| Keterawatan | : | / |
| Dimensi Benda | : |
Panjang - Lebar - Tinggi - Tebal - Diameter - Berat - |
| Tokoh | : | Marjo Diyono |
| Peristiwa Sejarah | : | a. Bukti arkeologi dan Sejarah Pawukon Sistem penanggalan di Jawa diperkirakan muncul pada akhir masa prasejarah, ketika masyarakat Nusantara mulai mengenal berbagai tekonogi diantaranya yang berkaitan dengan bercocok tanam, cara berlayar, arah mata angin, dan astronomi. Pemahaman terhadap siklus alam yang perlangsung dalam periode tertentu menjadi penting bagi masyarakat Nusantara yang hidup dengan tradisi pertanian. Ketika itu Nenek Moyang di Nusantara mengenali berbagai masa dalam waktu tertentu, misalnya masa kasa-karo-katiga biasanya berlangsung musim kemarau atau jarang hujan. Masa kapat-kalima-kanem adalah masa mulai turun hujan. Saat itu petani mulai menggarap sawah. Masa kasapuluh-dhesta-saddha adalah masa menjelang musim kemarau atau sehabis penghujan. Pada masa itu diperkirakan masyarakat Jawa telah mengenal sistem perjalanan waktu ke dalam siklus 5 hari atau Pancawara. Sistem penanggalan menjadi lebih semarak ketika pengaruh kebudayaan Hindu Buddha masuk ke bumi Nusantara. Masuknya kebudayaan India memperkenalkan sistem kalender meskipun tidak benar-benar diketahui sejak kapan. Meskipun demikian, dari nama-nama siklus yang ada, menunjukkan akar perkembangannya. Siklus 5 hari menunjukkan pengetahuan lokal seblum masuknya penanggalan India. Casparis memperlihatkan adanya konsistensi penulisan yang tidak pernah keliru dalam penyebutan singkatan sehari-hari dalam pancawara. Hari-hari yang terdapat dalam pancawara itu adalah Pahing ( pa), Pon (po), Wagai (wa), Kaliwang(ka), dan Umanis (u). Casparis menyimpulkan bahwa pengaruh Budaya India di bumi Nusantara menyebabkan masyarakat Jawa lebih familiar dengan siklus 7 hari atau saptawara. Kemudian kaitannya dengan sistem penanggalan tahunan, menurut Darmoseotopo, dikenal dua sitem kalender pada masa HinduBudha di wilayah Indonesia, yakni sistem Tahun Saka dan Tahun Sanjaya. Pada nantinya sistem penanggalan Tahun Saka jauh lebih populer dan bertahan hingga akhir pengaruh Hindu-Budha di wilayah Nusantara.Masuknya pengaruh Agama Islam di Nusantara membawa pengetahuan astronomi yang kuat mengingat kemajuan Islam dalam mengembangkan ilmu falak untuk kepentingan relegius. Pada masa kebangiktan kerajaan-kerajaan dengan corak agama Islam, penanggalan yang digunakana oleh kerajaan memadukan kalender Saka dengan kalender Hijriyah. Penentuan perayaan-perayaan religi sangat bergantung dengan kalender Hijriyah, namun tradisi lokal yang bernapaskan budaya Jawa masih umum dilaksanakan, sehingga kalender saka masih tetap digunakan.Kesultanan Demak, Banten, dan Mataram masih menggunakan dua sistem tersebut hingga awal abad ke-17. Baru kemudian pada 1633 M, Sultan Agung (1613-1646 M) dari Kerajaan Mataram Islam merombak kedua sistem kalender tersebut dan resmi menjadi kalender Jawa yang digunakan kerajaan. Perubahan dasar yang terjadi adalah pergantian hari dan bulan dalam tahun saka dirubah menjadi nama hari dan bulan dalam tahun arab. Namun demikian hari Jawa asli yang disebut dengan pasaran, tetap dipertahankan. Munculnya pertama kali Kalender Jawa dengan perhitungan pawukon tidak diketahui dengan pasti, namun terdapat dugaan bahwa perhitungan pawukon merupakan ilmu titen manusia Jawa yang diwariskan sejak zaman sebelum Hindu hingga sekarang. Ann Kumar dalam laman resmi dari British Library menuliskan bahwa masyarakat Jawa telah memiliki sistem penanggalan wuku sejak era Shaka atau 78 tahun sebelum Masehi. Selanjutnya sebuah catatan penting lain menyebutkan bahwa perhitungan kalender Pawukondiperkirakan muncul sebelum masuknya Islam ke Nusantara. Menurut Prof. Dr. Philip Van Akkeren, sekitar abad ke-10 ditemukan prasasti yang menulis pranata mangsa, memuat perhitungan perlintangan (perbintangan) Jawa dan pawukon. Penemuan prasasti tersebut bersanding dengan kalender India yang yang memakai tarikh perhitungan bulan (lunar). Hal ini menunjukkan bahwa fungsi perhitungan tradisional Jawa Kuno sama pentingnya dengan kalender dari India, digunakan untuk membantu kegiatan pertanian. Prasasti tersebut ditulis dengan huruf Jawa kuno.Pawukon merupakan budaya asli masyarakat Indonesia yang dipergunakan dan mengakar secara turun-temurun. Bukti sejarah dan arkeologi mengenai pawukon secara otentik muncul dalam sejumlah prasasti dari masa Mataram Kuna. Meskipun prasastiprasasti tersebut hanya dibuat oleh pemerintah kerajaan yang berkuasa pada masa tersebut, namun hal itu cukup membuktikan bahwa tradisi pawukon sudah digunakan pada masyarakat luas. Prasasti Lintakan (12 Juli 919 M) menerangkan bahwa pawukonsudah digunakan sebagai dasar perhitungan untuk menyelengaraan upacara ruwatan atau upacara penolak bala para raja. Tradisi ruwatan untuk raja dalam Prasasti Lintakan, sekaligus menjadi bukti bahwa kedudukan seorang ahli pawukon memiliki arti yang strategis dalam pemerintahan kerajaan. Prasati Cane (27 Oktober 1021) merupakan salah satu contoh prasasti yang memiliki penanggalan paling lengkap. Penanggalan yang terdapat pada prasasti tersebut, jika dihitung ulang melalui metode perhitungan wuku dengan konsep neptu yang sudah ditetapkan oleh R. Baratakesawa maka dapat dibuktikan bahwa Prasati Cane dimaklumatkan pada hari Jum’at, pasaran wage, dengan wuku landep. Unsur wuku landep tersebut ternyata juga disebutkan di dalam penanggalan prasasti tersebut. Dengan demikian terbukti bahwa penghitungan wuku yang terdapat dalam Prasasti Cane tersebut adalah benar, dan pemilihan hari Jum’at pasaran wage yang ditetapkan untuk memaklumatkan hari penerbitan prasasti dipilih bukan pada hari was wuku landep yang jatuh pada hari Rabu pasaran pahing. Berdasarkan keterangan dari 2 buah prasasasti tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan pawukon dalam penanggalan Jawa telah berlangsung sejak masa Mataram Kuno. Bahkan pada masa pemerintahan Raja Dyah Tulodhong yang berkuasa di kerajaan Medang (898 – 910), ahli pawukon telah menduduki posisi yang penting di kerajaan tersebut. Keberadaan pawukon beserta dengan ahlinya memiliki peranan yang besar dalam perjalanan kehidupan masyarakat Jawa pada masa lalu. Hal tersebut berlangsung hingga sekarang.b. Sejarah dan Pelesatarian Papan SangatanSama halnya dengan pawukon yang tidak diketahui kapan ditemukannya, maka papan sangatan juga tidak diketahui asal mula keberadaannya. Diduga, penggunaan papan sangatan berkembang ditengah masyarakat Jawa bersama dengan penggunaan pawukondalam sistem Kalender Jawa. Ilmu pawukon merupakan ilmu titenwarisan nenek moyang yang dipelajari oleh sedikit orang yang dianggap sebagi sesepuh adat yang dihormati dalam masyarakat Jawa. Hingga saat ini Pawukon masih relevan dipergunakan oleh masyarakat pendukungnya hampir di seluruh Indonesia terutama di sepanjang pulau Jawa, Madura, Bali, Lombok. Pawukon digunakan masyarakat Indonesia sebagai dasar perhitungan mengenai pranata mangsa (tata waktu). Pada masa lalu imu-ilmu pawukon ditulis ke dalam manuskripmanuskrip kuno. Diantaranya adalah 6 buah manuskip pawukonJawa yang dikumpulkan pada abad ke-19, saat ini masih tersimpan di Perpustakaan Universitas Lejden Belanda. Museum Negeri Sonobudoyo saat ini juga menyimpan 76 koleksi yang berupa teks pawukon. Salah satu koleksi dari teks pawukon tersebut diprakarsai oleh Sultan HB V yang ditulis pada tahun 1846. Pawukon bersandar pada konsep astronomi dan membaginya menjadi 30 wuku. Akar kata pawukon adalah wuku, yaitu dalam kalender Jawa dikenal sebagai waktu dari minggu ke minggu. Lama satu wuku adalah 7 hari, terhitung dari hari Minggu ke Sabtu. Lain dengan usia bulan atau tahun, yang bisa berubah-ubah, usia wuku itu selalu sama, yakni 7 hari tadi. Banyaknya wuku adalah 30 yang masing masing adalah wuku Sinta (1), Landep (2), Wukir (3), Kurantil (4), Tolu (5), Gumbreg (6), Warigalit (7), Warigagung (8), Julung Wangi (9), Sungsang (10), Galungan (11), Kuningan (12), Langkir (13), Mondosio (14), Julung Pujud (15), Pahang (16), Kuruwelud (17), Mrakeh (18), Tambir (19), Madangkungan (20), Maktal (21), Wuye(22), Manail (23), Prangbakat (24), Bala (25), Wayang (26), Wugu(27), Kulawu (28), Dukut (29), dan Watugunung (30).Seperti yang dijelaskan di dalam uraian di atas, papan sangatanmemiliki ukiran utama sebuah tabel yang terdiri dari 30 buah kolom sebagai wuku dan 7 buah baris sebagai hari yang berlangsung dalam seminggu. Ukiran tabel wuku ini ternyata merupakan ukiran pokok yang ditemukan pada semua papan sangatan yang ditemukan di Gunungkidul. Bagi seorang ahli pengitung wuku, papan sangatanmerupakan satu kesatuan dengan pawukon Jawa. Melalui rumus tertentu, papan sangatan memiliki arti penting sabagai alat bantu hitung wuku. Hasil dari perhitungan yang bersifat rahasia (yang hanya diketahui oleh pemilik sangatan itu sendiri) salah satunya bisa menghasilkan sebuah neptu. Dalam numerologi Jawa, neptu merupakan angka gaib yang memiliki jumlah tertentu. Seorang ahli penghitung wuku bisa menjelaskan makna wuku dari neptu yang dimiliki oleh sesorang. Meskipun papan sangatan yang ditemkuan di suatu daerah memiliki ukiran yang berbeda dengan daerah yang lain, namun hasil perhitungan wuku tetaplah sama. Hasil penghitungan wuku, kemudian diikrarkan ke dalam bentuk nasihat untuk menghindari hal-hal tertentu agar terhindar dari bahaya dan sebaliknya nasib baik didapatkan bagi masayarakat yang membutuhkan. Catatan otentik yang berkaitan dengan papan petung atau sangatan pertama kali diungkapkan oleh Ir. J.L. Moens yang dipublikasikan pada tahun 1939 dalam majalah Djawa terbitan Java Instittut. Berdasarkan catatan Moens, papan petung yang dimiliki oleh seorang informan dari daerah Nglipar – Gunungkidul, disebut sebagai sangat. Jika ditelusuri dari kamus Bahasa Jawa Kuno, kata sangat memiliki arti : saat, waktu, bagian dari (sehari dibagi dalam 5 saat, masing masing diberi nama para nabi atau malaikat); waktu (saat) yang terbaik untuk mengawinkan mempelai. Dalam bahasa Jawa, akhiran –an dalam sangatan, merupakan penjelasan sebagai kata benda yang bisa di beri makna alat. Meskipun kata sangatanhanyalah sebutan lokal untuk masyarakat Gunungkidul (setempat), namun sangatlah tepat apabila papan tersebut disebut sangatan. Karena faktanya papan sangatan digunakan untuk menghitung waktu.Berkaitan dengan papan sangatan ini, lebih jauh Moens menjelaskan bahwa sangat tersebut dimiliki oleh seorang yang beragama Islam tetapi melakukan praktik sinkretisme. Menurut data yang diperoleh Moens, papan sangatan digunakan untuk mengetahui hari baik dan buruk yang dilalui sesorang. Papan petung dapat membantu memecahkan masalah untuk mengetahui keberuntungan atau kesialan pada suatu hari. Moens mengungkapkan pandangannya mengenai kebudayaan Jawa yang meyakini bahwa kekuatan magis juga berasal dari penghitungan matematika yang kuat. Berdasarkan penjelasan Moens maka dapat ditarik kesimpulan bahwa papan sangatan merupakan sebuah alat yang dimiliki oleh ahli penghitung wuku yang sangat penting dan masih digunakan masyarakat Gunungkidul pada awal abad ke-19. Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta merupakan salah satu instansi yang sudah melakukan pengumpulan benda-benda berupa papan penanggalan dari seluruh Indonesia yang sejenis dengan papan sangatan. Benda-benda tersebut diperkirakan dikumpulkan sejak awal pendirian museum. Berdasarkan catatan dari Museum Sonobudoyo, terdapat 18 buah. Papan penanggalan tersebut masih belum memiliki penamaan yang spesifik, karena berasal dari beberapa daerah yang berbeda, termasuk tika yang berasal dari Bali. Pada tahun 2019, Museum Sonobudoyo mengadakan pameran temporer yang bertema Astronomi Nusantara. Melalui kegiatan tersebut diterbitkan buku katalog berjudul Angkasa Raya Ruang dan Waktu. Ayu Dipta Kirana, Salah satu penulis dari Buku tersebut mengangkat tema yang berkaitan dengan papan sangatan. Pada makalahnya beliau menyebut sebagai papan petung. Kirana cukup jelas menjelaskan semua hal yang berkaitan dengan papan penanggalan tersebut. Namun Kirana tidak menjelaskan bahwasanya di daerah Gunungkidul papan penanggalan tersebut disebut sebagai sangatan.c. Sejarah Papan Sangatan milik Marjo DiyonoBerdasarkan penjelasan Marjo Diyono, papan sangatan miliknya merupakan benda warisan keluarga yang diturunkan sebanyak 5 generasi. Berikut adalah keterangan beliau berkaitan dengan silisilah pewaris papan sangatan tersebut : Wonodongso (mbahUdhek-udhek) → Wonojoyo (mbah buyut) → Wonoreso (mbah canggah) → Wonokerto (kakek/mbah kakung) → Sinokaryo (Bapak) → Marjo Diyono.Sebagai pewaris papan sangatan, beliau menguasai penggunaan alat tersebut sekaligus bisa menjelaskan pawukonnya. Marjo Diyono mengakui bahwa ilmu tersebut beliau dapatkan sebagai warisan dari orang tuanya yang bernama Sinokaryo. Bila sesorang menanyakan sebuah waktu atau saat yang tepat untuk mengadakan hajatan, dengan tangkas beliau menghitung wuku melalui papan sangatantersebut. Pada tahun 2017 Marjo Diyono memperoleh penghargaan Pelestari Adat Sangatan atau Petung Jawa Tradisional oleh Pemerintah Daerah Yogyakarta. |
| Nilai Sejarah | : | Sebagai bukti bahwa pada masa lalu di Indonesia pernah ada Kalender Jawa yang menggunakan sistem Pawukon. Sistem tersebut saat ini masih tetap digunakan, meskipun terbatas di wilayah pedesaan. |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Masyarakat Jawa pada masa lalu telah mengenal astrologi atau ilmu perbintangan yang digunakan dalam sebuah kalender tahunan. |
| Nilai Pendidikan | : | Sebagai bahan pembelajaran utk generasi muda tentang ilmu astrologi, yaitu ilmu astrologi atau ilmu perbintangan yg dimanfaatkan utk kegiatan tertentu, pawukon melalui media papan sangatan merupakan ilmu perbintangan tradisional yg digunakan utk menghitung hari baik sebuah kegiatan. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Marjo Diyono |
| Alamat Pemilik | : | Padukuhan Manggung, Kelurahan Ngalang, Kapanewon Gedangsari, Gunungkid |
| Riwayat Kepemilikan | : |
| Nama Pengelola | : | Marjo Diyono |
| Catatan Khusus | : | terdapat dua papan sangatan. Papan sangatan 1Pada bagian atas terdapat 3 baris tabel. Dengan ciri: 2 baris atas terdiri dari 12 kolom, 2 baris dibawahnya terdiri dari 8 kolom.Pada Bagian tengah terdapat Tabel dengan dimensi : 30 kolom X 7 baris.Pada bagian bawah terdapat 30 kolom dalam 1 baris yang panjang yang berukir titik titik dengan jumlah yang teratur. Bentuk ukuran baris memanjang ke bawah hingga ke tepi papan, sementara lebarnya mengikuti kolom diatasnya (kolom pada tabel yang di tengah papan) Ukuran Papan Sangatan 1 : Panjang papan : 40 cmLebar papan : 20,5 cmTebal : 1 cmPanjang pegangan : 3,5 cmLebar pegangan : 2,5 cm. Papan sangatan 2Papan sangatan 2 memiliki ukuran lebih kecil dari papan sangatn 1. Pada bagian permukaan terdapat ukiran tabel yang berisi : 5 buah kolom dan 7 buah baris. Menurut penjelasan Marjo Diyono, tabel tersebut bermakna Sangatan 5 waktu dalam sehari, dimulai dari ahad atau minggu. Kolom merupakan waktu dalam sehari ( 5 waktu) sementara baris adalah jumlah hari dalam seminggu (7 hari). Pada bagian baris memiliki arti yang sesuai gambarnya adalah : Kosong adalah rahayu, titik adalah pluweng, tanda silang adalah Sri, garis miring ke kanan adalah carik, dan terakhir tanda lebih besar (>) adalah gigis atau gunung. Ukuran Papan Sangatan 2 :Panjang : 20 cmLebar : Atas : 9,5 cmBawah : 11 cmTebal : 1 cmPanjang pegangan : 8 cmLebar pegangan atas : 4 CmLebar Pegangan bawah : 3 cm.Pada tahun 2017, Marjo Diyono memperole penghargaan Pelestari Adat Sangatan atau Petung Jawa Tradisional oleh Pemerintah Daerah Yogyakarta.Dalam kondisi terawat, baik dan masih digunakan Bapak Marjo Diyono untuk menghitung jatuhnya wuku sesorang |