| Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
| Komponen Pelengkap | : |
|
| Tata Letak Dalam Ruang Kawasan | : | Bangunan memiliki tata ruang yaitu sebagai berikut: aula, ruang administrasi, kantor, ruang vip, ruang theresia, ugd, poli, ruang ro, ruang oka, ruang cuci, ruang duka, dapur, dan bangsal magdalena daemen. |
| Deskripsi Fasad | : | Fasad dari Rumah Sakit St. Yusup Boro mengalami sedikit perubahan. Dulunya di muka bangunan terdapat struktur tembok ±1m, namun kini telah dibongkar. |
| Deskripsi Konsol | : | Konsol berjenis kayu polos berwarna coklat. |
| Deskripsi Jendela | : | Jendela pada bangunan Rumah Sakit St. Yusup Boro ada beberapa jenis dan juga bahan. Jendela jenis kupu tarung dobel, pada lapisan luar bagian atas krepyak, bagian bawah papan. Pada lapisan dalam jendela berangka kayu dengan panil kaca (lihat foto 4, 5, dan 6).Jendela jungkit dengan kerangka alumunium dengan kusen berbahan kayu. Di tengah jendea ini terdapat kaca patri bermotif flora (lihat foto3). Jendela jungkit dengan panil kaca di tengah tanpa ornamen, kerangka berbahan kayu (lihat foto 7). |
| Deskripsi Pintu | : | Pintu pada bangunan Rumah Sakit St. Yusup Boro ada beberapa jenis dan juga bahan. Pada bangunan ruang aula terlihat pintu berjenis kupu tarung dengan kerangka alumunium dan panil kaca di tengah.Kupu tarung dengan bahan full kayu, pada ruang rawat inap. Kupu tarung dengan bahan panil kaca dan kerangka alumunium, pada bangunan IGD. Pintu ini berukuran lebih besar dari pintu yang lain.Kupu tarung dengan ornamen flora berbahan besi, terdapat pada area pendaftaran menuju ke bangunan rawat inap.Pintu “inep siji” dengan bahan triplek dan kerangka alumunium pada beberapa ruang kantor karyawan. Pintu “inep siji” dengan bahan kayu pada beberapa ruang inap. Pintu Kupu tarung dengan panil kaca di tengah dengan kerangka kayu pada ruang farmasi.Pintu berbahan alumunium dengan panil kaca di tengah pada ruang ICU. |
| Deskripsi Atap | : | Atap dari bangunan rumah sakit St. Yusup Boro merupakan atap pelana yang khas pada bangunan Kolonoial (lihat foto 16, 18, dan 19). Pada ruang rawat inap atap berjenis lmasan. |
| Deskripsi Lantai | : | Pada bagian lorong bnagunan rumah sakit masih menggunakan lantai asli berupa tegel berwarna hitam. Namun lantai pada sebagian besar bangunan Rumah Sakit St. Yusup Boro telah mengalami perubahan menjadi keramik seperti pada ruang rawat inap dan bangunan perkantoran hingga aula. |
| Deskripsi Ventilasi | : | Ventilasi pada bangunan Rumah Sakit St. Yusup Boro ada beberapa jenis, antara lain. Ventilasi dinding beton. Ventilasi kayu dan net yang berada di atas pintu aula. Ventilasi berbentuk persegi empat dengan bukaan panil kaca dengan kerangka kayu, serta dilapisi net pada bangunan rawat inap. Ventilasi berbentuk persegi panjang dengan kombinasi kaca dan kayu berjenis krepyak pada beberapa ruang rawat inap. |
| Deskripsi Plafon | : | Plafon pada bangunan Rumah Sakit St. Yusup Boro berbahan triplek berwarna putih dengan lis berbentuk segi empat. |
| Desain | : | bergaya Arsitektur Kolonial |
| Interior | : | aula, ruang administrasi, kantor, ruang (vip, theresia, ro, oka, cuci, duka), bangsal magdalena daemen, dapur, ugd, poli |
| Peristiwa Sejarah | : | Boro adalah desa kecil di lereng bukit menoreh, kurang lebih 35 km sebelah barat laut dari Kota Yogyakarta. Pada waktu itu Boro merupakan tanah misi, dengan perintis pertama Romo J Prennthaler, SJ. Pada saat itu, Boro merupakan bagian dari distrik Kalibawang yang dilingkupi oleh pegunungan yang tandus dengan penduduk yang mayoritas petani ladang. Mereka pada saat itu adalah orang-orang yang miskin dan bersahaja. Keadaan kesehatan sangat memprihatinkan sehingga mereka memerlukan prioritas pelayanan kesehatan. Romo J Prennthaler, SJ seorang misionaris yang pada waktu itu bertugas di Boro selain mendukung pengembangan persekolahan juga memikirkan kesehatan masyarakat. Pada awalnya Romo J Prennthaler, SJ dengan cara bersepeda mengunjungi desa-desa untuk membagikan obat-obatan. Pelayanan medis ketika itu memang masih terbelakang. Cara tersebut sekaligus juga sebagai cara Romo J Prennthaler, SJ untuk membangun jaringan di kalangan rakyat. Pelayanan kesehatan berupa perawatan dan pengobatan bahkan berlangsung di lingkungan terdekat misalnya dalam asrama para suster. Benih karya pelayanan kesehatan rumah sakit di Boro merupakan hasil kerja keras para misionaris Katolik. 1930-an Pada tanggal 15 Desember 1930 rumah sakit didirikan atas izin Lurah Banjarasri Bradjaprawira. Ada lima suster Santo Fransiskus yang datang ke Boro yang akan merintis pengelolaan dan penyelenggaraan karya pelayanan kesehatan di Boro. Kelima tersebut adalah suster Aufrida Smulders, Sr. Coleta Rubiah, Sr Petrona V Knik dari Muntilan, Suster Bernolda Segering dari Mendut, Sr Florida van de Klauw. Pada bulan yang sama rumah sakit tersebut disahkan di muka notaris di Wates. Pada masa-masa awal beroperasinya, Rumah Sakit Santo Yusup Boro tidak memungut biaya pengobatan pada masyarakat yang datang berobat. Kondisi tersebut disebabkan oleh tingkat perekonomian masyarakat Boro dan sekitarnya yang masih rendah. Pada tanggal 4 Januari 1931 rumah sakit tersebut diberkati oleh Romo Superior Misi A van Kalken SJ, didampingi oleh Romo FX. Satiman SJ dan sejak tanggal 5 Januari 1931 rumah sakit tersebut terbuka untuk melayani para pasien. Penduduk yang sebelumnya tidak mempercayai cara perawatan baru yang disediakan oleh para suster akhirnya mulai memberanikan diri untuk meminta obat dan diperiksa, bahkan kalau perlu diopname. Semua itu dilayani secara gratis tanpa membayar. Dalam waktu satu minggu yakni pada tanggal 12 Januari 1931 rumah sakit tersebut sudah penuh, 25 dari 30 tempat tidur yang ada sudah menampung pasien rawat inap. Pada waktu itu, dua kali seminggu para suster dengan menggunakan mobil berangkat ke Yogyakarta untuk mengambil pakaian, makanan, perlengkapan rumah tangga maupun surat-surat. Sementara itu hanya seminggu sekali seorang dokter dari Yogyakarta datang di rumah sakit Boro untuk menangani kasus-kasus yang paling parah sedangkan hal-hal lain dipercayakan para suster. Para suster tersebut terpaksa berfungsi sebagai dokter untuk melayani sekitar 100 pasien perhari dipoliklinik. Selain itu ada 40 sampai 60 pasien rawat inap. Pada umumnya pada masa itu, pasien TB tidak diopname di rumah sakit Boro,tetapi dirujuk ke rumah sakit di Yogyakarta atau di Muntilan. Baru pada tanggal 5 Maret 1931, rumah sakit tersebut dibuka dan diresmikan oleh Residen Westra, dan dihadiri oleh asisten residen, serta bupati Sentolo. Pada tahun 1932 penyakit mabuk tempe menimpa rakyat di desa-desa sekitar Boro. Banyak orang yang diangkut ke rumah sakit dan ada yang meninggal dalam perjalanan. Tercatat ada 120 orang pasien, sehingga semua kamar yang tersedia penuh bahkan sampai di susteran 1935 Pada tanggal 1 Januari 1935 Rumah Sakit Santo Yusup Boro mendapat subsidi dari Kesultanan Yogyakarta sebesar lima puluh Gulden per bulan (Paroki Santa Theresia Lisieux Boro 1991, 28). Mengingat arus pasien RS St Yusup Boro yang cukup besar maka tidak lama kemudian juga dibuka poliklinik cabang Nanggulan. Ternyata ketekunan dan komitmen sosial para biarawati sangat dihargai oleh pemerintah dan pemuka masyarakat. Pada tahun 1936, seorang kontrolir atas nama Gubernur Yogyakarta mengucapkan terima kasih yang mendalam atas peran misi dalam mengembangkan pelayanan kesehatan dan juga pengajaran di daerah Kulon Progo, khusunya bagi orang-orang miskin. Pada tanggal 25 November 1938 dr. Pujasuwarna menggantikan dr. Sahir sebagai dokter kepala di Rumah Sakit Santo Yusup Boro. Pada periode kepemimpinan dr. Pujasuwarna rumah sakit mengalami renovasi berupa penambahan ruang yaitu ruang anak dan ruang bersalin. Oleh karena kebutuhan ruang yang semakin mendesak dan demi kelancaran dalam pelayanan, maka dibangun ruang baru yaitu ruang anak dan ruang bersalin. Mulai bulan November 1938 subsidi dari Pemerintah Yogyakarta naik menjadi seribu Gulden pertahun (Paroki Santa Theresia Lisieux Boro 1991, 28-29). 1940-an Pada tahun 1942 datanglah Jepang untuk menjajah bangsa Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942 terebut dapat dikatakan bangsa Indonesia mengalami penderitaan. Rumah Sakit Yusup Boro tidak terhindar dari penderitaan ini. Pada masa pendudukan Jepang, keadaan rumah sakit dapat dikatakan semakin miskin. Rumah sakit menerima bantuan dari dokter sentral untuk 4 bulan, meskipun Jepang berjanji akan memberikan bantuan obat-obatan. Mobil rumah sakit disita oleh Jepang. Dapat dikatakan keadaan keuangan rumah sakit benar-benar menyedihkan. Untuk itu pasien tidak gratis lagi. Keluarga para pasien diminta sedikit bantuannya berupa hasil bumi yang tersedia. Misalnya kelapa, gori, dll. Jumlah pasien rumah sakit juga berkurang, karena mereka takut bepergian. Pada masa agresi Belanda II Kelurahan Banjarasri menjadi salah satu tempat penting dalam usaha melakukan taktik perang gerilya. Rumah Sakit Santo Yusup Boro pada masa revolusi phisik tahun 1948-1949 dijadikan rumah sakit tentara. Serangan yang sering dilakukan tentara Belanda, terutama pemboman terhadap wilayah pertahanan pejuang Republik Indonesia seperti di Dekso, Poros dan Samigaluh mengakibatkan semakin banyak penduduk sipil maupun militer yang menjadi korban. Rumah Sakit Santo yusup di Boro yang didirikan oleh para misionaris tersebut, pada masa pemerintahan Belanda memberikan andil yang cukup besar pada masa itu. Para korban perang dari Cebongan, Borobudur, Godean, Kebon Agung, Samigaluh, daerah utara Kota Yogyakarta dan daerah lain sekitarnya dibawa ke Rumah Sakit Santo Yusup Boro oleh para pemuda pejuang militer maupun para anggota palang merah sukarela. Di bawah pimpinan Suster Coleta OSF, Pastur Zervatius, dr Kusen, dr Hoetagaloeng yang bersedia menjadi palang merah sukarela, mereka memberikan pertolongan pengobatan kepada para pejuang dan pengungsi yang menjadi korban pertempuran. 1960/1970-an Beberapa nama dokter yang pernah berkarya di RS Santo Yusup Boro dari tahun 1965 sampai 1972 yaitu: dr Sr. M Celine, OSF (1965) dr Antono (1967-1970) dr RA Kresman dan dr Sutaryo (1970-1972) bergantian tiap Senin Pada tahun 1972 Dr Leni Kushadi mulai berkarya di rumah sakit Santo Yusup Boro sebagai dokter penuh waktu dan sebagai Direktur Utama. Menurut keterangan nara sumber bahwa tahap demi tahap Rumah Sakit Santo Yusup Boro dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang memang sebaiknya dimiliki sebuah rumah sakit baik itu peralatan medis, maupun bangunan-bangunan bangsal dan poliklinik. 1980-an Pada tahun 1980 ada beberapa renovasi yang dilakukan oleh RS Santo Yusup Boro di antara yaitu: Ruang perawatan atau bangsal Fransiskus dan Maria diberi sekat karena pada waktu ada aturan dari Dinas Kesehatan bahwa satu ruang perawatan tidak boleh terdiri dari 12 tempat tidur. Untuk itu kemudian diberikan sekat dan ruangannya diberi nama Ruang Fransiskus 1, Fransiskus 2 serta Ruang Maria 1 dan Ruang Maria 2. Setiap ruang hanya ada 6 tempat tidur. Ruang bagian depan yang dahulu merupakan ruang poliklinik dan sekarang digunakan untuk ruang farmasi diberi tambahan sekat dinding. Dinding ruang Fransiskus dan Maria diberi tambahan keramik dinding. Selain itu pada tahun 1980, juga dilakukan penambahan fasilitas bangunan perawatan bagi pasien. Ada dua bangunan yang dibangunan yang dinamakan dengan Ruang A1 dan Ruang A2 dan tambahan ruang Magdalena yang digunakan untuk perawatan ruang ibu setelah melahirkan. 1990-an Pada tahun 1990 dilakukan penambahan ruang unit Fisioterapi dan Uni Gawat Darurat (UGD) dan penambahan pagar besi di depan ruang Fransiskus dan ruang Maria. Sementara itu pada tahun 1991 ada penambahan unit radiologi / rontgen. Rumah Sakit Santo Yusup Boro pada tahun 1992 diberi kepercayaan oleh pemerintah untuk mengadakan kegiatan penyuluhan dan pengobatan diberbagai wilayah. Dengan adanya 5 dokter paruh waktu dan 1 dokter purna waktu kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan lancar dan pada tanggal 5 November 1992 Rumah Sakit Santo Yusup Boro ditetapkan sebagai juara pertama dalam lomba Rumah Sakit Se-DIY. Pada tanggal 6 Agustus 1995 unit kamar operasi mulai difungsikan kembali dan dilaksanakan operasi yang perdana dan pada bulan Desember dibuka Poli Spesialis. Ada berbagai fasilitas pelayanan yang terdapat di Rumah Sakit Santo Yusup Boro sampai saat ini antara lain: 1) UGD 2) Poli Gigi 3) Poli Mata 4) Poli THT 5) Poli Penyakit Dalam 6) Plo Anak 7) Poli Kandungan 8) Poli Umum 9) Instalasi Farmasi 10) Pelayanan KB 11) Pemeriksaan Radiologi 12) Pemeriksaan EEG 13) Pemeriksaan Laboratorium 14) Fisioterapi Imunisasi (BCG, DPT, Anti Polio, Hepatitis B dan Campak). |
| Riwayat Penemuan | : | Dibangun 1913 |
| Riwayat Rehabilitasi | : | Berdasarkan informasi dari narasumber, pada tahun 2015 Rumah Sakit St. Yusup Boro melakukan rehabilitasi yang cukup masif. Mulai dari alih fungsi ruang, pengecatan, penggantian pintu serta jendela, penggantian lantai, penggantian plafon, dan penambahan kanopi. |
| Nilai Sejarah | : | Sejarah misi di Kulonprogo Pada Tahun 1932 Romo Prennthaler, SJ dan Sr. Aufrida, OSF berunding untuk menampung anak-anak yang membutuhkan perawatan dan pendidikan, dan ditempatkan di bapak Carik Partadikrama, diasuh ibu Hendrika. Diharapkan setelah mendapatkan pendidikan yang cukup dari sana, anak-anak bisa mandiri dan bekerja, bahkan dapat pulang kembali untuk membantu keluarga. Pada tahun ini pula banyak orang kena mabuk tempe, sehingga rumah sakit penuh, sehingga meluber sampai susteran. Tercatat pasien sebanyak 120 orang. Peran dalam perang Tahun 1949 Pecah perang mempertahankan kemerdekaan, peran rumah sakit semakin nyata, Yogyakarta dan Muntilan dalam keadaan genting, banyak pasien terkena peluru, sehingga rumah sakit menjadi penuh. Mulai tahun inilah Rumah Sakit Santo Yusup Boro mempunyai peran yang sangat penting dalam membantu perang mempertahankan kemerdekaan |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Bangunan RS St Yusuf memiliki potensi untuk dapat diteliti lebih lanjut dalam rangka menjawab masalah-masalah dalam bidang keilmuan tertentu. Arkeologi Dapat merekonstruksi pola pikir dan perilaku masyarakat masa kolonial dan perubahan kebudayaan yang terjadi di Kulonprogo. Arsitektur memiliki nilai dalam perkembangan sejarah arsitektur. Tampilan khas yang menunjukan fungsi sebagai bangunan publik dan memiliki karakteristik bergaya campuran, antara Eropa dan gaya setempat yang juga diadaptasikan terhadap alam disekitar bangunan tersebut. Teknik sipil terkait dengan struktur bangunan yang dibuatnya. Bangunan besar tanpa rangka besi namun cukup kuat untuk ukuran bangunan pada masanya dan dapat bertahan sampai saat ini. |
| Nilai Pendidikan | : | Edukasi kepada publik dalam hal pelestarian bangunan cagar budaya. |
| Nilai Budaya | : | Bangunan lama rumah sakit yang bergaya indies tersebut dapat: -menjadi identitas -meningkatkan ekonomi setempat Nilai penting kebudayaan yang dimiliki oleh Rumah Sakit Santo Yusup, Boro, dapat dirinci melalui aspek estetik dan publik. Aspek estetis adalah aspek yang berkaitan dengan keindahan. Keberadaan Rumah Sakit Santo Yusup, Boro telah menawarkan keindahan tersendiri yaitu pada arsitektur bangunannya, komposisi letak bangunan yang ada di dalamnya, serta kawasan sekitarnya dengan bangunan-bengunan pendukung seperti Susteran, Gereja, bahkan beberapa bagunan tradisional penduduk yang berada di kawasan tersebut. Aspek publik sebagai rumah sakit tentu saja sangat dibutuhkan dan hal lain yang mendukung adalah ditetapkanya Desa Banjar Asri sebagai Desa Wisata. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Yayasan Rumah Sakit Santo Yusup Boro |
| Alamat Pemilik | : | Jl. Kawi No. 1, Candisari, Semarang |
| Nama Pengelola | : | Yayasan Santo Yusup Boro |
| Nomer Kontak | : | 082326974951 |
| Persepsi Masyarakat | : | |
| Catatan Khusus | : | Koordinat SK : UTM 49M X : 0414367Y : 9149274 |