Masjid Puro Pakualaman atau biasa disebut Masjid Besar Pakualaman
ini terletak di Kampung Kauman, Kelurahan Gunung Ketur, Kecamatan Pakualaman,
Kota Yogyakarta. Tepatnya berada di sebelah barat Puro Pakualaman.
Masjid ini dibangun pada tahun 1850 M, saat masa pemerintahan Sri Paku Alam II
(1829-1858 M). Di bagian dinding masjid terdapat prasasti yang menunjukkan
tahun pendiriannya. Adapun ringkasan bunyi prasasti tersebut antara lain:
berdirinya masjid ini pada hari Ahad Pon pukul 8 tanggal 2 Syawal, tahun Dal,
diberi sengkalan Pandhita Obah Sabdo Tunggal (1767 Saka atau 1244 Hijriyah),
Wangsa 6, lambang Klawu Duhut Windu Sengsara. Kawada yang mendirikan masjid
adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Rider Paku Alam II dan dibantu oleh Patih
Raden Riyo Natareja dan Mas Penghulu K.H. Mustanal.
Masjid ini dibangun dengan gaya arsitektur tradisional Jawa. Bagian atap masjid memakai model tajug pada ruang utama dan limasan pada serambi. Bagian kemuncak atap model tajug dilengkapi mustoko. Beberapa komponen penyusun atap seperti usuk dan reng disusun ngruji payung dengan penutup atap berupa genteng. Dinding masjid terbuat dari susunan bata yang diplester. Lantai masjid berupa tegel.
Seperti masjid-masjid kuno di Jawa, masjid ini memiliki ruang utama, serambi, pawestren (tempat ibadah bagi jamaah perempuan), dan tempat wudlu. Ruang utama berdenah bujur sangkar. Di dalam ruang utama terdapat empat tiang Sokoguru penopang atap tajug, mihrab (tempat pengimaman), dan mimbar (tempat khotib berkutbah). Selain itu, ruang utama juga dilengkapi dengan beberapa jendela dan pintu dengan kusen yang terbuat dari kayu. Di sisi selatan ruang utama terdapat pawestren, sedangkan di sisi utara ruang utama terdapat tempat wudlu.
Serambi berada di sisi timur ruang utama dan berdenah persegi panjang. Dahulu serambi masjid masih sempit. Kemudian diperluas ke samping dan sampai ke halaman masjid. Dahulu di depan dan samping masjid terdapat kolam kecil sebagai tempat membasuh kaki sebelum masuk ke masjid. Namun saat ini kolam kecil tersebut sudah diratakan sehubungan dengan perluasan serambi. Di dalam serambi masjid terdapat tiang-tiang kayu penopang atap limasan.
Berbagai upaya renovasi pernah dilakukan untuk merawat masjid agar terjaga
kelestariannya. Salah satunya berupa pemugaran pada tahun 2016. Pemugaran
tersebut antara lain mengganti beberapa material penyusun atap.
Referensi
Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
Jenis Struktur | : | Tradisional |
Jenis Bangunan | : | Tradisional |
Fungsi Bangunan | : | Religi/Keagamaan |
Komponen Pelengkap | : |
|
Deskripsi Fasad | : | Gaya arsitektur Jawa Indiesch |
Deskripsi Konsol | : | belum ada |
Deskripsi Jendela | : | Jendela yang digunakan terdiri dari dua daun jendela dengan satu panil panjang. Panil panjang yang terdapat pada daun jendela adalah bentuk dan bahannya diganti dengan kisi-kisi kayu. Seluruh daun jendela terbuat dari kayu. |
Deskripsi Pintu | : | Pintu yang digunakan terdiri dari dua daun pintu dengan dua panil yaitu satu panil panjang dan satu panilpendek. Panil panjang yang terdapat pada daun pintu adalah bentuk dan bahannya diganti dengan kisi-kisi kayu. Panil pendek yang terdapat pada daun pintu adalah hiasan. Seluruh daun pintu terbuat dari kayu dengan dicat warna hijau tua |
Deskripsi Atap | : | Atap Bangunan Indiesch berbentuk limasan yang ditutupi dengan genteng. |
Deskripsi Lantai | : | Lantai yang digunakan berjenis tegel yang berwarna abu muda |
Deskripsi Kolom/Tiang | : | Tiang yang terbuat dari kayu yang merupakan salah satu ciri khas dari bangunan bergaya Jawa Indiesch. |
Deskripsi Ventilasi | : | Ventilasi/lubang angin yang digunakan bingkainya berbentuk persegi panjang dengan lubang angin berbentuk ornamen garis. |
Deskripsi Plafon | : | Plafon menggunakan kayu dan di cat berwarna putih |
Desain | : | Desain bangunan ini mengadopsi arsitektur jawa dan indies dengan atap limasan jawa dan pagar menggunakan beton plester mencerminkan arsitektur indies |
Interior | : | Ruang digunakan sebagai ruang ibadah sholat. |
Fungsi Situs | : | Religi/Keagamaan |
Fungsi | : | Religi/Keagamaan |
Tokoh | : | KGPAA Paku Alam II dan Pendirian masjid ini dibantu oleh Patih Raden Riya Natareja dan Mas Penghulu Mustahal Hasranhim. |
Peristiwa Sejarah | : | Dibangun pada tahun 1839 semasa pemerintahan KGPAA Paku Alam II. Pendirian masjid ini dibantu oleh Patih Raden Riya Natareja dan Mas Penghulu Mustahal Hasranhim. Pada masjid ini terdapat prasasti, yang memuat dua buah sengkalan lamba yang ditulis dalam huruf Arab dan huruf Jawa. Kedua sengkalan tersebut berbunyi “Pandita obah sabda tunggalâ€, yang melambangkan angka tahun 1767 J atau 1839 M. Sedang isi prasasti yang ditulis dalam huruf Jawa itu berbunyi “Pemut kala adeging kagungan dalem masjid, amarengi ing dinten Dite Pon wanci jam astha, tanggal Kadwi; ing wulan riyaya Sawal, taun wiyosanipun Gusti Kanjeng Nabi Panutan |
Konteks | : | Bangunan masjid besar. |
Riwayat Rehabilitasi | : | Bangunan ini direhabilitasi pada tahun 2016 dengan pekerjaan utamanya berupa perkuatan struktur atap dan kolom bangunan utama. Kolom pada bagian yang memisahkan bangunan utama dan pawestren diduga pada awalnya merupakan sebuah tembok yang kemudian dipotong untuk menambah estetika. Bangunan ini memiliki atap tajug pada bangunan utama dan joglo pada bagian serambi. Pada bagian depan serambi terdapat sebuah bangunan baru yang difungsikan sebagai langkah mengantisipasi jumlah jemaah. |
Nilai Sejarah | : | Nilai sejarah dapat dilihat dari peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi pada masa lalu. Nilai tersebut bisa diperoleh melalui sumber tertulis baik dari prasasti ataupun karya sastra. Dalam kasus Masjid Puro Pakualaman sumber tertulis biasa didapatkan dari adanya empat buah prasasti yang dipasang di dinding serambi masjid. Semua prasasti tersebut menggunakan bahasa jawa sedangkan hurufnya dua diantaranya menggunakan huruf Arab Pegon dan dua yang lain huruf Jawa. Dari keempat prasasti tersebut dapat diketahui bahwa masjid tersebut dibangun oleh Pakualaman II yang berkuasa antara tahun 1829 hingga 1858. Masjid Puro Pakualaman dalam pembangunannya dibantu oleh Patih Raden Riya Natareja dan Mas Penghulu Mustahal Hasranhim (Dwiyanto, 2009: 25-26). |
Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Nilai penting ilmu pengetahuan merupakan nilai mengenai sejauh sumberdaya budaya tersebut dapat memberikan gambaran tentang ilmu pengetahuan yang mendukung budaya masa lalu. Keberadaan Masjid Pura Pakualaman merupakan salah satu bukti pencapaian masyarakat di masa lalu yang diwujudkan ke dalam gaya arsitekturnya. |
Nilai Agama | : | Masjid pada umumnya bukan hanya tempat untuk melaksanakan sholat saja melainkan juga kegiatan-kegiatan lain di dalamnya. Sebagai sebuah living monument, masjid merupakan sarana untuk mendapatkan pengajaran melalui kegiatan yang dilaksanakan di tempat tersebut baik pengajaran yang disampaikan pada saat khotbah maupun kegiatan pengajian. Selain itu pada bagian serambi masjid juga terdapat perpustakaan. Menurut Dwiyanto (2009: 25) perpustakaan ini berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan umat di bidang ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan agama maupun pengetahuan umum. |
Nilai Pendidikan | : | Pakualaman merupakan sebuah kerajaan Kadipaten yang memiliki latar belakang agama Islam oleh karena itu pada konsep pembuatan keratonnya juga memiliki sebuah bangunan berupa masjid. Sebagai sarana peribadatan yang digunakan umat muslim, Masjid Puro Pakualaman sudah jelas merupakan bangunan penting bagi masyarakat sekitar. Keberadaan masjid juga merupakan salah satu komponen kompleks keraton dalam konsep catur gatra yang merefleksikan sistem religi dalam sebuah kerajaan. |
Nilai Budaya | : | Masjid Pura Pakualaman dibangun pada masa pemerintahan KGPAA Pakualam II. Ciri khas arsitektur yang ditunjukan oleh masjid tersebut merupakan gaya tradisional bangunan masjid yang mewakili masa tersebut. Ciri khas tersebut dapat dilihat dari bangunan inti masjid yang berbentuk tajug yakni suatu bentuk arsitektur tradisional yang menyerupai bentuk bangunan joglo. Pada bagian atapnya berbentuk runcing dengan empat saka guru sebagai tiang penyangga. Selain bangunan inti juga terdapat serambi yang juga terdapat pada masjid tradisional Jawa lainnya. |
Nama Pemilik Terakhir | : | Puro Pakualam |
Alamat Pemilik | : | Jl. Kauman PA II |
Nama Pengelola | : | Ketua Takmir |
Alamat Pengelola | : | Jl. Kauman PA II |
Persepsi Masyarakat | : | Bangunan sebagai tempat ibadah muslim. |
Catatan Khusus | : | Bangunan ini direhabilitasi pada tahun 2016 dengan pekerjaan utamanya berupa perkuatan struktur atap dan kolom bangunan utama. Kolom pada bagian yang memisahkan bangunan utama dan pawestren diduga pada awalnya merupakan sebuah tembok yang kemudian dipotong untuk menambah estetika. Bangunan ini memiliki atap tajug pada bangunan utama dan joglo pada bagian serambi. Pada bagian depan serambi terdapat sebuah bangunan baru yang difungsikan sebagai langkah mengantisipasi jumlah jemaah.Menerima Penghargaan Pelestari Cagar Budaya Tahun 2012 |