Loading

Baju Atela koleksi Museum Monumen Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia

Status : Benda Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Baju Atela merupakan pakaian adat pria yang bersumber dari Kraton Surakarta. Ciri khas baju atela adalah letak kancingnya yang berada di  bagian tengah. Baju atela ini merupakan milik RM Abdul Kadir Tjokrosoerjo dari hasil tenunan istrinya, Ibu Bintang Abdul Kadir pada tahun 1924.  

Baju Atela ini terdiri atas dua potong, yaitu baju bagian dalam/rompi dan baju luar. 

Baju rompi:  
Panjang rompi bagian depan dan belakang tidak sama. Panjang rompi bagian belakang rata/lurus, sedangkan bagian depan lebih panjang di bagian tengah dan berbentuk lancip.  

Rompi  bagian depan  dibuat dari kain tenun  warna putih  dan kainnya rangkap dua lembar. Bagian belakang dibuat dari kain mori warna putih yang sekualitas dengan mori primisima.  Kerah rompi model rebah lurus semakin ke bawah semakin lebar. Bagian depan terdapat kancing baju dari plastik warna  putih sebanyak lima buah. Di sisi bagian pinggang sisi kanan terdapat  dua buah saku model vest yang dipasang miring, sedangkan di pinggang sisi kiri terdapat satu saku model vest. Di bagian dalam terdapat sebuah saku model paspoile. Di  kanan dan kiri pinggang bagian belakang dipasang kain selebar 2 cm, tetapi  di bagian tengahnya  tidak dijahit. Pada kain sebelah kanan terdapat lubang kancing  dan sebuah kancing logam.  Pada tengkuk bagian dalam terdapat tulisan kain warna putih dan tulisan warna merah yaitu: DE LOCOMOTIEF AMSOEPRAPTODJOKJA 

Baju luar: 
Bahan baju terbuat dari tenun warna putih. Kain bagian depan rangkap, yaitu tenun dan bagian tepi dikombinasi dengan kain mori sekualitas dengan mori primisima.  Baju atela model jas. Panjang baju bagian belakang dan depan tidak sama. Panjang baju bagian belakang rata/lurus, sedangkan bagian depan lebih panjang pada bagian tengah. Bagian belakang baju terdapat sambungan garis prinses. 

Kerah baju model jas. Di dada kanan terdapat sebuah saku model vest.  Bagian dalam baju terdapat dua saku model paspoile, yaitu sebuah di sebelah kanan dan sebuah di sisi kiri. Terdapat enam buah kancing yang dibungkus kain tenun masing- masing tiga buah di sisi kanan dan tiga buah di sisi kiri, yang  dipasang miring dan berfungsi sebagai hiasan. Salah satu dari kancing ini robek kain pembungkusnya. Kain pada kerah dibuat rangkap dan dijahit tusuk piquer. Pada tengkuk bagian dalam terdapat tulisan kain warna putih dan tulisan warna merah yaitu: DE LOCOMOTIEF AMSOEPRAPTODJOKJA 

Lengan baju model jas, bagian pergelangan tangan terdapat dua buah kancing baju berbentuk bulat yang dibungkus kain tenun.  Pada beberapa bagian lengan kondisi kain sudah robek dan dijahit, bahkan pada lengan kanan ditambal dengan kain mori. 

Status : Benda Cagar Budaya
Periodesasi : Kolonial (Belanda/Cina)
Tahun : 1924
Bagian dari : Monumen Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia
Alamat : Laksda Adisucipto No. 88 Demangan, Caturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

SK Walikota/Bupati : SK Bupati Sleman


Asal Usul : Merupakan hasil tenunan dari istrinya Ibu Bintang Abdulkadir pada tahun 1924
Keterawatan : Utuh dan Terawat,Utuh / Rusak Ringan,
Dimensi Benda : Panjang Baju luar: Panjang muka 36 cm; Panjang baju 49 cm; Panjang bahu 14 cm; Panjang lengan 62 cm; Panjang punggung 39 cm; Panjang sisi 27 cm; Panjang baju belakang 48,5 cm Ukuran Rompi: Panjang bahu 13 cm; Panjang baju depan 43 cm; Panjang baju belakang 48 c
Lebar -
Tinggi -
Tebal -
Diameter Baju luar: Lingkar badan 86 cm; Lingkar pinggang 82 cm; Lebar muka 32 cm; Lingkar pergelangan 28 cm; Kerung lengan 45 cm; Lebar punggung 36 cm Ukuran Rompi: Kerung lengan 50 cm; Lingkar badan 98 cm; Lingkar pinggang: 92 cm
Berat -
Ciri Fisik Benda
Warna : putih
Cara Pembuatan : jahit
Ciri Fisik Benda
Warna : putih
Cara Pembuatan : jahit
Fungsi Benda
Fungsi Dulu : pakaian
Fungsi Sekarang : koleksi museum
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Tokoh : RA. Bintang Abdulkadir
Peristiwa Sejarah : Baju Atela berwarna putih dikenakan oleh Abdi Dalem berpangkat Wedana ke atas pada upacara-upacara besar seperti Ngabekten & Garebeg. Selain atela putih, juga ada beskap atau atela berwarna hitam yang dikenakan pada acara-acara tertentu, seperti Kondur Gangsa pada bulan Maulud. Baju atela yang ada di  Museum Monumen Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia berwarna putih adalah milik RM. Abdul Kadir  Tjokrosoerjo, yang merupakan hasil tenunan dari istrinya Ibu Bintang Abdulkadir pada tahun 1924, dan masuk sebagai koleksi museum pada tahun 1992. RM. Abdukadir Tjokrosoerjo adalah seorang dokter, putra dari seorang bupati di Daerah Jawa Tengah yang  lahir di Semarang pada tanggal 1 Agustus 1876.  Selain berprofesi sebagai dokter, RM. Abdulkadir juga aktif dalam Organisasi Budi Utomo.  Istrinya bernama RA. Bintang Abdulkadir adalah salah satu pendiri Organisasi Wanita Utomo yang berdiri tahun 1921. 
Konteks : RA. Bintang Abdulkadir lahir di Mojokerto pada tanggal 10 Desember 1899. Beliau sangat aktif dalam membangun Wanita Utomo sebagai organisasi yang dapat memajukan keterampilan kaum wanita pada waktu itu. Kegiatan yang diadakan oleh Wanita Utomo yaitu kursus memasak, membatik, menjahit, merajut, menyulam, menenun, dan berbagai kegiatan kesenian lainnya. Peran Ibu Bintang adalah sebagai pengurus inti organisasi  dan sekaligus sebagai pengajarnya.  Sejak dini, RA. Bintang telah melihat adanya keterkaitan antara seni kerajinan tenun tradisional dengan perekonomian rakyat. Karena itu, beliau menghidupkan kembali seni ini di tengah kaum perempuan  Jawa terutama mengajarkannya kepada anggota-anggota perkumpulan.  Salah satu koleksi Museum Pergerakan Wanita Indonesia yaitu baju atela berwarna putih yang merupakan hasil tenunan RA. Bintang dapat menjadi bukti keseriusan beliau dalam mencintai seni tenun tradisional dan menjadikan keterampilan menenun sebagai pelajaran penting. Organisasi Wanita Utomo. Selain itu, beliau juga sempat menyusun buku tentang tata cara menenun yang diterbitkan Firma H. Bunning Yogya pada 1925.
Riwayat Pengelolaan : Masuk sebagai koleksi museum pada tahun 1992.
Nilai Sejarah : Merupakan  milik dari RM Abdukadir Tjokrosoerjo, seorang   dokter, yang aktif dalam Organisasi Budi Utomo. Beliau lahir pada tanggal 1 Agustus 1876 di Semarang, putra dari seorang bupati di Jawa Tengah. Baju atela ini merupakan hasil tenunan dari istrinya, yaitu Ibu Bintang Abdulkadir pada tahun 1924.  Beliau adalah salah satu pendiri Organisasi Wanita Utomo yang berdiri tahun 1921.
Nilai Budaya : Mewakili masa gaya yang khas, yaitu gaya pakaian adat pria Jawa yang masih berlangsung hingga sekarang.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Museum Monumen Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia, Sleman, Daerah Is
Pengelolaan
Nama Pengelola : Museum Monumen Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia, Sleman, Daerah Is
Catatan Khusus : Kondisi saat in: Warna agak memudar dan ada bagian yang sudah sobek.