Loading

Deskripsi Singkat

Pasar Ngalang merupakan Pasar Pemerintah yang berada di tepi Jalan Raya Sambipitu – Nglipar. Pasar tersebut memiliki arah hadap ke barat. Batas-batas Geografis Pasar Ngalang adalah sebagai berikut : jalan desa pada sisi utara, Kantor Pemerintah Desa Ngalang pada sisi timur, makam Desa Ngalang pada sisi selatan, dan Jalan Raya Nglipar – Sambipitu pada sisi barat. 

Karena topografi tanah yang tidak rata, maka Pasar Ngalang dibangun di atas permukaan tanah yang berundak seluas 2.080 m². Tanah yang berundak tersebut berjumlah 2 yang meninggi ke sisi belakang pasar atau arah timur. Masing-masing undakan tersebut membentuk sebuah plataran atau bidang tanah datar yang berfungsi sebagai halaman. Tangga yang terbuat dari semen menjadi penghubung ke setiap plataran atau halaman pasar tersebut. Akses masuk menuju pasar melalui 2 buah tangga pada sisi depan dan 3 pintu pada sisi utara. 

Halaman pertama Pasar Ngalang terdiri atas sejumlah kios kayu yang tidak permanen dan sejumlah los pasar yang dibuat dari bahan semen cor. Pada halaman kedua terdapat sejumlah los pasar yang 3 diantaranya berupa los besi. 3 Buah los besi yang terdapat di halaman ketiga disebut sebagai Los B1, B2, dan B3. Los-los besi tersebut merupakan bangunan cikal bakal Pasar Ngalang yang dibuat oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada masa sebelum kemerdekaan.

Seperti umunya los pasar besi buatan Kolonial, los besi Pasar Ngalang memiliki bentuk dan bahan yang sama. Bentuk los besi yang dimaksud adalah berbentuk terbuka dengan atap bertipe kampung. Bentuk atap tersebut dalam ilmu arsitektur disebut dengan model atau istilah modular, yaitu struktur bangunan dengan material utama dari besi pabrikan yang disusun sedemikan rupa membentuk sebuah bangunan berupa los pasar.

Posisi 3 los besi Pasar Ngalang berada ditengah halaman ke-2 Pasar. Disekeliling 3 los besi tersebut terdapat bangunan lain yaitu kioskios pada sisi utara, serta los cor pada sisi timur dan selatan. Seluruh los besi memiliki denah persegi dengan ukuran yang sama, denganrincian Los B1 dan B2 berhimpitan sementara los B3 terpisah sejauh 389 cm dari los B2. Bentuk bangunan dari semua los besi adalah sebagai berikut : 

1. Batur 

Batur los besi Pasar Ngalang merupakan bidang yang ditinggikan 30 cm dari permukaan halaman pasar. Luas batur tersebut adalah 3,20 meter x 16,20 meter. Permukaan batur tersebut saat ini ditutup dengan keramik warna putih berukuran 30 x 30 cm. Bentuk permukaan keramik yang asli semula merupakan lantai yang ditutup dengan tegel berukuran 25 cm x 25 cm namun kemudian di timpa atau ditutup dengan permukaan lantai yang baru. Bekasnya masih terlihat beberapa bagian dinding batur yang terkelupas. (lihat Foto)

2. Umpak

Umpak sesungguhnya merupakan penambahan konsolidasi tiang atau perkuatan kaki di atas batur. Menurut keterangan dari Dinas Pengelolaan Pasar, pembangunan umpak pada dasarnya merupakan hasil rehabilitasi los pasar yang terjadi pada masa pasca kemerdekaan. Penampahan umpak pada bangunan los pasar bisa terjadi, karena dalam perkembangannya los pasar mengalami penurunan kekuatan tiang sebagai penyangga yang menyebabkan ketidakstabilan pada bagian atap. Penambahan umpak menyebabkan kekuatan tiang pada bagian kaki menjadi lebih kuat. Umpak los Pasar Ngalang memiliki bentuk trapesium terpenggal dengan ketinggian 85 cm dia atas permukaan batur. Lebar dasar umpak adalah 84 cm sementara lebar bagian atas 44 cm.

3. Struktur penyangga atap

Struktur penyangga atap los besi Pasar Ngalang menggunakan tiang tunggal yang berjajar sejumlah 5 Struktur tiang dan kudakuda merupakan satu kesatuan. Struktur semacam ini dalam Ilmu arsitektur disebut dengan struktur modular. Struktur ini merupakan pabrikan yang masing-masing komponen memiliki bentuk ukuran yang sama sehingga bisa dibongkar pasang dengan sistem mur baut dan pelat baja sebagai panel pengikat (pengunci). Struktur atap berupa kuda-kuda yang menyatu dengan tiang besi rangkap berjajar 5 baris  Ke 5 kuda-kuda tersebut diikat dengan nok dan blandar. Nok dan blandar berfungsi untuk menumpu komponen usuk dan reng. Sistem ikatan dari masing-masing komponen tersebut menggunakan mur baut dan pelat baja. Material kerangka struktur bangunan semua menggunakan material besi profil “C”, siku “L”, dan “H” atau “I”. Seluruh permukaan konstruksi baja ditutup dengan cat warna cokelat. Pada beberapa bagian besi baja berprofil “U” terdapat tulisan HOESCH NP8. (Lihat foto) 

4. Penutup atap

Atap ditutup dengan genteng merk “Nur Sokka”. Pada bagian bubungan atau wuwung ditutup dengan bahan semen krepus. Seluruh reng menggunakan material kayu, sementara usuk terdiri dari usuk besi dan usuk kayu. Kayu yang digunakan pada usuk dan reng tersebut diduga merupakan material pengganti hasil rehabilitasi pasar pada masa pasca kemerdekaan. Penggantian usuk dan reng dengan material kayu mengikuti bentuk genteng sokka yang memiliki ukuran lebih besar dan lebih panjang. 

Halaman pasar ngalang seluruhnya ditutup dengan pasangan pavingblok. Secara keseluruhan bangunan los besi Pasar Ngalang berada dalam keadaan terawat.

Status : Bangunan Cagar Budaya
Periodesasi : Kolonial (Belanda/Cina)
Alamat : Padukuhan Ngalang, RT 03, RW X, Ngalang, Gedangsari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.88327054871° S, 110.57563573562° E

SK Walikota/Bupati : KepBup Nomor 208/KPTS/2020


Lokasi Los Pasar Ngalang di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Komponen Pelengkap :
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Deskripsi Atap : Bentuk atap tersebut dalam ilmu arsitektur disebut dengan model atau istilah modular, yaitu struktur bangunan dengan material utama dari besi pabrikan yang disusun sedemikan rupa membentuk sebuah bangunan berupa los pasar.Kayu yang digunakan pada usuk dan reng tersebut diduga merupakan material pengganti hasil rehabilitasi pasar pada masa pasca kemerdekaan. Atap ditutup dengan genteng pengganti merk “Nur Sokka”.
Deskripsi Lantai : Permukaan batur tersebut saat ini ditutup dengan keramik warna putih berukuran 30 x 30 cm. Bentuk permukaan keramik yang asli semula merupakan lantai yang ditutup dengan tegel berukuran 25 cm x 25 cm namun kemudian di timpa atau ditutup dengan permukaan lantai yang baru
Deskripsi Kolom/Tiang : Penamnahan umpak pada bangunan los pasar terjadi karena dalam perkembangannya los pasar mengalami penurunan kekuatan tiang sebagai penyangga yang menyebabkan ketidakstabilan pada bagian atap.
Peristiwa Sejarah : a. Sejarah Pasar Kolonial di YogyakartaPasar atau marketplace merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi. Secara etimologi, istilah “pasar” berasal dari bahasa Persia yakni bazaar yang maknanya pasar tertutup. Pasar telah dikenal sejak lama, hal itu dapat diketahui dalam Prasasti Pagumulan (abad ke-5), maupun ditunjukan dalam sumber artefaktual lainnya seperti yang terdapat dalam salah satu relief di Candi Borobudur. Pasar terus berkembang seiring dengan semakin pesatnya perdagangan terutama sejak abad ke-16. Hanya saja pasar tidak lantas secara spesifik merujuk pada infrastruktur bangunan tertutup tempat penjual dan pembeli melakukan transaksi. Kebanyakan pasar merupakan ruang terbuka atau open-air space dan bersifat sementara dalam arti tanpa perlu bangunan permanen. Pasar dapat diselenggarakan di pinggir jalan, tengah kota atau kampung, di bawah pohon rindang, bahkan di sungai seperti yang banyak didapati di Kalimantan. Terkait dengan hal tersebut, Pasar Ngalang memiliki makna historis yang penting karena merupakan bangunan pasar permanen yang didirikan sejak masa kolonial. Secara historis pasar sebagai infrastruktur permanen terutama yang berada di Yogyakarta berkaitan dengan dua hal : Pertama, secara umum, keberadaan pasar yang dibangun di pusat kerajaan merupakan wujud dari konsep catur tunggal kota kerajaan. Berdasar konsep ini, pasar merupakan salah satu pilar—berserta masjid, alun-alun dan penjara—yang melengkapi keberadaankeraton. Oleh sebab itu, keberadaan pasar tradisional dengan bentuk bangunan permanen yang saat itu dikenal sebagai Pasar Gede (Kota Gede) telah hadir sebagai elemen penting dalam pembangunan keraton Mataram Islam. Pasca Perjanjian Giyanti 1755, baik Kasultanan Yogyakarta maupun Kasunanan Surakarta melanjutkan konsep ini, dengan demikian keduanya sama-sama membangun pasar di sekitar istana sebagai perwujudan konsep catur tunggal, yakni Pasar Beringharjo di Yogyakarta; dan Pasar Gede di Solo. Selain menjadi penanda simbolis-filosofis sebuah kota kerajaan, pasar di Yogyakarta juga bersifat fungsional sebagai pusat aktifitas ekonomi. Kedua, pasar merupakan bagian penting untuk mempromosikan “komersialisme” dan “modernitas” pada masa kolonial. Dalam hal ini, pemerintah kolonial bukan hanya membangun lebih banyak pasar hingga menjangkau wilayah-wilayah di luar pusat kota, namun juga memperbaiki arsitektur bangunan pasar sehingga menjadi bangunan modern. Oleh karena itu, desain pasar mengacu pada standar yang dimiliki oleh pemerintah kolonial, namun juga tetap memperhatikan kebiasaan cara berdagang masyarakat sekitar. Sehingga mendapatkan bentuk bangunan dengan struktur modern namun tanpa dinding pelingkup yang menutup bangunan, hal ini menyesuaikan kebiasaan warga masyrakat yang hanya berjualan pada hari tertentu. Sehingga mereka tidak memerlukan bangunan yang tertutup untuk menyimpan barang yang mereka bawa untuk diperdagangkan, karena mereka akan membawa kembali barang dagangannya.Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 37, tanggal tanggal 15 Juli 1873, pasar harus memiliki Loods (bangsal, yang diadopsi menjadi los dalam Bahasa Indonesia). Pasar dari masa kolonial, terutama yang dibangun pada awal abad ke-20, memiliki bentuk yang relatif seragam yakni berupa bangunan terbuka dengan atap yang ditopang oleh kerangka besi. Adapun material berupa besi digunakan untuk menggantikan struktur kayu yang lazim dipakai dalam arsitektur tradisional. Kebutuhan material besi diproduksi oleh perusahaan besar seperti NV. Braat Surabaya, dan Gutehoffnungshütte (GHH) Munchen Jerman, adapun untuk pembangunan turut dikerjakan oleh sejumlah perusahaan konstruksi seperti N.V Construtie Atelier Der Vorstenlanden Djokjakarta (CAV). Material besi pada bangunan pasar kolonial digunakan untukmemperkuat kesan modern. Penggunaan loods atau los juga ditujukan untuk menciptakan ruang yang lebih luas, tidak tersekat sekat, sehingga dapat menampung lebih banyak orang maupun barang, sekaligus memfasilitasi interaksi yang lebih longgar. Penggunaan loods atau los juga diarahkan untuk menggantikan bango (warung kecil) yang cenderung mengokupasi banyak ruang namun untuk peruntukan yang terbatas karena hanya dimiliki oleh segelintir orang saja.b. Sejarah Pasar Ngalang GedangsariInformasi yang berkaitan dengan sejarah Pasar Ngalang diperoleh dengan cara wawancara dengan Bapak Supri Hardono (71 tahun). Bapak Supri Hardono adalah orang yang dituakan di Desa Ngalang. Beliau pernah menjabat sebagai Perangkat Desa Pasar Ngalang. Berdasarkan keterangan beliau, Pasar Ngalang didirikan pada tahun 1928. Informasi tersebut merupakan cerita yang diperolehnarasumber dari ayah beliau yang bernama Selamet Noto Sudarno (lahir 1917). Menurut Bapak Supri lebih lanjut, bangunan asli Pasar Ngalang terdiri atas 3 buah los besi yang masih berada di tempatanya atau insitu hingga saat ini.Berkaitan dengan rehabilitasi yang terjadi di Pasar Ngalang, menurut penjelasan Bapak Supri adalah sebagai berikut : - Pada Tahun 1978 terjadi penambahan umpak pada los pasar besi. Semula bangunan los besi Pasar Ngalang tidak memiliki umpak, namun karena alasan keamanan ketika rehab pada bagian atap (terjadi ketidakstabilan), maka pada bagian tiang diperkuat dengan umpak.- Pada tahun 2014 lantai batur yang semula dibuat dari tegel berwarna abu-abu, di rehabilitasi menjadi lantai keramik berwarna putih berukuran 30 cm x 30 cm.
Riwayat Rehabilitasi : Berkaitan dengan rehabilitasi yang terjadi di Pasar Ngalang, menurut penjelasan Bapak Supri adalah sebagai berikut :Pada Tahun 1978 terjadi penambahan umpak pada los pasar besi. Semula bangunan los besi Pasar Ngalang tidak memiliki umpak, namun karena alasan keamanan ketika rehab pada bagian atap (terjadi ketidakstabilan), maka pada bagian tiang diperkuat dengan umpak.Pada tahun 2014 lantai batur yang semula dibuat dari tegel berwarna abu-abu, di rehabilitasi menjadi lantai keramik berwarna putih berukuran 30 cm x 30 cm.  
Nilai Sejarah : Los besi Pasar Ngalang memiliki nilai sejarah yang tinggi karena berhubungan dengan perkembangan perekonomian desa, khusunya bidang perdagangan di pasar pada masa kolonial abad XIX-XX Masehi di wilayah Gunungkidul. Pasar Nglipar merupakan salah satu peninggalan pasar tradisional yang mengalami modernisasi pada masa kolonial yang masih bertahan hingga saat ini.Memberikan bukti tentang aktivitas pasar tradisional pada masa itu di Gunungkidul.
Nilai Ilmu Pengetahuan : Bangunan pasar (fisik/ tangible) berguna sebagai obyek kajian untuk ilmu-ilmu seperti teknik sipil, arsitektur, dan arkeologi. Sedangkan secara intangible, pasar menjadi obyek pembelajaran tentang perkenomian pada masyarakat yang mencakup kegiatan jual-beli. Kegiatan bertemunya penjual dan pembeli dalam sistem pasar tradisional mengandung berbagai kegiatan diantaranya : silaturahmi, gotong royong, musyawarah dan lain sebagainya.Memberikan informasi tentang model konstruksi dan arsitektur bangunan pasar modern di Gunungkidul pada masa kolonial. Struktur dan konstruksi besi baja yang berkembang pada masa kolonial masih digunakan masyarakat hingga sekarang.Menunjukkan pada masyarakat bahwa penggunaan material baja lebih tahan lama dibandingkan material kayu.Memberikan informasi tentang aktivitas pasar tradisional pada masa itu di Gunungkidul.Memberikan informasi tentang dugaan peningkatan pendapatan melalui pajak yang ditarik dari pedagang pasar oleh Pemerintahan Belanda pada abad XIX-XX.Memberikan informasi bahwa masyarakat Jawa telah mengenal sistem perdagangan modern, yaitu perdahangan yg tdk berpindah- pindah, tp sdh mulai menetap.Merupakan cikal bakal bangunan portable dan knock down yg sangat dikenal sekarang, seperti bangunan terminal yg portable
Nilai Pendidikan : Memberikan informasi bahwa masyarakat Jawa memiliki sistem penanggalan (pasaran) yang dimanfaatkan untuk kegiatan perekonomian.Menjadi obyek pembelajaran tentang kehidupan sosial ekonomi yang terjadi pada masa sebelum kemerdekaan.
Nilai Budaya : Bangunan los besi Pasar Nglipar menyimpan berbagai informasi budaya yang berkaitan dengan interaksi sosial budaya masyarakat yang terjadi sejak masa kolonial dan masih berlangsung hingga saat ini.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Pemerintah - Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gunun
Alamat Pemilik : Jl. Brigjen Katamso No.1, Purbosari, Wonosari, Kec. Wonosari, Kabupate
Nomer Kontak : 089643747256
Pengelolaan
Nama Pengelola : -
Persepsi Masyarakat : sebagai tempat jual-beli
Catatan Khusus : Koordinat SK : UTM 453221.783E 9128582.974N 49MLuas Los Pasar Ngalang : 2080 m²Luas denah Batur dan atap los B1, B2 dan B3 sama, yaitu :Luas Denah Batur 16 m x 3 m = 48 m²Luas denah atap 18 m x 5 m = 90 m²Tinggi 3,73 m