| Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
| Komponen Pelengkap | : |
|
| Deskripsi Atap | : | Rangka atap terbuat dari kayu jati. Rangka atap bangunan joglo adalah brunjung berbentuk piramida yang terletak di atas ke empat saka guru. Bagian-bagian dari brunjung rumah joglo ini adalah: - Uleng yang balok-balok kayunya disusun semakin ke atas semakin menyempit sehingga menyerupai bentuk piramida. Papan kayu di antara uleng yang disebut langit-langit (pyan) adalah polos. - Dada paesi yaitu balok melintang yang ada di tengah pamidhangan diukir dengan motif sederhana. - Tumpang Sari yaitu susunan balok yang disusun menyerupai piramida terdiri atas 4(empat) susun. Secara struktural berfungsi sebagai penopang atap joglo, sedangkan fungsi arsitektural merupakan bagian dari langit-langit utama struktur rongrongan (umpak-saka guru-sunduk-blandar). Tumpangsari ditopang langsung oleh balok blandar dan pengeret. Tumpangsari pada bangunan joglo rumah ini diukir indah dan merupakan center point bagi interior bangunan joglo rumah ini. Bagian atap genteng masih asli yaitu menggunakan genteng kripik. Seperti rumah tradisional Jawa pada umumnya, keseluruhan bangunan ini tidak memiliki plafon. |
| Deskripsi Kolom/Tiang | : | 4 tiang utama atau saka guru yang menyangga atap pendopo terbuat dari kayu jati dengan ukuran tinggi 350 cm dan ukuran kayu jati sebesar 15 cm x 15 cm. Hubungan antara saka guru - sunduk - sunduk kili menggunakan sistim purus, sedangkan antara saka guru - pengeret dan blandar menggunakan sistim cathokan. Sistim persendian antara umpak dan saka guru dapat berfungsi untuk mengurangi getaran pada saat bencana gempa bumi, sedangkan sistem purus dan canthokan yang bersifat jepit terbatas menjadikan atap berlaku sebagai bandul yang menstabilkan bangunan saat menerima gaya gempa (berlaku seperti pendulum). Purus pathok merupakan purus dari tiang utama (saka guru) yang berfungsi sebagai penjaga kestabilan blandar pengeret dan pengunci cathokan. Purus wedokan yaitu purus yang dimasuki purus pathok tersebut. |
| Peristiwa Sejarah | : | Berdasar penuturan pemilik saat ini, rumah joglo ini pada awalnya tidak berada di lokasi saat ini, melainkan berada di sebelah utara jalan dan menghadap ke selatan. Setelah orangtua Bapak Sardjono menikah, kakek Bapak Sardjono yang bernama Karyo Jemiko memindahkan lokasi rumah joglo tersebut ke sisi sebelah selatan jalan dan menghadap ke utara. Usulan sebagai bangunan cagar budaya pertama kali diajukan oleh Bapak Suprabowo (adik kandung Bapak Sardjono). Berdasarkan kesepakatan ahli waris, dengan dasar pertimbangan bahwa yang merawat rumah tersebut adalah bapak Sardjono kakak dari Bapak Suprabowo, maka kepemilikan kemudian diatas namakan Bapak Sardjono hingga sekarang. Keseluruhan bahan kayu yang digunakan merupakan kayu jati. Bangunan ini selain digunakan sebagai tempat tinggal juga difungsikan sebagai tempat kegiatan kemasyarakatan. |
| Nilai Sejarah | : | Bangunan ini pernah berperan di dalam perjuangan kemerdekaan sebagai tempat pengungsian.Gaya bangunan rumah ini merepresentasikan kesejarahan gaya bangunan rumah tinggal pada masa itu sehingga dapat menjadi bahan edukasi dan informasi tentang gaya arsitektur rumah tinggal, materi bangunan, filosofi bangunan dan ruang, peruntukan dan pembagian masing-masing ruang, adaptasi dengan iklim, serta fungsinya di dalam interaksi sosial budaya masyarakat pada masa itu. |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Arsitektur dan Arkeologi : bangunan ini mempunyai bentuk yang khas sebagai bangunan dengan ciri arsitektur tradisional Jawa bergaya Mataram Islam Kerakyatan Sosial : menjadi bahan edukasi dan informasi tentang gaya arsitektur rumah tinggal, materi bangunan, filosofi bangunan dan ruang, peruntukan dan pembagian masing-masing ruang, adaptasi dengan iklim, serta fungsinya di dalam interaksi sosial budaya masyarakat pada masa itu. |
| Nilai Pendidikan | : | pengetahuan tentang bentuk-bentuk rumah tradisional Jawa serta pengetahuan tentang budaya masyarakatnya yang memperlihatkan interaksi, filosofi, karya kreatif, bahan/material bangunan yang tersedia pada masa itu, serta tingkatan sosial dari pemilik bangunan. |
| Nilai Budaya | : | memperlihatkan sistem budaya baik interaksi antar anggota keluarga dan sosial masyarakat, maupun memperlihatkan pengetahuan pemilik akan materi bangunan serta filosofinya. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Bapak Harsodiyono (Ayah dari Bapak Sardjono) |
| Alamat Pemilik | : | Baros Lor 01/02, Monggol, Saptosari, Gunung Kidul |
| Nomer Kontak | : | 0817419273 |
| Nama Pengelola | : | Sardjono |
| Alamat Pengelola | : | Baros Lor 02/02, Monggol, Saptosari, Gunung Kidul |
| Nomer Kontak | : | 0817419273 |