Loading

Bangunan Hotel Mustokoweni

Status : Bangunan Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Hotel Mustokoweni berada pada poros utama sumbu imajiner dari Tugu Pal Putih ke arah utara tepatnya di kawasan Jetis. Bangunan Hotel Mustokoweni menghadap ke Jalan AM. Sangaji berada di sisi timur jalan. Secara keruangan Hotel Mustokoweni terdiri dari halaman, bangunan induk, dan bangunan belakang. 


1. Halaman 

Halaman Hotel Mustokoweni terdiri dari halaman depan dan halaman sisi utara bangunan induk. Untuk memasuki Hotel ini melalui halaman depan yang berada di sisi barat bangunan induk. Sedangkan halaman sisi utara keberadaannya lebih rendah dari pada halaman depan sehingga untuk menuju halaman sisi utara harus melewati anak tangga. Halaman-halaman tersebut ditanami tanaman perindang dan tanaman hias sehingga tampak asri dan teduh. 


2. Bangunan Induk 

Bangunan induk Hotel Mustokoweni terdiri dari dua lantai, yaitu lantai atas dan lantai bawah yang dihubungkan dengan tangga pada sisi utara bangunan. Bangunan memiliki bentuk atap limasan dengan penutup atap genteng model flam. 

a. Lantai atas.  

Lantai atas bangunan memiliki ketinggian yang hampir sejajar dengan jalan raya di sebelah baratnya (JL. AM. Sangaji). Bagian paling depan merupakan ruangan tambahan yang berpenutup dinding kaca. Di sebelah selatan terdapat ruangan yang berfungsi sebagai lobby hotel. Ruangan ini awalnya merupakan bagian dari teras depan bangunan induk yang kemudian diubah fungsi menjadi lobby. Ruangan lobby ini berukuran 5,085 m x 7,82 m merupakan ruangan terbuka yang disangga dua buah pilar berukuran 42 x 42 cm. Di antara dua pilar tersebut merupakan pintu masuk ke lobby hotel. Di atas dan samping kanan maupun kiri pintu masuk terdapat tiga buah bouvenlicht berbingkai kayu berukuran 129 x 45 cm. 

Dinding ruangan sisi timur memiliki pintu berukuran 214 cm x 230 cm dan di atas pintu memiliki bouvenlicht setinggi 60 cm. Pintu tersebut memiliki daun pintu ganda. Bagian luar berupa daun pintu model krepyak, sedangkan bagian dalam berupa daun pintu kaca. 

Di antara ruang lobby dan teras sisi utara dihubungkan dengan pintu kaca berukuran 230 cm x 215 cm dan di kanan kirinya terdapat jendela kaca selebar 38 cm. Bagian lantai ruangan ini berupa lantai tegel abu-abu muka basah berukuran 20 x 20 cm. 

Bagian sisi utara ruang lobby merupakan teras terbuka berukuran 2 x 5 m yang disangga 4 buah pilar dan dinding tembok. Lantai teras ini sama dengan ruang lobby yaitu lantai tegel abu-abu muka basah berukuran 20 x 20 cm. Untuk menuju teras atas ini melalui tangga naik dari halaman sisi utara. 

Bangunan lantai atas memiliki empat buah kamar hotel di sebelah timur ruangan lobby. Di depan ruang kamar hotel terdapat teras yang membujur barat-timur selebar 2,7 m. Semula dari teras ini dapat langsung melihat panorama puncak Gunung Merapi, tetapi sekarang tidak bisa karena terhalang oleh bangunan. 

b. Lantai bawah 

Untuk memasuki ruangan lantai bawah melalui anak tangga di sisi utara bangunan. Jalan menuju ruang bawah berupa pintu lengkung. Lantai bawah memiliki dua buah ruangan yaitu ruang makan dan dapur serta ruangan galeri batik. 

1) Ruang makan dan dapur 

Ruang makan ini juga berfungsi sebagai ruang pertemuan berukuran 4,6 m x 7,6 m. Ruang ini dilengkapi dengan 4 buah pintu. Dua buah pintu masing-masing di sebelah utara sebagai pintu masuk berupa pintu kaca dan pintu penghubung di sebelah timur yang menghubungkan dengan ruangan lain. Dua buah pintu yang lain terdapat pada dinding utara berupa pintu kaca dan bouvenlicth berbentuk setengah lingkaran di atasnya. 

2) Ruangan Galeri 

Ruangan galeri yang berada di sisi timur ruang makan dan dapur membujur barat-timur berfungsi sebagai ruang display batik, barang-barang antik, dan mebel. 


3. Bangunan Belakang  

Bangunan berada di belakang bangunan induk, membujur arah barat – timur dan mempunyai atap yang terpisah dari bangunan induk berbentuk kampung berpenutup genteng flam. Bagian dinding menempel atau menyatu dengan bangunan induk. 

Bangunan ini menghadap ke utara dan terdiri dari dua buah kamar dan sebuah ruangan yang difungsikan untuk gudang. Kamar-kamar ini kemungkinan sebagai kamar pembantu yang pada masa kini disulap menjadi kamar-kamar hotel. Di depan kamar memiliki teras membujur barat-timur yang disangga tiang-tiang kayu. 

Status : Bangunan Cagar Budaya
Periodesasi : Kolonial (Belanda/Cina)
Tahun : 1920
Alamat : Jl. A.M. Sangaji, No. 72 , Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.774374° S, 110.368246° E

SK Walikota/Bupati : SK WALKOT Yogyakarta


Lokasi Bangunan Hotel Mustokoweni di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Jenis Struktur : Kolonial
Dimensi Struktur
Jenis Bangunan : Kolonial
Fungsi Bangunan : Rumah/Permukiman
Komponen Pelengkap :
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Tata Letak Dalam Ruang Kawasan : Untuk memasuki Hotel ini melalui halaman depan yang berada di sisi barat bangunan induk.
Deskripsi Fasad : Bangunan induk Hotel Mustokoweni terdiri dari dua lantai, yaitu lantai atas dan lantai bawah yang dihubungkan dengan tangga pada sisi utara bangunan. 
Deskripsi Jendela : Jendela kaca selebar 38 cm
Deskripsi Pintu : Dinding ruangan sisi timur memiliki pintu berukuran 214 cm x 230 cm dan di atas pintu memiliki bouvenlicht setinggi 60 cm. Pintu tersebut memiliki daun pintu ganda. Bagian luar berupa daun pintu model krepyak, sedangkan bagian dalam berupa daun pintu kaca. Di antara ruang lobby dan teras sisi utara dihubungkan dengan pintu kaca berukuran 230 cm x 215 cm dan di kanan kirinya terdapat jendela kaca selebar 38 cm. 
Deskripsi Atap : Bangunan Induk memiliki bentuk atap limasan dengan penutup atap genteng model flam. Bangunan berada di belakang bangunan induk, membujur arah barat-timur dan mempunyai atap yang terpisah dari bangunan induk berbentuk kampung berpenutup genteng flam.
Deskripsi Lantai : Bagian lantai berupa lantai tegel abu-abu muka basah berukuran 20 x 20 cm.
Deskripsi Kolom/Tiang : Ruangan lobby ini berukuran 5,085 m x 7,82 m merupakan ruangan terbuka yang disangga dua buah pilar berukuran 42 x 42 cm. Di antara dua pilar tersebut merupakan pintu masuk ke lobby hotel. 
Deskripsi Ventilasi : Bouvenlicht setinggi 60 cm
Deskripsi Plafon : Di atas dan samping kanan maupun kiri pintu masuk terdapat tiga buah bouvenlicht berbingkai kayu berukuran 129 x 45 cm.
Fungsi Situs : Rumah/Permukiman
Fungsi : Rumah/Permukiman
Tokoh : Madam Oemi Salamah Prawiro Negoro.  Beliau merupakan guru piano dan salah seorang pelopor perkembangan dunia mode di Yogyakarta (1931-1965). 
Peristiwa Sejarah : Hotel Mustokoweni Bangunan Hotel Mustokoweni pada awalnya merupakan rumah tinggal seorang pelukis Inggris. Bangunan ini dibangun sekitar tahun 1920, dengan menampilkan karakter arsitektur kolonial Inggris yang berbentuk bungalow.  Pada tahun 1930an, rumah ini kemudian dibeli oleh Madame Oemi Salamah Prawiro Negoro, sekembali dari Negeri Belanda.  Namun beliau tidak pernah tinggal di bangunan ini. Madame Oemi Salamah Prawiro Negoro tinggal di Jalan Diponegoro 107 (yang pada waktu itu dikenal sebagai Jalan Tugu Kulon) Yogyakarta. Beliau merupakan guru piano dan salah seorang pelopor perkembangan dunia mode di Yogyakarta (1931-1965). Selain memberikan kursus dengan metode Dankart, secara berkala menyelenggarakan peragaan busana. Sementara sebagai musisi dan guru piano, secara berkala pula menyelenggarakan konser musik dirumahnya yang sangat besar di Jl. Diponegoro 107 tersebut.  Meningkatnya kegiatan latihan dan konser menumbuhkan terbentuknya Himpunan Musik Amatir (HMA) yang tokoh-tokohnya kemudian membidani kelahiran Sekolah Musik Indonesia. Karena rumah tinggal di Jl. Diponegoro yang memiliki tujuh piano menjadi sangat ramai, kegiatan tersebut kemudian dipindahkan ke rumah Madame Oemi Salamah yang lain di Jln. AM. Sangaji 72.  Pada tanggal 17 Desember 1951, Menteri Pendidikan Pengajaran & Kebudayaan, Mr. Wongso Negoro dengan Surat Keputusan No. 35520/RAB menetapkan terhitung sejak tanggal 1 Januari 1952 di Yogyakarta didirikan Sekolah Musik dengan nama Sekolah Musik Indonesia di bawah Bagian Kesenian, Direktorat Kebudayaan, lama pendidikan lima tahun dan menunjuk pimpinan umum sekolah Musik tersebut Ir. Saparto Prawiro Negoro. Karena sekolah belum memiliki fasilitas, kegiatan sekolah diselenggarakan di rumah Ir. Saparto Prawiro Negoro yang merupakan suami Madame Oemi Salamah Prawiro Negoro. Akhir tahun 1952 SMI pindah ke Jl. Suryodiningratan 6, Yogyakarta.  Setelah tidak digunakan sebagai sekolah musik, kompleks rumah ini digunakan untuk asrama, yang kebanyakan adalah para mahasiswa dari UGM. Pada tahun 1974, atas himbauan pemerintah guna menyukseskan Konferensi PATA (Pacific Area Travel Association), Madame Oemi Salamah mendirikan Hotel Mustokoweni di rumah Jl. AM Sangaji 72 yang sebelumnya digunakan sebagai Sekolah Musik Indonesia dan asrama mahasiswa. Nama Mustokoweni diambil dari nama tokoh pewayangan yang dia perankan dalam sebuah tarian Srikandi – Mustokoweni di Belanda dalam rangka penggalangan dana korban Gunung Merapi yang meletus 1930. Sampai saat ini bangunan berlantai dua dan bergaya Indis British ini tetap menjadi hotel dengan nama Mustokoweni the Heritage Hotel serta dikembangkan sebagai galeri batik yang mempertahankan keaslian dan pewarnaan alam batik asli dengan nama Galeri Batik Jawa serta café a cup of Tugu Lor Java. Keaslian kompleks ini selain ditunjukkan dari bangunan lama serta banyaknya perabot-perabot lawasan. Selain itu juga adanya tanaman-tanaman langka seperti Pohon Kepel, Belimbing Wuluh dan pohon-pohon besar lainnya yang menjadikan halaman sebagai oase hijau di tengah kota. Di halaman dengan pohon-pohon rindang ini, berbagai kegiatan seni budaya seperti konser musik, peragaan busana, belajar membatik, pemutaran film, pameran seni hingga pasar makanan sehat Mustokoweni yang diselenggarakan secara berkala.  Ruang pusaka ini telah bertransformasi menjadi “Art, Architecture, Culinary, Design, Fashion & Heritage Space”, suatu upaya sosial budaya dan ekonomi agar cagar budaya yang dimiliki tetap lestari.  
Konteks : Kawasan Jetis Munculnya kawasan hunian di Jetis erat kaitannya dengan komunitas Belanda di Yogyakarta yang berkembang pesat pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VII. Hal tersebut juga berkaitan erat dengan makin berkembangnya lembaga-lembaga swasta antara lain pabrik-pabrik, perbankan, asuransi, perhotelan, dan pendidikan. Hal itu menyebabkan terjadinya pengembangan wilayah hunian bagi komunitas Belanda keluar dari kawasan seputar pusat kota Yogyakarta.Pada tahun 1901 pemerintah Residen Ament memutuskan untuk memperluas pemukiman Eropa yang semula terbagai dalam 9 wilayah menjadi 10 wilayah pemukiman. Khususnya pemukiman Eropa di Sayidan dipandang terlalu kecil. Ke sepuluh wilayah pemukiman Eropa itu berada di wilayah Lempuyangan, Tugu, Loji, Ngabean, Kidul Benteng Kraton, Gondomanan, Kraton, Bintaran, Pakualaman, dan Jetis. Pemukiman Eropa di Jetis merupakan pemukiman masyarakat Belanda. Pemukiman Eropa di Jetis di bagian utara berada di antara Kali Winongo di sebelah Barat dan Kali Code di sebelah Timur. Bagian barat berbatasan dengan Kali Winongo dan bagian selatan dibatasi oleh jalan besar dari Jembatan Badran di atas Kali Winongo ke timur sepanjang Tugu paal sampai dengan jembatan Gondolayu di atas Kali Code. Munculnya pemukiman Eropa di Jetis tidak lepas dari adanya kebijakan Undang-Undang Desentralisasi (Decentralisatie Wet) dari pemerintahan pusat di Batavia tahun 1903 yang mengakibatkan kota-kota di Jawa mengalami pertumbuhan dan perkembangan pesat seperti yang terjadi di Yogyakarta antara tahun 1900-1930. Dengan terbitnya undang-undang ini, maka berubahlah corak pemerintahan Hindia Belanda dari sentralisasi menjadi desentralisasi. Hal inilah yang mendasari terbentuknya sistem kotapraja (staadgemeente) yang bersifat otonom. Pada dasarnya bangunan pemukiman Eropa di Jawa bercorak Indis (perpaduan Eropa dan Jawa). Arsitektur Indis sebagai manifestasi dari nilai-nilai budaya yang berlaku pada zaman itu ditampilkan lewat kualitas bahan, dimensi ruang yang besar, gemerlapnya cahaya, pemilihan perabot, dan seni ukir kualitas tinggi sebagai penghias gedung. Perkembangan arsitektur Indis sangat kuat karena didukung oleh peraturan-peraturan dan harus ditaati oleh para penentu kebijakan. Pemerintah kolonial Belanda menjadikan arsitektur Indis sebagai standar dalam pembangunan gedung-gedung baik milik pemerintah maupun swasta. Bentuk tersebut ditiru oleh mereka yang berkecukupan terutama para pedagang dari etnis tertentu dengan harapan agar memperoleh kesan pada status sosial yang sama dengan para penguasa dan priyayi. Ciri-ciri bangunan Indis antara lain memiliki gable/gevel, menara, dormer (cerobong asap semu), tympannon (tadah angin), ballustrade, bouvenlicht (lubang ventilasi), nok acroterie (hiasan puncak atap), geveltoppen (hiasan kemuncak atap depan), windwijzer (penunjuk angin), dan ragam hias pada tubuh bangunan. Bangunan bercorak Indis di pemukiman Jetis antara lain: Hotel Phoenix, Kweekschool voor Inlander Onderwijzers (sekarang SMA 11), Hoogere Kweekschool (sekarang Kodim 0734) lengkap dengan rumah kepala sekolah dan guru,  Holandsch-Inlandsche School (sekarang SLTPN 6), dan  Princess Juliana School (sekarang SMKN 2).
Nilai Sejarah : Bangunan Hotel Mustokoweni merupakan bukti artefaktual penting bagi sejarah sekolah musik di Yogyakarta. Sekolah Musik Indonesia diselenggarakan di rumah Ir. Saparto Prawiro Negoro yang merupakan suami Madame Oemi Salamah Prawiro Negoro.
Nilai Ilmu Pengetahuan : Keberadaan bangunan ini dapat memberi sumbangsih pengetahuan mengenai konstruksi bangunan terutama mengenai struktur bangunan dari masa kolonial bergaya Indish British dengan konsep bungalow.
Nilai Pendidikan : Bangunan Hotel Mustokoweni memiliki arti penting bagi sejarah dan pendidikan karena fungsinya pernah digunakan sebagai sekolah musik, dan sebagai cikal bakal Sekolah Musik Indonesia dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Bagian Kesenian, Direktorat kebudayaan sejak tanggal 17 Desember 1951, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Pengajaran & Kebudayaan, Mr. Wongso Negoro dengan Surat Keputusan No. 35520/RAB.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Oemi Salamah Prawiro Negoro
Pengelolaan
Nama Pengelola : Oemi Salamah Prawiro Negoro