Bale Agoeng merupakan bangunan tunggal bergaya indis. Bangunan menghadap ke selatan (Jalan Bhayangkara). Bahan utama menggunakan bata berplester. Tinggi bangunan 9,95 meter dengan atap berbentuk limasan. Bahan penutup atapmenggunakan genting, sedangkan langit-langis ditutup papan berbahan jati. Bangunan ini tidak terdapat pembagian ruang. Pada dinding sisi timur, selatan, dan barat terdapat sebuah pintu tarung berkrepyak dan tiga buah jendela panil. Daun jendelanya terdiri dari 2 (dua) model, yakni :
Di bagian atas jendela tersebut terdapat kanopi dan rooster. Dinding sisi utara hanya terdapat sebuah pintu tarung dengan sistem bukaan keluar (tanpa jendela dan rooster). Di depan masing-masing pintu terdapat tiga tingkat undakan/trap.
Lantai bangunan menggunakan tegel 20 x 20, warna abu-abu, dengan tipe atau jenis kepala basah.
Bagian yang masih asli :
Hasil perbandingan kondisi sekarang (2016) dengan foto lama tahun 1970 (sumber : Pemda Kulon Progo) telah terjadi pengubahan secara fisik. Pengubahan tersebut misalnya :
| Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
| Komponen Pelengkap | : |
|
| Deskripsi Fasad | : | - |
| Deskripsi Konsol | : | - |
| Deskripsi Jendela | : | Daun jendelanya terdiri dari 2 (dua) model, yakni : Model pertama berupa panil kaca dengan sistem bukaan kedalam. Model kedua berupa krepyak dengan sistem bukaan keluar. |
| Deskripsi Pintu | : | Pintu tarung dengan sistem bukaan keluar |
| Deskripsi Atap | : | Limasan |
| Deskripsi Lantai | : | - |
| Deskripsi Kolom/Tiang | : | - |
| Deskripsi Ventilasi | : | - |
| Deskripsi Plafon | : | Bangunan ini memiliki plafon berupa papan berwarna putih berbahan jati. |
| Jenis Ragam Hias | : | - |
| Tokoh | : | - |
| Konteks | : | Bale Agoeng didirikan pada tahun 1918. Angka tahun ini dapat dilihat pada ‘tetenger’ yang ada di sebelah kiri pintu masuk depan. Ada dua tetenger dapat kita lihat di Bale Agoeng, tetenger sebelah kanan pintu masuk depan bertuliskan huruf jawa yang bunyinya “Bale Agoeng Ngesti Prayogi Samadyaning Siniwi”. Tulisan ini melambangkan sengkalan tahun berdirinya Bale Agoeng yakni 1918. Berdasarkan sumber lisan, Bale Agoeng ini dulu digunakan sebagai tempat penandatanganan penyatuan antara Kabupaten Adikarto dan Kabupaten Kulon Progo. Setelah penggabungan atas kesepakatan dua penguasa Yogyakarta, dikeluarkanlah UU No. 18 Tahun 1951 yang ditetapkan pada tanggal 12 Oktober 1951. |
| Riwayat Pengelolaan | : | - |
| Riwayat Pelestarian | : | - |
| Riwayat Pemugaran | : | - |
| Riwayat Pemanfaatan | : | - |
| Riwayat Penelitian | : | - |
| Riwayat Rehabilitasi | : | - |
| Riwayat Perlindungan | : | - |
| Nilai Sejarah | : | merupakan bukti sejarah masa-masa awal pemerintahan Kabupaten Kulon Progo. Misalnya : menjadi tempat penandatangananan kesepakatan penggabungan Kabupaten Kulon Progo dan Kadipaten Adikarto. |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | bangunan yang memiliki unsur-unsur arsitektur indis dan jenisnya sedikit (langka), karena jarang ditemukan di tempat lain di wilayah Kabupaten Kulon Progo. Bangunan yang menjadi landmark, citra kota Wates (khususnya) dan Kulon Progo (umumnya) |
| Nilai Pendidikan | : | Bangunan ini dapat dipergunakan sebagai sarana pendidikan tentang arsitekturindis. Dapat digunakan untuk media pembelajaran pelestarian arsitektur Kota Wates sebagai penanda citra Kota Wates lama. |
| Nilai Budaya | : | Dapat menjadi identitas kawasanKota Wates lama yang telah berkembang sejak lama hingga sekarang. Dapat memperkuat citrakawasan Kota Wates lama. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Pemkab Kulon Progo |
| Alamat Pemilik | : | Jl. Perwakilan No.1 Wates Kulon Progo |
| Riwayat Kepemilikan | : | - |
| Nama Pengelola | : | Bagian Umum Pemkab Kulon Progo |
| Alamat Pengelola | : | Jl. Perwakilan No.1 Wates Kulon Progo |
| Persepsi Masyarakat | : | - |
| Catatan Khusus | : | Angka koordinat tertera pada SK Bupati Kulon Progo dikoreksi dalam Jogjacagar. |