Candi Pembakaran Kompleks Ratu Boko berada pada lantai teras ketiga kompleks Ratu Boko. Candi tersebut terbuat dari batu andesit berukuran panjang 22,6 m, lebar 22,32 m, dan tinggi 3,82 m. Sebutan Candi Pembakaran berasal dari adanya temuan abu yang terdapat di sumuran candi sehingga orang-orang beranggapan bahwa bangunan tersebut pada masa lampau menjadi tempat pembakaran atau penyimpanan abu jenazah raja. Sesudah dilakukan penelitian, abu tersebut merupakan sisa pembakaran kayu sehingga tidak ada indikasi sebagai sisa pembakaran tulang.
| Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
| Bahan Utama | : | Batu |
| Jenis Struktur | : | Lain-lain |
| Materi Spesifik (Bahan presentase terbesar) | : | Batu andesit |
| Bentuk | : | Memusat |
| Panjang | : | 22,6 m |
| Lebar | : | 22,32 m |
| Tinggi | : | 3,82 m |
| Jenis Bangunan | : | Lain-lain |
| Konteks | : | Ratu Boko merupakan suatu tinggalan budaya dari abad 8 M dan sangat erat kaitannya dengan perjalanan sejarah Kerajaan Mataram Kuno. Prasasti tertua yang berasal dari tempat ini adalah prasasti Abhayagiriwihara yang berangka tahun 714 Saka / 792 M. Dalam prasasti disebutkan bahwa tempat ini merupakan wihara yang bertempat di atas gunung yang damai, yang merupakan tempat menyepi Sang Jatiningrat (Rakai Panangkaran) setelah mengundurkan diri sebagai Raja Mataram. Berdasarkan data dalam Prasasti Mantyasih 907 M, Rakai Panangkaran adalah seorang Raja Mataram Kuno yang paling lama memerintah yaitu selama 38 tahun (746 – 784 M). Pada masa selanjutnya, kompleks Ratu Boko berubah fungsi dari wihara menjadi tempat kediaman seorang bangsawan, yaitu Rakai Walaing Pu Khumbayoni yang beragama Hindu. Latar belakang agama Hindu pada masyarakat di Situs Ratu Boko yang dikuasai oleh Rakai Walaing Pu Kumbhayoni dapat diketahui dari adanya tiga buah miniatur candi yang berdasarkan arsitekturnya mempunyai latar belakang agama Hindu. Bukti lain yang mengindikasikan agama Hindu sebagai agama masyarakat masa lalu di Situs Ratu Boko adalah adanya arca Durga, Ganesa, Balarama, dan Garuda (Soenarto dkk, 1993). Sewaktu menjadi tempat tinggal seorang penguasa/bangsawan yang beragama Hindu yang bergelar Rakai Walaing Pu Khumbayoni, dapat diketahui bahwa tempat ini dulu bernama Walaing karena Rakai Walaing artinya penguasa di Walaing. Nama Walaing masih disebutkan dalam Prasasti Mantyasih 907 M tentang adanya seorang penulis prasasti yang bernama Pu Tarka yang berasal dari Walaing. Hal ini berarti bahwa daerah Walaing yang diduga sebagai Bukit Boko sekarang masih merupakan kawasan pemukiman yang cukup penting sampai dengan awal abad kesepuluh (Kusen:1995). Situs Ratu Boko yang terletak di atas perbukitan kapur tentu saja mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah bahwa tempat ini sangat sunyi dan tenang serta mempunyai panorama alam yang indah karena dapat mencakup pandangan terhadap kawasan Prambanan dan sekitarnya. Faktor inilah kemungkinan yang dipilih oleh Rakai Panangkaran untuk mendirikan wihara sebagai tempat mengasingkan diri dari keduniawian setelah mengundurkan diri sebagai Raja Mataram. Sementara kekurangan dari tempat tersebut adalah sulitnya mendapatkan air tanah sehingga sumber air mengandalkan air tadah hujan. Pada masa selanjutnya, sewaktu tempat ini dipergunakan sebagai tempat tinggal penguasa yang bernama Rakai Walaing Pu Khumbayoni, maka kebutuhan pun semakin beragam dan kompleks. Saat dipergunakan sebagai hunian inilah diduga Situs Ratu Boko berkembang. Berdasarkan tinggalan-tinggalan yang masih tersisa maka dapat diketahui cara-cara masyarakat masa lampau dalam mengelola lingkungan alam yang ada sebagai strategi untuk bertahan hidup. |
| Nilai Sejarah | : | Struktur Candi Pembakaran Situs Ratu Boko berhubungan dengan sejarah perkembangan agama Hindu dan tokoh bangsawan Kerajaan Mataram Kuno Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Candi Pembakaran Situs Ratu Boko telah berusia lebih dari lima puluh tahun. Hal tersebut berdasarkan prasasti Abhayagiriwihara yang berasal dari tahun 792 M. |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Struktur Candi Pembakaran Situs Ratu Boko memiliki arti khusus bagi ilmu pengetahuan karena dapat menjadi objek pembelajaran bagi berbagai bidang ilmu. |
| Nilai Agama | : | Candi Pembakaran Situs Ratu Boko memiliki arti khusus bagi agama Hindu. |
| Nilai Pendidikan | : | Candi Pembakaran Situs Ratu Boko dapat digunakan sebagai pembelajaran ilmu sejarah, arkeologi, dan agama. |
| Nilai Budaya | : | Struktur Candi Pembakaran Situs Ratu Boko merupakan salah satu karya unggul buatan bangsa Indonesia di masa lalu yang merupakan salah satu puncak pencapaian peradaban bangsa yang dibuat dengan sangat baik dan merupakan kesatuan dengan Kompleks Ratu Boko. |
| Nilai Ekonomi | : | sebagai tempat wisata kesejarahan mas klasik |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X |
| Nama Pengelola | : | Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X |
| Catatan Khusus | : | Koordinat Tengah pada SK Bupati Sleman: UTM : 49 M X : 443627.08 m E, Y : 9141209.51 m S |