon tersebut umumnya berupa media visual dalam bentuk gambar, skema, atau diagram simbol, serta  susunan peletakan arca dalam suatu bangunan suci. Perwujudan dalam bentuk set arca logam berukuran kecil sampai saat ini diketahui hanya terdapat pada temuan arkeologis di Indonesia. 
Nilai Budaya : Arca temuan Surocolo menjadi pendorong proses penciptaan lahirnya budaya ide yang menginspirasi karya-karya serupa di lingkungan masyarakat Jawa.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indo
Pengelolaan
Nama Pengelola : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X dan Museum Sonobudoyo.