Loading

Masuk Jogjacagar

Pesarean Ki Ageng Giring III di Sodo

No. Reg. 3403052001.3.2021.594 Status Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Bangunan Islam 1 M 1500 M (1500)

Nama Lainnya : Petilasan Ki Ageng Giring III

Petilasan Ki Ageng Giring III merupakan sebuah kompleks pemakaman. Kompleks petilasan ini memiliki tiga pintu gerbang. Gerbang pertama menuju halaman paling depan, untuk pemakaman umum. Gerbang kedua, melewati gapura berbentuk bentar (bangunan baru). Di halaman kedua ada makam para pengikut Ki Ageng Giring (wawancara dengan Surakso Sartoyo). Gerbang ketiga, gerbang ini adalah sebuah daun pintu yang tingginya sekitar 90 cm, untuk menuju makam Ki Ageng Giring III. Posisi makam Ki Ageng Giring III lebih tinggi dibanding makam lain. Dari gapura bentar ke cungkup Ki Ageng Giring dihubungkan oleh doorloop.

Nisan Ki Ageng Giring III menempati sebuah cungkup yang paling besar. Di luar sebelah kanan dari cungkup Ki Ageng Giring III terdapat nisan Kanjeng Ratu Giring III (putri Ki Ageng Giring) istri Panembahan Senapati. Dalam kompleks makam Ki Ageng Giring III juga ada makam Panembahan Romo dan Raden Ayu Kadjoran, yang berada di luar cungkup sebelah kiri.
Kompleks pemakaman ini mirip dengan tata letak punden berundak. Yakni dari halaman paling bawah terus menuju ke atas atau yang lebih tinggi. Bagian yang paling tinggi adalah bagian yang paling sakral dan orang yang dimakamkan ditempat paling tinggi adalah orang yang paling dihormati.
Menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat, petilasan ini diyakini sebagai makam Ki Ageng Giring III, seorang pertapa sakti yang putrinya menjadi istri Panembahan Senapati.
Kraton Kasultanan Yogyakarta menempatkan abdi dalem untuk menjaga petilasan tersebut. Saat ini (2017) ada tiga orang abdi dalem yang bertugas menjaga dan merawat petilasan yakni Surakso Sartoyo, Surakso Hartoyo dan
Surakso Fajarudin.

Informasi Cagar Budaya

Dari WBCB : Petilasan Ki Ageng Giring III
Lokasi Bangunan : Sodo, Kec. Paliyan, Gunung Kidul Kel. Sodo Kec. Paliyan Kab. Gunungkidul Prov. Daerah Istimewa Yogyakarta
Koordinat -8.004580 ; 110.559003
No. Registrasi Daerah : R0017/TACBGK/12/2017
SK Gubernur : SK Gub. No 210/KEP/2010

Lokasi Pesarean Ki Ageng Giring III di Sodo


Koordinat Penemuan : ;
Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Jenis Struktur : Tradisional
Dimensi Struktur
Jenis Bangunan : Tradisional
Fungsi Bangunan : Religi/Keagamaan
Komponen Pelengkap :
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Fungsi Situs : Religi/Keagamaan
Fungsi : Religi/Keagamaan
Tokoh : Ki Ageng Giring III
Peristiwa Sejarah : Menurut keterangan Mas Lurah Surakso Hartoyo, petilasan Giring dibangun oleh Sultan HB IX, yakni membuat cungkup dan pendapa makam. Tahun 1983 mendapat bantuan dana dari Presiden Suharto dan dipakai untuk membuat masjid yang terletak di dekat pintu masuk makam. Sekitar tahun 1998/1999 trah HB II melakukan pembangunan berupa gapura bentar dan doorloop.Petilasan Ki Ageng Giring III pada tahun 2011 direhab oleh Dinas Kebudayaan. Di halaman depan sebelum masuk kompleks pemakaman dibangun sebuah tetenger yang terbuat dari batu hitam.Berdasarkan cerita yang berkembang di kalangan masyarakat setempat, Ki Ageng Giring III adalah keturunan dari Brawijaya (Kerajaan Majapahit). Ki Ageng Giring III atau disebut juga dengan nama Ki Ageng Paderesan karena pekerjaannya sebagai pembuat gula aren. Ki Ageng Giring memiliki putri bernama Kanjeng Ratu Giring (Rara Lembayung) yang kemudian menikah dengan Panembahan Senapati. Rara Lembayung dan Panembahan Senapati memiliki seorang anak laki-laki.Untuk mengetahui peran Ki Ageng Giring III dalam sejarah Mataram, maka penting untuk melihat konsep kekuasaan dan elemen yang membentuk kekuasaan tersebut. Sejarah perkembangan Kerajaan Mataram dan tata administrasinya tidak lepas dari perkembangan Islam dan institusi politik.Dinasti Mataram menurut G. Moedjanto (1987: 104-105) adalah keturunan rakyat jelata. Asal-usul seperti itu mendorong penyusunan silsilah politik untuk menunjukkan bahwa mereka adalah keturunan pilihan dan utama, sebagaimana terlukis dalam kalimat trahing kusuma, rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andana warih (G. Moedjanto, 1987: 86). Dengan kata lain, silsilah ini juga menjadi legitimasi bagi mereka untuk menduduki jabatan tinggi.Legitimasi kekuasaan melalui penyusunan silsilah politik dilakukan pewaris tahta Mataram dengan menarik garis keturunan ke-46 Nabi Adam hingga Brawijaya V sebagai raja Majapahit terakhir. Di samping itu, keunggulan juga mereka tunjukkan melalui silsilah politik sebagai keturunan para wali.Perkawinan antara Panembahan Senapati dengan Rara Lembayung putri Ki Ageng Giring yang keturunan Brawijaya dari Majapahit merupakan salah satu cara untuk menopang kedudukan Senapati, raja pertama Kerajaan Mataram.Di samping itu, banyak pula cerita tutur yang berkembang di masyarakat tentang wahyu keprabon yang dimiliki oleh Ki Ageng Giring III, apabila dia berhasil meminum air kelapa muda (degan). Namun yang akhirnya berhasil meminum air kelapa muda itu adalah Ki Pemanahan, sahabat Ki Ageng Giring, dan tahta Mataram jatuh ke anak keturunan Ki Pemanahan.Sampai sekarang petilasan tersebut diyakini oleh masyarakat umum dan juga dari kraton sebagai tempat yang memiliki tuah atau berkah. Banyak peziarah dari berbagai daerah yang datang ke tempat tersebut dengan berbagai kepentingan (wawancara dengan Surakso Hartoyo).
Nama Pemilik Terakhir : -
Riwayat Pengelolaan
Nama Pengelola : -