Konteks |
: |
Dokter Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat lahir di Lempuyangan Yogyakarta, tanggal 21 April 1879. Dokter Rajiman telah memulai kariernya sebagai seorang dokter sejak berumur 20 tahun dari 1899-1934. Puncak kariernya adalah sebagai seorang dokter di Kasunanan Surakarta (1906-1934). Peran dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat menjadi Dokter Kasunanan Surakarta Pada tahun 1905, dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai dokter pemerintah Hindia Belanda. Sebagai gantinya, beliau memilih untuk mengabdikan diri sebagai dokter Keraton Solo atau Kasunanan Surakarta yang saat itu dipimpin Sunan Pakubuwono X. Jasa dan pengabdian dr. Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat di lingkungan keraton membuat Pakubuwono X memberikan gelar kehormatan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT). Selain itu, dr. KRT Radjiman Wedyoningrat juga mendapat kesempatan untuk belajar ke luar negeri dengan dibiayai dari Keraton Surakarta. Beliau mengenyam pendidikan di Amsterdam, Belanda dan mendapat gelar Europees Art pada tahun 1910. Kemudian dr. Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat melanjutkan studi di bidang Ilmu Kebidanan di Berlin, Jerman, kemudian kembali ke Amsterdam untuk memperdalam Ilmu Rontgenologie pada tahun 1919. Pada tahun 1931 dr. Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyoningrat berpindah ke Paris, Perancis untuk memperdalam ilmu Gudascope Urinoir. Peran dr. Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat dalam Organisasi Budi Utomo dan Ketua BPUPKI Di tengah kesibukannya menjadi dokter, dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat tetap aktif dalam pergerakan nasional. Beliau tercatat sebagai salah satu pendiri Budi Utomo, dan menjadi ketua organisasi itu pada 1914-1915. Selama periode tahun 1918-1931, dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat menjadi anggota Dewan Rakyat atau Volksraad untuk perwakilan Budi Utomo. Perjuangannya tetap berlanjut meski Tanah Air dikuasai oleh militer Jepang. Awalnya dr. Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Daerah (Shu Sangi kai) Madiun. Kemudian dia diangkat menjadi Dewan Pertimbangan Pusat (Chuo Sangi in). Saat Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat atau Putera, dr. Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat ditunjuk untuk menjadi salah satu anggota Majelis Pertimbangan. Namun situasi pendudukan Jepang mulai melemah seiring dengan situasi Perang Asia Timur Raya yang sudah menghimpit negara itu. Jepang lantas menjanjikan kemerdekaan Indonesia dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). BPUPKI dibentuk pada akhir Mei 1945, dengan dr. Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat sebagai ketuanya. Melalui BPUPKI yang dipimpin dr. Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat inilah para bapak bangsa mendiskusikan tentang dasar negara Indonesia saat merdeka. Dalam periode BPUPKI ini pula muncul gagasan tentang Pancasila hingga Piagam Jakarta yang menjadi cikal bakal Pembukaan UUD 1945. Pahlawan Nasional Kerja BPUPKI lantas diteruskan atau dilanjutkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diketuai Ir. Soekarno. Pada akhirnya, bangsa Indonesia berhasil mendapatkan kemerdekaannya sendiri pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah kemerdekaan, dr. Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat masih terus memberikan sumbangsih pemikiran kepada bangsa Indonesia. Beliau tercatat sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Selain itu dr. KRT Radjiman Wedyoningrat juga menjadi pemimpin sidang DPR pertama saat Indonesia kembali menjadi NKRI dari RIS. Dalam sejarahnya, dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat juga turut serta dalam mendirikan, membina, dan mengembangkan Rumah Sakit Kadipala Surakarta ketika bertugas sebagai dokter Keraton Surakarta selama 28 tahun (1906–1934). Beliau meninggal dunia pada 20 September 1952 di Desa Dirgo, Widodaren, Ngawi. Dari permintaan terakhirnya kepada Pihak Keraton Surakarta, dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat menginginkan disemayamkan terlebih dahulu di Rumah Sakit Kadipala Surakarta. Presiden Sukarno yang saat itu sedang melaksanakan kunjungan kerja di Surakarta bersama jajarannya membatalkan semua acara kunjungan untuk menghadiri acara pemakaman dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat (Foto 3). Selain Presiden Soekarno, Sri Pakualam VIII (foto 6) juga hadir dan memberikan karangan bunga pada acara pemakaman dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat. Berdasarkan wasiat dari dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat, Jenazahnya dimakamkan di Kalurahan Mlati, Sleman, Yogyakarta, berdekatan dengan makam Dokter Wahidin Sudiro Husodo. Dokter Kanjeng Raden Tumenggung Radjiman Wedyodiningrat ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 2013. |